Kalau menunggu wahyu, ini sama saja dengan pendekatan "top-down". Sekarang
reformasi sedang bergerak "bottom-up".
Perihal mendapatkan wahyu untuk menjadi pemimpin, ini khas ajaran feodalisme
lama. Bukan hanya terdapat dalam budaya Jawa, tapi ini juga sangat mirip
dengan Eropa di Abad Pertengahan sewaktu dipimpin raja-raja dan para ksatria
(knights and chivalries) yang berkolusi dengan para rohaniwan yang menjadi
penghubung dunia "atas" dan dunia "bawah".
Budaya seperti ini selalu dipakai sebagai salah satu alat Suharto untuk
melanggengkan kekuasaan. Tidak heran jika kemudian banyak melahirkan kaum
penjilat dan tukang cari muka:
"Jilat ke atas, menginjak ke bawah, meludah ke depan, kentut ke belakang,
sambil sikut kiri dan kanan"
Dengan dibudayakannya cara pandang "top-down" seperti ini, para bawahan
(bawah=down) diharuskan berorientasi ke atas (top), supaya mendapatkan aliran
sinar biru itu. Semua bawahan jadi manggut-manggut jika sang atasan berbicara
atau memberikan keterangan. Atau cengar-cengir seperti kuda jika sang atasan
sedang melucu yang tidak lucu. Betul-betul mematikan pemikiran-pemikiran
kreatif. Memang benar-benar ajaran beberapa abad yang lalu....
Rgds,
Alexander Lumbantobing