Bung Jaya:

Maksud kalimat yang saya tulis itu sederhana yaitu,
meski saya tertarik untuk berdiskusi tentang status
ke-PKI-annya Pram, tapi saya lebih tertarik lagi untuk
berdiskusi ttg sejarah peran Pram. Karena sekarang
ini, sejarah peran Pram telah ter-edit atau -malah-
telah di-edit.

Karena itu saya cenderung untuk memfokuskan diskusi
pada soal sejarah peran Pram di dunia
sastra/kebudayaan di Indonesia.

AB

--- FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah, saya kok kurang setuju dengan paragraf pertama
> dari
> Bung Anies. PAT bukan sekedar simpatisan. Sebagai
> orang
> yg berkiprah di kebudayaan di mana kebudayaan masih
> mendapat
> tempat yang layak, peranan PAT sebagai corong partai
> tentu
> saja menonjol. Hak politik seseorang tidak boleh
> digeber 100
> persen karena kita masih harus menghormati hak orang
> lain.
>
> Di sinilah letak masalah dari keberadaan PKI sebagai
> partai.
> Mungkin sejarah kita dibelokkan oleh orde baru,
> tetapi tidak
> dijungkir-balikkan. Dari buku-buku terlihat
> keagresifan partai
> yang diwujudkan ke dalam poster-poster besar di
> jalan-jalan
> mengenai tuntutan mempersenjatai buruh dan tani
> sebagai
> angkatan kelima. Bagaimana gambaran petani dan buruh
> yang
> sangar dalam poster-poster tsb menunjukkan bagaimana
> menakutkannya sepak terjang partai ini. Sudah jelas
> langkah
> ini ingin men-fotokopi revolusi di Rusia itu.
>
> Bincang yg dilakukan saat ini, dengan sedikit contoh
> dari
> keagresifan beberapa partai saat ini sedikit banyak
> dapat
> dijadikan tolok ukur keadaan di masa pra 1965.
> Penyerangan
> mahasiswa yg sedang kuliah oleh organisasi mahasiswa
> di
> bawah payung PKI juga sering diceritai. Intimidasi,
> bujukan,
> muslihat dengan mendaftarkan nama orang yang tidak
> tahu menahu sebagai anggota partai mungkin bukan
> monopoli
> PKI. Namun cerita-cerita demikian, yang bukan hanya
> dari kalangan
> ORBA, menjadikannya too much to be ignored.
>
> Saya rasa, pencarian pijakan baru bagi para generasi
> muda
> harus dijaga jangan sampai mengulangi kesalahan di
> masa lalu.
> Untuk itulah, belajar dari sejarah sangat penting.
> Kata orang, adalah
> wajar untuk berbuat kesalahan, tetapi terperosok di
> lubang yang
> sama katanya dapat digolongkan stupid. Jangan sampai
> kemuakan
> terhadap ORBA diwujudkan dengan menghidupkan kembali
> musuh ORBA. Toh awalnya ORBA kan berusaha mewujudkan
> keinginan sebagian besar masy. Ind. Bila dalam
> perjalanannya
> ternyata banyak penyelewengan, itu lain soal.
>
> Untuk itulah, walaupun dengan dasar yang berbeda,
> saya sangat
> setuju dan sependapat dengan paragraf kedua dari
> Bung Anies
> di bawah ini.
>
> Sedikit tanggapan buat Bung Budi. Komunisme saya
> rasa tidak
> pernah dibutuhkan, baik saat sekarang, maupun saat
> pertama kali
> dikembangkan. Komunisme dan Leninisme memang secara
> kebetulan
> diperlukan untuk menumbangkan monarki rusia. Tetapi
> itu lebih
> sebagai tragedi daripada titik awal yg perlu
> dirayakan. Lebih banyak
> mudarat daripada manfaat.
>
> Salam,
> Jaya
>
>
> '----------------------------------
> Anies Baswedan wrote:
>
> > Salam,
