Barusan saja Wahyu lewat didepan saya :)
peace,
-Blucer-
Alexander Lumbantobing wrote:
>
> Kalau menunggu wahyu, ini sama saja dengan pendekatan "top-down". Sekarang
> reformasi sedang bergerak "bottom-up".
>
> Perihal mendapatkan wahyu untuk menjadi pemimpin, ini khas ajaran feodalisme
> lama. Bukan hanya terdapat dalam budaya Jawa, tapi ini juga sangat mirip
> dengan Eropa di Abad Pertengahan sewaktu dipimpin raja-raja dan para ksatria
> (knights and chivalries) yang berkolusi dengan para rohaniwan yang menjadi
> penghubung dunia "atas" dan dunia "bawah".
>
> Budaya seperti ini selalu dipakai sebagai salah satu alat Suharto untuk
> melanggengkan kekuasaan. Tidak heran jika kemudian banyak melahirkan kaum
> penjilat dan tukang cari muka:
>
> "Jilat ke atas, menginjak ke bawah, meludah ke depan, kentut ke belakang,
> sambil sikut kiri dan kanan"
>
> Dengan dibudayakannya cara pandang "top-down" seperti ini, para bawahan
> (bawah=down) diharuskan berorientasi ke atas (top), supaya mendapatkan aliran
> sinar biru itu. Semua bawahan jadi manggut-manggut jika sang atasan berbicara
> atau memberikan keterangan. Atau cengar-cengir seperti kuda jika sang atasan
> sedang melucu yang tidak lucu. Betul-betul mematikan pemikiran-pemikiran
> kreatif. Memang benar-benar ajaran beberapa abad yang lalu....
>
> Rgds,
>
> Alexander Lumbantobing