Salam!
Perdebatan soal Pramoedya Ananta Toer memaang tak pernah habis. Begitu juga
dengan keberadaan Pram di USA sekarang. Saya dan Anies Baswedan sangat
berbeda pendapat mengenai pandangan soal Pram. Karena isu Pram masih sangat
aktual dan bung Rosadi mem-FWD polemik itu di sini, mungkin teman-teman juga
punya pemikiran lain. Saya sendiri masih belum membalas postingan Anies
terakhir, dan hanya masalah waktu saja.
Sembari menyiapkan jawaban atas Anies Baswedan, saya menunggu komentar
kawan-kawan semua.
Salam,
ramadhan pohan
# # # #
Subj: [imaam] Fwd: Re: [bincang] Respon thdtulisan Ramadhan Pohan [ Re:
Prahara Budaya ( Re:bertanya pada sejarah)]
Date: 4/13/99 4:17:31 AM !!!First Boot!!!
From: [EMAIL PROTECTED] (Mohammad Rosadi)
Reply-to: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Postingan Ke III ttg Pramoedya Ananta Toer
======================================================================
>From: Anies Baswedan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [bincang] Respon thdtulisan Ramadhan Pohan [ Re: Prahara
Budaya ( Re:bertanya pada sejarah)]
>Date: Sun, 11 Apr 1999 15:04:19 -0700 (PDT)
>
>Salam,
>
>Kalau memang Pram punya kartu "as" kenapa harus
>menunggu sidang pengadilan, apalagi Pram sendiri sadar
>bahwa pengadilan sering tidak adil. Buka saja kartu
>"as" itu, toh dunia akan bisa menilai. Kalau memang
>yang dikatakan Pram itu benar -bahwa kalangan manifest
>kebudayaan akan menjadi malu- ya sederhana saja
>tunjukan kartu "as" itu. Tapi saya pikir persoalannya
>bukan masalah menuntut dan saling balas. Masalahnya
>adalah penyebaran dan pemahaman sejarah/peran Pram
>yang secara sepotong-sepotong.
>
>Kalau soal membayangkan penyiksaan, saya malah ingin
>tanya, pernahkah anda merasakannya? pernahkah
>menjalani proses interograsi yang menyakitkan itu?
>pernahkah dijemput dinihari dan diintereogasi di
>tempat yang tak jelas? pernahkah membawa pulang
>aktivis yang luluh lantak seluruh ototnya karena
>setrum, yang hancur kupingnya dan keropos rahangnya
>karena dihantam papan kayu terus menerus? Maaf
>Ramadhan ... karena saya diminta untuk merenungkan
>(membayangkan), maka dengan terpaksa saya harus
>menjawab: saya tidak perlu membayangkan, saya sudah
>menjalaninya sendiri.
>
>Itu semua adalah kebiadaban orde baru yang dialami
>oleh beratus ribu bangsa Indonesia, bukan cuma dialami
>oleh Pramoedya Ananta Toer. Terlalu panjang daftar
>korban kebiadaban politik orde baru dan orde lama.
>Tidak ada satu alasanpun yang bisa membenarkan
>kebidaban itu dan InsyaAllah generasi kita tidak akan
>memperpanjang daftar itu !!!
>
>Persoalan dengan Pram itu sederhana, dengan segala
>hormat dan salut atas karya sastra-nya saya bertanya:
>haruskah kita menghapus sejarah sepak terjang Pram
>pada masa Pra-1966?
>
>Saya rasa tulisannya Ramadhan itu benar -tapi tidak
>lengkap- yaitu Pram adalah asset bangsa Indonesia.
>Seharusnya kita proporsional dan adil dalam
>menempatkan Pram, yaitu dengan mengatakan bahwa Pram
>adalah asset dan liability bangsa Indonesia.
>
>Sekali lagi, kita perlu proporsional terhadap Pram.
>Kalau kita mau mengakui kehebatannya, mengapa kita
>tidak mau membaca kekurangannya? Ini bukan masalah
>balas dendam, untuk apa? toh kita tidak pernah
>ditindas oleh Pram. Ini juga bukan karena Pram
>bersimpati pada PKI, bukankah itu hak politiknya Pram
>dan jutaan orang Indonesia lain yang harus dihargai.
>
>Ini adalah masalah sejarah. Ini adalah masalah
>kejujuran kita dalam membaca sejarah. Kalau kita tidak
>siap untuk jujur pada sejarah, jangan-jangan kita
>nantinya juga akan menghilangkan kebiadaban politik
>orde baru hanya karena Suharto sudah dicaci maki dan
>"diinjak-injak" secara massal. Seperti halnya Jepang,
>mengutip artikel yang saya forward kemarin, haruskah
>dunia menghapus sejarah kebidaban tentara jepang
>karena bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima dan
>Nagasaki? Kebiadaban tentara jepang adalah sebuah
>fakta yang tidak bisa dihapuskan dari sejarah, seperti
>halnya peledakan bom atom. Lalu, haruskah kita menilai
>peran jepang itu hanya dengan mengamati peran Jepang
>sesudah tahun 1945? Nah, disinilah kita diuji untuk
>jujur, komplet dan adil dalam membaca sejarah.
>
>Melihat peran Pram selama Pra-1966 saya sulit untuk
>mengatakan Pram itu memiliki komitmen pada kebebasan
>berekspresi. Meskipun Pram sudah disiksa dan ditahan
>di pulau Buru, tapi tulisan, perkataan dan perbuatan
>Pram sudah terlanjur jadi sejarah aktivitas sastra di
>Indonesia. Sejarah yang bisa dilupakan tapi tidak bisa
>dihilangkan.
>
>Karena alasan itulah dalam menilai ttg Pram kita tidak
>boleh menghilangkan sejarah. Dalam hubungannya sebagai
>sesama manusia kita perlu melupakannya, tapi dalam
>menilai peran Pram, apalagi saat menakar bobotnya
>sebagai kandidat penerima hadiah Nobel maka saya
>selalu berpendapat bahwa Pram itu tidak lahir di tahun
>1966. Pram harus dinilai sejak Pram mulai menulis
>pertama kali hingga karya paling akhir. Atau,
>tegasnya, Pram itu punya sejarah pra-1966, tapi
>mengapa masa pra-1966 tidak perhitungkan dalam menilai
>Pram? adilkah itu?
>
>Karena itu, Ramadhan keliru besar dengan mengatakan
>bahwa saya menyerukan untuk memusuhi dan menghujat
>Pram. Mengapa Ramadhan harus menganggap fakta-fakta
>masa lalu Pram itu sebagai hujatan dan permusuhan?
>Apakah karena saya kritis pada sejarah dan masa lalu
>Pram lalu saya dianggap menyebarkan permusuhan dan
>menghujat Pram? (Kok mirip gaya tuduhannya Orba)
>Bukankah fakta-fakta itu justru akan membebaskan kita
>dari jebakan penilaian yang dogmatik? Apakah karena
>fakta itu pahit, lalu kita emoh mengetahui dan
>mempertimbangkannya? Apakah karena Pram sudah disiksa
>oleh aparatus Orde Baru lalu dengan sendirinya
>fakta-fakta itu harus musnah?
>
>Sebagai bangsa Indonesia, saya memang ingin sekali
>nama dan label bertuliskan Indonesia terukir dalam
>deretan penerima hadiah nobel. Mudah-mudahan suatu
>saat nobel sastra atau Pulitzer itu diterima oleh
>sastrawan dan jurnalis Ramadhan Pohan. Tapi sebagai
>umat manusia biasa, saya tidak bisa membaca sejarah
>Pram yang di-edit, sejarah Pram yang hanya dimulai di
>tahun 1966.
>
>Novel-novel pram itu memang luar biasa, tapi bukankah
>hadiah nobel itu adalah pencerminan dari keseluruhan
>karya sastranya, bukan cuma novel-novelnya? lebih jauh
>lagi, bukankah hadiah nobel itu merupakan cermin
>kontribusi seseorang pada pengembangan sastra?
>Bagaimana mungkin saya mendukung penganugerahan hadiah
>nobel pada figur yang pernah secara sadar dan
>jelas-jelas berperan besar dalam membungkam kebebasan
>berekspresi? Ramadhan, yang mengatakan ttg peran Pram
>dalam pembungkaman itu bukan surat edaran Opsus bukan
>pula laporan intelejen. Yang mengatakan itu bukan kaum
>oportunis.
>
>For the sake of argument, katakanlah yang diungkapkan
>oleh Pram itu benar yaitu kalangan manifest kebudayaan
>itu juga punya dosa sastra, apakah itu berarti
>pembungkaman kebebasan berekspresi yang dilakukan oleh
>Pram itu bisa dibenarkan? Saya rasa tidak ! Saya bisa
>merasakan dan bersimpati pada penderitaan Pram dan
>jutaan bangsa Indonesia yang diperlakukan secara
>biadab oleh kekerasan politik orde baru. Tapi saya
>juga tidak berminat untuk menghapuskan sejarah
>kekerasan yang dikerjakan oleh Pram dan Lekra.
>Sebagaimana saya tidak berminat menghapuskan fakta
>sejarah kekerasan politik Orde Baru. Saya ingin
>menilai Pram secara komplet, adil dan proporsional:
>Pram sudah berkiprah jauh sebelum dia dikirim ke Pulau
>Buru.
>
>Dan, saya tidak ingin menghalalkan segala cara,
>diantaranya dengan sengaja menghilangkan fakta sejarah
>peran Pram di masa pra-1966, semata-mata supaya nama
>Indonesia terukir di daftar penerima hadiah nobel.
>
>Ramadhan, inilah yang mendorong saya untuk mengatakan
>bahwa Pram bukanlah seorang sastrawan atau budayawan
>atau humanis sejati yang berkaliber Nobel. Saya
>mendukung supaya Pram supaya diberi kekebasan untuk
>terus berkarya, supaya dihormati sebagai sastrawan dan
>pada saat yang sama saya mendukung keputusan untuk
>tidak memberi Nobel Sastra pada Pram. Karena saya
>menilai komitmen dia pada kebebasan berkarya tidak
>ada. Ramadhan, pada saat seseorang sedang dianiaya
>maka ia akan mudah sekali menjadi seorang idealis dan
>humanis, tapi ujian komitmen idealisme itu justru
>terjadi ketika seseorang sedang berkuasa.
>
>Karena itu saya menilai komitmen Pram itu jauh dibawah
>Mochtar Lubis, yang juga selalu dipenjara baik oleh
>Belanda, Jepang, Orde Lama maupun Orde Baru. Muchtar
>Lubis meski dimusuhi oleh Pram dan dipenjara saat Pram
>masih berkuasa, tapi ketika Pram sudah ditahan ke
>pulau Buru maka Mochtar Lubis-lah yang datang
>mengunjungi Pram di pulau Buru. Dan Muchtar Lubis pula
>yang dikemudian hari memberinya hadiah sebuah mesin
>ketik. Muchtar Lubis tidak bisa membebaskan Pram,
>tidak satupun figur non-jenderal TNI-AD bisa
>membebaskan Pram. Tapi Muchtar Lubis menunjukan
>simpati, solidaritasnya dan lebih jauh lagi, kemudian
>setelah Pram ke Jakarta, Muchtar Lubis memberi mesin
>ketik supaya Pram bisa terus berkarya. Luar biasa,
>Pram jadi nampak kecil dibandingkan Mochtar Lubis.
>Mochtar Lubis memang pantas menerima penghargaan
>Magsaysay!
>
>Apalagi bila Pram dibandingkan dengan Alexandre
>Solzenitzyn yang emoh kompromi dan jadi antek
>kekuasaan Uni Soviet untuk propaganda politik dan
>konsekuensinya harus menderita di Siberia dan
>menghasilkan Gulag Archipelago hingga akhirnya meraih
>Nobel Sastra. Hadiah Nobel sastra itu menuntut lebih
>dari sekadar novel, hadiah nobel adalah wujud kerja
>besar sastra, komitmen pada kemajuan sastra dan pada
>kebebasan berekspresi.