> > Bagi saya pribadi persoalannya bukanlah komunisme,
> > kapitalisme etc. Seperti dalam kasus Pramoedya,
> bahwa
> > Pram simpatisan PKI itu adalah hak politiknya Pram
> dan
> > hak politiknya jutaan bangsa Indonesia lainnya.
> Saya
> > rasa ini penting untuk diklarifikasi.
> >
> > Pertanyaan yang saya ajukan adalah mengapa
> Pramoedya
> > hanya dinilai eksistensi dan perannya setelah
> tahun
> > 1966? Bagaimana dengan eksistensi dan peran
> Pramoedya
> > masa pra-1966? Adilkah penilaian macam ini?
> >
> > Salam, AB
> >
> > --- Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Kalau nggak salah ingat, di awal-awal tahun lalu
> > > milis permias pernah
> > > mendiskusikan 'aliran-aliran' komunisme,
> > > kapitalisme, liberalisme,
> > > sosialis, dll. Cukup rame dibahas dan cukup
> > > komprehensive informasi yang
> > > diulas. Banyak sekali rekan-rekan yang jago soal
> > > 'aliran-aliran' tsb.
> > > Hingga (kalau tidak salah) sampai pada tahap
> > > pemahaman bahwa
> > > masing-masing 'aliran' tsb exist karena memang
> > > diperlukan dan sesuai
> > > pada jamannya dan sesuai dengan situasi dan
> kondisi
> > > di wilayahnya. Bukan
> > > lagi memperdebatkan 'aliran' ini baik dan
> 'aliran'
> > > itu berbahaya, dst...
> > > dst...
> > >
> > > Kalau ada rekan yang masih punya koleksi file
> > > diskusinya barangkali akan
> > > membantu memberikan pandangan lain soal
> > > 'aliran-aliran' tsb kaitannya
> > > dengan diskusi Pak Pram ini.
> > >
> > > Salam,
> > > Budi
> >
>
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)
>
>
<HR>
<!doctype html public "-//w3c//dtd html 4.0
transitional//en">
<html>
Wah, saya kok kurang setuju dengan paragraf pertama
dari
<br>Bung Anies. PAT bukan sekedar simpatisan. Sebagai
orang
<br>yg berkiprah di kebudayaan di mana kebudayaan
masih mendapat
<br>tempat yang layak, peranan PAT sebagai corong
partai tentu
<br>saja menonjol. Hak politik seseorang tidak boleh
digeber 100
<br>persen karena kita masih harus menghormati hak
orang lain.
<p>Di sinilah letak masalah dari keberadaan PKI
sebagai partai.
<br>Mungkin sejarah kita dibelokkan oleh orde baru,
tetapi tidak
<br>dijungkir-balikkan. Dari buku-buku terlihat
keagresifan partai
<br>yang diwujudkan ke dalam poster-poster besar di
jalan-jalan
<br>mengenai tuntutan mempersenjatai buruh dan tani
sebagai
<br>angkatan kelima. Bagaimana gambaran petani dan
buruh yang
<br>sangar dalam poster-poster tsb menunjukkan
bagaimana
<br>menakutkannya sepak terjang partai ini. Sudah
jelas langkah
<br>ini ingin men-fotokopi revolusi di Rusia itu.
<p>Bincang yg dilakukan saat ini, dengan sedikit
contoh dari
<br>keagresifan beberapa partai saat ini sedikit
banyak dapat
<br>dijadikan tolok ukur keadaan di masa pra 1965.
Penyerangan
<br>mahasiswa yg sedang kuliah oleh organisasi
mahasiswa di
<br>bawah payung PKI juga sering diceritai.
Intimidasi, bujukan,
<br>muslihat dengan mendaftarkan nama orang yang tidak
<br>tahu menahu sebagai anggota partai mungkin bukan
monopoli
<br>PKI. Namun cerita-cerita demikian, yang bukan
hanya dari kalangan
<br>ORBA, menjadikannya too much to be ignored.
<p>Saya rasa, pencarian pijakan baru bagi para
