analisa Anda bagus sekali!

setuju!

FNU Brawijaya wrote:
>
> Mungkin Bung Alex tidak perlu membaca secara leterlek...
> Memang sulit bagi anda untuk memahami budaya penuh perlambang
> yang dianut oleh sebagian masy. kita. Pada jaman modern ini, yang
> dimaksud tidak mempunyai wahyu adalah tidak mempunyai tanda-tanda
> kepemimpinan.
>
> Buat Bung Blucer, kalau mau memimpin 30 tahun dan kaya lalu dimaki
> 200 juta orang apa mau? Sekarang gini aja, apa sih pemikiran orang yang
> sudah tua, yg sudah mau mati? Tentu keselamatan keturunannya kan?
> Suharto saat ini sudah terhukum oleh rasa was-was bagaimana anak-cucu-
> nya nanti. Saat ini mungkin masih banyak yg merasa kasihan dengan sosok
> tua yang disamping banyak dosa kepada rakyat, tetapi juga punya jasa
> kan? Kalau sudah meninggal, siapa yg dapat menjamin keselamatan anak
> cucunya.
>
> Lagipula ya.... mari kita bicara tentang Maslow deh....
> Suharto sudah punya kelima-limanya. Di akhir senjanya justru dia kehilangan
> satu buah (atau dua buah) yaitu pengakuan dan pencapaian. Sejelek-jeleknya
> seorang pemimpin, apa tidak ingin dikenang sebagai pahlawan, atau orang
> yang berjasa buat negara. Yang inilah yang saat ini hilang dari rengkuhan
> Suharto. Selama 10 tahun pertama tidak ada yg tidak mengakui kepiawaian
> dia. Siapa nyana 20 tahun kemudian semua pencapaiannya hilang.
> Pengakuan sebagai bapak pembangunan juga menjadi bahan ejekan...
>
> Apakah sudah selesai? Belum.... nak-anake belum beres.
> Makanya...menurut saya, saat inipun Suharto sudah terhukum. Dan masih
> akan menerima jenis hukuman lain. Ini yang dimaksud dengan KUALAT.
> Hukuman masyarakat lebih pedih dari hukuman penjara. Apalagi kalau
> menerima keduanya.
>
> Eh, Ini terlepas dari bagaimana dia memperoleh kekuasaan. Ken Arok saja
> (yg diledekin terus oleh CW) di akhir hayatnya dikenang orang kerajaannya
> sebagai orang terhotmat. Dari sekedar Tumapel menjadi Singasari yang
> besar. Padahal anake rampok, ngerebut bini orang, bunuh bos-nya, toh
> masih dapat pengakuan dan pencapaian. Siapa yang meledek Ken Arok?
> Paling CW. Kalau nasib Suharto?
>
> Salam,
> Jaya
>
> ------------------------
> Alexander Lumbantobing wrote:
>
> > Kalau menunggu wahyu, ini sama saja dengan pendekatan "top-down". Sekarang
> > reformasi sedang bergerak "bottom-up".
> >
> > Perihal mendapatkan wahyu untuk menjadi pemimpin, ini khas ajaran feodalisme
> > lama. Bukan hanya terdapat dalam budaya Jawa, tapi ini juga sangat mirip
> > dengan Eropa di Abad Pertengahan sewaktu dipimpin raja-raja dan para ksatria
> > (knights and chivalries) yang berkolusi dengan para rohaniwan yang menjadi
> > penghubung dunia "atas" dan dunia "bawah".
> >
> > Budaya seperti ini selalu dipakai sebagai salah satu alat Suharto untuk
> > melanggengkan kekuasaan. Tidak heran jika kemudian banyak melahirkan kaum
> > penjilat dan tukang cari muka:
> >
> > "Jilat ke atas, menginjak ke bawah, meludah ke depan, kentut ke belakang,
> > sambil sikut kiri dan kanan"
> >
> > Dengan dibudayakannya cara pandang "top-down" seperti ini, para bawahan
> > (bawah=down) diharuskan berorientasi ke atas (top), supaya mendapatkan aliran
> > sinar biru itu. Semua bawahan jadi manggut-manggut jika sang atasan berbicara
> > atau memberikan keterangan. Atau cengar-cengir seperti kuda jika sang atasan
> > sedang melucu yang tidak lucu. Betul-betul mematikan pemikiran-pemikiran
> > kreatif. Memang benar-benar ajaran beberapa abad yang lalu....
> >
> > Rgds,
> >
> > Alexander Lumbantobing
>
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)

--

Indi Soemardjan
Be my guest: http://pagina.de/indradi

Kirim email ke