>
>Ramadhan, pemenjaraan tanpa proses pengadilan itu
>tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Baik itu yang
>menimpa Muchtar Lubis, Hamka, Sutan Takdir ataupun
>Pramoedya ataupun ribuan bangsa kita. Sekali lagi, itu
>harus selalu ditentang. Pemberangusan karya sastra
>seperti yang dilakukan oleh Orde Baru maupun oleh
>Lekra, harus dicegah dan ditentang.
>
>Saya sedih mendengar penderitaan Pram, sebagaimana
>saya sedih mendengar penderitaan Buya Hamka dan
>keluarganya selama Buya penjara, dan penderitaan
>jutaan keluarga yang sanak saudaranya dibantai oleh
>kaum berseragam dari bangsanya sendiri. Sayapun
>bahagia ketika membaca sejarah bahwa Buya Hamka bebas
>sambil membawa naskah tafsir Al-Qur'an yang ditulis
>semasa di tahanan, sebagaimana saya bahagia ketika
>membaca sejarah bahwa Pram bebas dengan menghasilkan
>beberapa naskah novel hebat yang behasil diloloskan
>dari pulau Buru.
>
>Sayapun terharu ketika melihat rumah Pram di kota
>kecil Blora yang penuh tanda-tanda ketidakmajuan,
>tandus dan gersang. Rumah yang saat itu jadi tempat
>pengajian Ranting Muhammadiyah. Tapi pada saat yang
>sama saya tegaskan pada diri sendiri untuk menilai
>sejarah tanpa harus larut dalam emosi yang
>sentimentil.
>
>Kita perlu berani dan jujur. Berani dan Jujur dalam
>membaca sejarah. Tidak cuma sejarah manis yang kita
>baca, tapi juga yang pahit dan menyakitkan. Lalu
>berjanji untuk tidak mengulangi kebiadaban yang
>menyakitkan itu dengan memulainya dengan menilai
>sejarah (masa lalu) secara jujur, komplet, dan adil.
>
>Bila ada kata yang salah, mohon saya diberi maaf,
>semoga bisa diampuni.
>
>AB
>
>
>--- [EMAIL PROTECTED] wrote:
>> Salam,
>> Untuk ''melihat kebenaran yang lebih terang'' Pram
>> mengatakan pada saya agar
>> siapa pun yang ingin bertanya mengenai dirinya--
>> dipersilahkan maju. Termasuk
>> siapa pun ''Para Peneken Magsaysay". Pram seperti
>> sudah capek. Lalu
>> menyangkut "dosa-dosa politik dan dosa-dosa
>> sastrawannya"-- Pram cenderung
>> memilih jalur pengadilan. Walau Pram sendiri ragu
>> pada pengadilan Indonesia--
>> pengalaman pribadi bung Pram banyak memperlihatkan
>> itu. Nah yang jadi
>> pertanyaan, kenapa Bapak Taufik Ismail dkk tidak
>> melakukan itu, "menghajar
>> Pram lewat pengadilan?''.
>> Bung Pram sendiri sebenarnya punya "kartu as"-- yang
>> jika dibuka di
>> pengadilan dipastikan mempermalukan para penganjur
>> Manifes Kebudayaan. Itu
>> penilaian saya dari percakapan dengan bung Pram,
>> Sabtu.
>>
>> Lama-lama saya pikir boleh juga himbauan terbuka
>> bung Pram ini. Di pengadilan
>> nantinya akan terkuak pelbagai misteri ''benda dan
>> mahluk ide'' apa bung
>> Pram itu. Sekaligus siapa di belakang Manikebu dan
>> dosa-dosa mereka juga.
>>
>> Anies betul bahwa kita memang harus lengkap membaca
>> Pram-- kalau mau meneliti
>> Pram. Tatapi Anies, pernahkah Anda merenungkan
>> penderitaan Pram? Kepalanya
>> dihajar hingga dia budek sampai sekarang? Rumahnya
>> dengan dokumen lengkap
>> dirampas Orde Baru? Ditahan di Pulau Buru tanpa
>> proses pengadilan? Apakah
>> fakta ini harus kita lupakan? Begitu juga dengan
>> larangan buku-buku dia?
>> Perampasan dan pemusnahan hak dia sebagai pengarang
>> itu? Pram sudah dibunuh
>> Orde Baru-- tapi Pram tidak mati-mati. Padahal itu
>> kan aset dan kekayaan
>> Indonesia?
>>
>> Taroklah Pram pernah melakukan kesalahan. Kekerasan
>> fisik dan pelecehan dan
>> penghancuran kemanusiaan Pram-- apakah juga kita
>> sahkan? Kita sah menganiaya
>> Pram karena dia dianggap kiri? Kita boleh menghantam
>> Pram-- karena dia adalah
>> Pram?
>>
>> Saya cemas terhadap peradaban kita. Kita sudah
>> terbiasa dengan teror. Atas
>> nama HAM kita ingin menghantam kemanusiaan Pram?
>> Atas nama hukum dan
>> kezaliman ORBA yang "gila stabilitas" (yg penuh semu
>> itu)-- maka Pram harus
>> kita berangus? Tolong Anies-- doakan juga agar
>> generasi kita tidak menjadi
>> lebih sirik, lebih barbar. Mestinya Anies dkk datang
>> kepada Pram, berdiskusi
>> bebas dengan tangan pertama. Dengarkan juga
>> penderitaan dia-- disamping
>> seruan yang ada agar memusuhi dan menghujat Pram.
>>
>> Jika Pram berdosa pada masa Lekra-- SAYA MENOLAK
>> jika kita lantas membalasnya
>> dengan pemenjaraan dan penahanan tanpa proses hukum
>> Pram selama satu
>> dasawarsa di Pulau BUru. Saya menolak kezaliman
>> (apakah orang-orang Orba
>> mempunyai hati nurani? Mempunyai agama? Mempunyai
>> kemanusiaan yang
>> menghormati hukum? Saya ragu itu semua-- bahkan
>> perilaku kita terhadap Pram
>> sudah menjurus menjauhi ajaran agama kita atau
>> antara lain lewat sunnah Rasul
>> sendiri.
>>
>> Bahkan jika Pram seorang pembunuh-- dengan asosiasi
>> dan korban siapa pun--
>> saya menolak jika itu harus dibalas dengan
>> pembunuhan dan penghancuran
>> kemanusiaan Pram sendiri. Pram sekeluarga sudah
>> hancur-- tapi alhamdulillah
>> Allah SWT masih tetap melindungi keluarga Pram.
>> Bertanya jugalah kalian pada
>> Ibu Hajjah Maimunah Thamrin-- isteri Pram itu.
>> Tanyakan pada ibu yang tua,
>> renta dan penuh penderitaan ini apakah hukuman
>> kalian dan segala orang-orang
>> Orde Baru sudah cukup atau kurang atau bagaimana?
>>
>> Melihat Pram sebagai sastrawan. Belum ada orang
>> Indonesia mana pun sekaliber
>> Pram-- kecuali Si Binatang Jalang yang ''Mau hidup
>> seribu tahun lagi'' itu'
>> Pram nyaris dapat Nobel. Bukan karena "Prahara
>> Budaya"-- tetapi lebih karena
>> intrik dan kezaliman kita. Ternyata kemanusiaan kita
>> sangatlah memihak dan
>> selektif. Karena kita seolah-olah menyetujui bahwa
>> Pram memang harus
>> dikebiri, dihabisi dan ddi lembah terhina saja.
>> Astagfirullah... Betapa
>> palsunya wajah kami, ya Allah.
>>
>> Sampai kapan pun kita tidak akan pernah menjadi
>> dewasa!
>>
>> Salam,
>> ramadhan pohan
>> (bukan lekra bukan manikebu)
>