generasi muda
<br>harus dijaga jangan sampai mengulangi kesalahan di
masa lalu.
<br>Untuk itulah, belajar dari sejarah sangat penting.
Kata orang, adalah
<br>wajar untuk berbuat kesalahan, tetapi terperosok
di lubang yang
<br>sama katanya dapat digolongkan stupid. Jangan
sampai kemuakan
<br>terhadap ORBA diwujudkan dengan menghidupkan
kembali
<br>musuh ORBA. Toh awalnya ORBA kan berusaha
mewujudkan
<br>keinginan sebagian besar masy. Ind. Bila dalam
perjalanannya
<br>ternyata banyak penyelewengan, itu lain soal.
<p>Untuk itulah, walaupun dengan dasar yang berbeda,
saya sangat
<br>setuju dan sependapat dengan paragraf kedua dari
Bung Anies
<br>di bawah ini.
<p>Sedikit tanggapan buat Bung Budi. Komunisme saya
rasa tidak
<br>pernah dibutuhkan, baik saat sekarang, maupun saat
pertama kali
<br>dikembangkan. Komunisme dan Leninisme memang
secara kebetulan
<br>diperlukan untuk menumbangkan monarki rusia.
Tetapi itu lebih
<br>sebagai tragedi daripada titik awal yg perlu
dirayakan. Lebih banyak
<br>mudarat daripada manfaat.
<p>Salam,
<br>Jaya
<br>
<p>'----------------------------------
<br>Anies Baswedan wrote:
<blockquote TYPE=CITE>Salam,
<br>Bagi saya pribadi persoalannya bukanlah komunisme,
<br>kapitalisme etc. Seperti dalam kasus Pramoedya,
bahwa
<br>Pram simpatisan PKI itu adalah hak politiknya Pram
dan
<br>hak politiknya jutaan bangsa Indonesia lainnya.
Saya
<br>rasa ini penting untuk diklarifikasi.
<p>Pertanyaan yang saya ajukan adalah mengapa
Pramoedya
<br>hanya dinilai eksistensi dan perannya setelah
tahun
<br>1966? Bagaimana dengan eksistensi dan peran
Pramoedya
<br>masa pra-1966? Adilkah penilaian macam ini?
<p>Salam, AB
<p>--- Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
<br>> Kalau nggak salah ingat, di awal-awal tahun lalu
<br>> milis permias pernah
<br>> mendiskusikan 'aliran-aliran' komunisme,
<br>> kapitalisme, liberalisme,
<br>> sosialis, dll. Cukup rame dibahas dan cukup
<br>> komprehensive informasi yang
<br>> diulas. Banyak sekali rekan-rekan yang jago soal
<br>> 'aliran-aliran' tsb.
<br>> Hingga (kalau tidak salah) sampai pada tahap
<br>> pemahaman bahwa
<br>> masing-masing 'aliran' tsb exist karena memang
<br>> diperlukan dan sesuai
<br>> pada jamannya dan sesuai dengan situasi dan
kondisi
<br>> di wilayahnya. Bukan
<br>> lagi memperdebatkan 'aliran' ini baik dan
'aliran'
<br>> itu berbahaya, dst...
<br>> dst...
<br>>
<br>> Kalau ada rekan yang masih punya koleksi file
<br>> diskusinya barangkali akan
<br>> membantu memberikan pandangan lain soal
<br>> 'aliran-aliran' tsb kaitannya
<br>> dengan diskusi Pak Pram ini.
<br>>
<br>> Salam,
<br>> Budi
<br><a href="http://mail.yahoo.com"></a> </blockquote>

<p>--
<br>
\\\|///
<br>
\\  - -  //
<br>
(  @ @  )
<br>------------oOOo-(_)-oOOo-----------
<br>FNU Brawijaya
<br>Dept of Civil Engineering
<br>Rensselaer Polytechnic Institute
<br><A
HREF="mailto:[EMAIL PROTECTED]">mailto:[EMAIL PROTECTED]</A>
<br>--------------------Oooo------------
<br>           oooO
(   )
<br>          (
)      ) /
<br>           \ (
(_/
<br>
\_)
<br> </html>




_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke