Blucer Rajagukguk wrote:

> FNA: lebih enak lagi punya anak yang baik, tidak sombong lagipula
> pintar, seperti si boy. Memang enak ngobrol sama pemimpi yang pengennya
> ideal terus :)

Lho jelas tho. Mesti berusaha ideal. Lha wong udah gitu aja masih ada
pelencengannya kok.

> FNA: Lho, siapa yang nyuruh kabur? Justru di Indonesia masih lebih enak,
> wong dimana-mana enggak dikasih visa, mau kabur kemana. Paling-paling
> kerumahnya Nelson Mandela. Dengan tetap tinggalnya pak harto dicendana,
> pengadilan yang tersendat-sendat, bukti telepon habibie-ghalib, keluarga
> masih bergerak dinamis, ini tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Pak Harto
> itu tidak kualat dan masih menjadi penguasa sebenarnya pemerintah
> sekarang.

Hehe....justru itu kan menjawab pertanyyan anda sendiri sebelumnya.
Banyak negara-negara yang sangat open, enggak susah ngasih visa,
apalagi buat yg orang kaya. Lha macam Brazil apa nggak mau ngasih?
Wong penjahat Nazi aja bisa slamet. Kurang apa sih para intel Israel, tetep
aja para penjahat nazi tetap aman tentram tuh. Apalagi hubungan Indo
dengan negara-negara latin itu ya nggak ada apa-apanya. Jadi negara-
negara tsb ndak akan rugi banyak kalau RI mau nuntut deportasi. Cuek
ajah.....

> > > FNU:
> > Weleh...kepriben ini oom. Latar belakang argumennya bagaimana ini? Hopo
> > iya 80 juta orang waswas ndak makan? Mosok iya Pak Harto nggak was-was
> > keluar rumah. Kalau menurut akal saya (ndak tahu sehat atau tidak) Suharto
> > akan sangat was-was untuk keluar rumah. Kita ndak bicara bayar-membayar
> > rasa was-was kan?
> FNA: 80 juta orang ini potensial terpuruk pendapatannya dan digolongkan
> sebagai 'orang miskin' yang saya ekstrimkan istilahnya sebagai
> orang-orang yang was-was tidak bisa memenuhi makannya dengan memadai.
> Tanpa menuduh akal mas Jaya sehat atau tidak, saya berani jamin tidak
> ada secuil hatipun buat Pak Harto untuk was-was keluar rumah.
> Sekali lagi yang was-was keluar rumah sekarang ini di Indonesia cuma
> penduduk ambon dan sambas.

Lha masih diekstrimkan kok dibilang was-was. Penuturan orang-orang di
daerah-daerah kok masih adem ayem saja tuh. Memang kondisi saat ini
payah, tapi perubahannya nggak drastis. Jadi di lapisan bawah sih biasa-
biasa saja. Ndak was-was. Yang was-was kan peringkat atas saja.

> FNA: Justru ini yang saya binun'. Gimana kalau tanya pak Harto langsung,
> kenapa dia belum berhenti pada saat dia telah mendapatkan semuanya.

Itu kan yg disesalkan banyak pihak. Dua penyebab yg selama ini ditampilkan
ya lingkaran dalam yg akan rugi kalau Pak harto turun, dan juga karena
Mbak Tut sama Mas Bambang sedang latihan bisnis dan berhasil. Perlu
waktu lebih lama lagi buat mengembangin bisnisnya. Jadi kalau Suharto
sudah terima 5 tingkat kepuasan. Yang belum kan para anak-anaknya
dan para pejabat termasuk Akbar Tanjung sama Adi Sasono yang
sekarang teriak-teriak kebakaran jenggot itu. Dasar kelompok ABS dan
PUAS TIPUAD (punya uang abang disayang, tidak punya uang abang
ditendang) ya gitu itu...... Bener-bener rai gedhek......

> FNA: Yang saya rasakan dan amati pengikut Soeharto tetap banyak,
> terutama dari partai-partai yang muncul dan banyak kasus yang terjadi.
> Jangan-jangan malah mas jaya yang ngamatinya pake kacamata rayban :)
> Membandingkan kepedihan bung karno dan pak harto tidak relevan dari
> mana? apa mas jaya sendiri yang punya buku relevan...Orang membandingkan
> PD I dan PD II, saja tetap ok walaupun jamannya beda. Mas jaya ada bakat
> diktator lho, kok pake intruksi cuma Yuni Shara saja yang cuma boleh
> bilang pedih :)). Soal nikmat bukan cable saja, banyak orang makan tanpa
> cabe akan kurang nikmat.

Hehehe...... menurut saya Suharto sudah finish. Anda mesti lebih melihat
ke peran BJH dan Akbar Tanjung serta Adi Sasono. Mereka sudah siap
membuat trah baru. Bukan di bawah Suharto lagi. Jadi sudah bukan
dinasti Ming lagi, tapi sudah dinasti Cing. Gito lho.....eh, Gitu lho....
Jadi anda yg pake kacamata rayban. Kalau saya pake lensa night owl,
nembus cak..... Hehehe.......

> FNA: Lho siapa yang bilang saya seneng sama bung Karno? Memangnya saya
> homo, kalau seneng sama dewi soekarno itu mungkin.
> Mas jaya baru bangun tidur yach?

Alaa.....mungkir ah. Kemaren bilang demen ama Bung Karno. Ngapain juga
demen sama Dewi Sukarno, kalau masak empal sudah mesti direndam
di air tujuh malem. Wis alot cak......

> Lho yang kita omongin khan persis kondisi KKN di Indonesia yang juga
> enggak ada ujung pangkalnya. Atau masalah keturunan Cina dan pribumi
> yang juga enggak ada ujung pangkalnya. Lagipula benda yang memiliki
> ujung pangkal juga enggak seberapa :)

Masak sih nggak seberapa? Jangan bikin generalisasi gitu ah...

> Pipis bareng-bareng yuk, tapi jangan deket-deket nanti disangka anak
> muridnya Joop Ave lagi:)

Ndak mau..... kalau bareng Cameron Diaz sih mau....


Salam,
Jaya
--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke