Bung,

Membela diri itu boleh, tetapi ya jangan dengan dalih membela diri lantas
minta dipersenjatai lalu gebukin orang lain selagi masih punya
peluru...ini namanya keblinger atuh mas...Aparat seharusnya dapat
melindungi golongan yang merasa ditekan donk..bukannya aparat justru
melatih kung fu lalu ngasih senjata M-16. Tugas aparat donk harus
melindungi para warga negara kita ini (selama timor belum merdeka, mereka
masih tetap adalah warga negara yang harus dilindungi oleh negara/aparat
keamanan)

Kita tidak usah mempermasalah soal jumlah atau berapa jumlah atau berapa
percent, yang pasti kita tahu Jika para kelompok pro integrasi ini
mayoritas, sudah tentu Timor tidak akan menuntut Referendum. Yang pasti
Habibie tidak akan memberikan status otonomi karena Timor adalah
Indonesia juga, dan diperlakukan sama oleh pemerintah.

Kita ndak tahu sebelum ada pemungutan suara.
> Ngapain menyatakan perang? Xanana ini sudah tahu kalau bakal kalah,
> dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mayoritas Timtim pengen
> tetap integrasi.

lah bung brawi sendiri juga buat assumption, tau dari mana kalau Xanana
tau dia bakalan kalah? tidak ada yang tahu kan....Referendum saja belum
dimulai kok sudah bisa main nebak kalau xanana kalah.

Intinya bukan ini yang saya maksudkan,
inti yang saya inginkan adalah memberikan ketenangan dan kedamaian
sebelum referendum, dan ini adalah tugas dari pemerintah dan aparat.
Saya hanya mengecam tindakan aparat yang melatih dan mempersenjatai
komando-komando pro integrasi yang akhirnya malah "juga" berbuat keonaran.

Saya jelaskan lagi, Referendum belum kita mulai, memang belum ada hasil
yang diputuskan untuk masa depan timor-timur. Dan saya mengakui memang
telah ada semacam intimidasi-intimidasi dari golongan pro kemedekaan,
namun sejauh pengetahuan saya, kelompok pro kemerdekaan kan belum sampai
memulai kirab-kirab seperti "penunjukan kekuatan bersenjata" atau sampai
membunuh kelompok pengungsi yang tidak bersenjata (bahkan di gereja lagi)

Saya rasa tindakan kelompok pro integrasi ini sudah keterlaluan, kalau
memang merasa diintimidasi ya diselesaikan donk dalam kerangka hukum,
bukannya malah juga membalas dengan mengintimidasi gerakan
pro-kemerdekaan. Seperti kata bung lagi, tunggu dulu keputusan dari
referendum ini. Ya itu benar.
Lho aba-aba perang saja kita kan masih kabur, apakah benar si xanana itu
mengeluarkan aba-aba perang, sedang sanggahan dari xanana saja kan
katanya untuk membela diri dan kalau memang dikeluarkan itukan setelah
adanya tindakan intimidasi dan pembunuhan yang memang sengaja diterokan
kepada golongan pro kemerdekaan oleh para integrationist ini kan.

ya sudahlah sekarang jangan ada apa-apa sebelum referendum, jangan kita
juga yang ikut-ikutan panas-panasin keadaan disana. Tunggu saja, dan
kalau ada tindakan intimidasi dari golongan pro-kemerdekaan thd para
integrasionis ini, kita selesaikan secara hukum. Tuntut pelakunya dan
hukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

bukannya kita seperti tidak peduli dengan nasib para pendukung integrasi,
tapi kita lindungilah ( tugas aparat) mereka. Lindungi kan bukan berarti
memberikan senjata dan melatih mereka seperti pasukan komando.

sekali lagi bung, isi posting ini hanya ingin meminta pihak indonesia
bersikap netral sebelum referendum diadakan. Ngga usalah kita
mempersenjatai kelompok satu yang pada akhirnya malah menciptakan
kekacauan pada masa-masa ini. Biarkanlah rakyat Timor sendiri yang
menilai baik buruknya itikad bangsa indonesia selama menduduki Timor.
Let the Timorese be the judge.

memang CNRT bukan dapat dikatakan sebagai wakil rakyat Timor, tetapi yang
sekarang ini gebak-gebukan kan antara Pro dan Anti kan...selain itu
Indonesia juga secara tidak langsung sudah mengakui bahwa Xanana Gusmao
yang sekarang sedang dipenjarakan itu sebagai salah satu penjembatan dari
proses perdamaian di timor. Kalau kita ngga mengganggap CNRT itu sebagai
salah satu wakil, buat apa kita kita sampai mau berdialog dengan mereka?
sudah aja seperti kambing congek, kalau memang Xanana Gusmao tidak
mewakili mereka atau si Ramos Horta juga. Kita sendiri juga sepertinya
sudah mengkultuskan Xanana Gusmao, dengan kata lain kita mengakui kalau
xanana adalah kunci dari pintu duka nestapa yang selama ini kita alami
dalam hubungan Timor Timur dan Indonesia.

masih ada terusan dibawah.

 On Sun, 18 Apr 1999, FNU Brawijaya wrote:

> Andrew G Pattiwael wrote:
>
> > Jadi ini maksudnya tujuan melatih para milisi-milisi Timor Pro-Integrasi,
> > dengan dalih melindungi para pro-integrasi yang ditakutkan akan
> > menjadi korban para pro-kemerdekaan setelah Timor menerima kemerdekaan
> > penuh dari Indonesia.
>
> Memang akibatnya seperti mengadu domba. Tapi kebijakan ini persis
> seperti AS yang mengirimkan senjata diam-diam ke Afganistan. Atau ke Kurdi
> di Irak. Itu yang di bawah tangan. Yang di atas tangan ya lihat sendiri Vietnam
> Selatan, Korsel. Apakah maksudnya mengadu domba? Kayaknya kok kita
> terlalu tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
>
> > Indonesia (khususnya ABRI) sepertinya memang ingin mengadu domba dua
> > kelompok ini. Dari kelompok yang menjadi minoritas, Pro Integrasi telah
> > dilatih, dibayayai dan persenjatai untuk menjadi kelompok yang melakukan
> > teror, kekerasan, dan intimidasi thd kelompok masyarakat lainnya
> > (terutama kelompok pro-kemerdekaan).
>
> Dari dulu saya endak setuju kalau dibilang pro-in dari kelompok minoritas.
> Kita nggak pernah tahu seberapa jumlah sebenarnya karena banyak
> yang berdiam diri, opini disimpan di dalam hati. Sebelum lebih jauh
> menyebutkan mereka dari kelompok minoritas, coba dikasih "alasan-alasan"-
> nya. Ndak usah "bukti" karena saya juga maklum kita ndak punya.
>
> > Apakah saya melihat kecongkakan Indonesia yang pada akhirnya juga tidak
> > bisa mempertahankan Timor-Timur, lebih baik untuk sekalian
> > membumi-hanguskan dan meluluh lantakan daerah ini.
> > Tanpa ada tindakan dari pemerintahan Habibie untuk menghentikan tindakan
> > kekerasan yang memang sengaja diciptakan oleh kita, malah aparat
> > keamanan dalam hal ini ABRI, justru melindungi para kelompok Pro
> > Integrasi yang justru baru berbuat onar terhadap niat baik
> > pro-kemerdekaan.
>
> Lho niat baik pro kemerdekaan itu apa sih? Kan mereka sudah mendahului
> keputusan masyarakat Timtim. Rakyat banyak belum mutusin kok kelompok ini
> sudah bikin aba-aba sendiri. Masak ini yang disebut niat baik? Wah, kepriben
> mas? Lha sudah ada 2 opsi kok masih menyatakan perang. Tindakan gini ini
> masih anda dukung argumene opo tho? Mbok ya tunggu gimana keputusan
> rakyat banyak dong. Kalau tiba-tiba ada aba-aba perang dari satu pihak,
> jelas kelompok yang merasa berlawanan prinsip juga akan mengangkat
> senjata. Masak menyediakan leher mereka buat digorok. Weleh...weleh....
>
> > Dalam hal ini, bukan perlindungan thd minoritas kelompok pro integrasi,
> > "kesetiaan" terhadap Republik Indonesia. Prioritas dari posting ini
> > adalah "Apakah ada perlindungan terhadap civil liberties atau hak-hak
> > untuk hidup damai" sebelum diadakan referendum.
>
> Sekali lagi, istilah minoritas perlu ditinjau lagi. Lha yang pro-kemerdekaan
> jumlahe berapa sih? Kan minoritas juga. Jangan-jangan jumlahnya lebih
> sedikit dari yg pro-integrasi. Kita ndak tahu sebelum ada pemungutan suara.
> Ngapain menyatakan perang? Xanana ini sudah tahu kalau bakal kalah,
> dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mayoritas Timtim pengen
> tetap integrasi. Makanya lalu bikin gara-gara. Kalau saya sendiri sih, bila
> rakyat Timtim mayoritas pengen pisah malah seneng aja. Bikin capek aja.
> Padahal cuman baca berita kok ya capek juga.
>
> > Tindakan Pemerintah dan Aparat Keamanan sudah seperti sejarah yang
> > diulang terus menerus. Dengan sengaja mengadu domba kelompok yang pro-RI
> > dengan kelompok yang mengancam "kepentingan" Indonesia sehingga
> > menimbulkan suatu momok ketakutan yang mendalam bagi para rakyat
> > Timor-Timur sehingga pada hari referendum nanti, tentunya setelah
> > ditakut-takuti oleh para pro-integrasi (Kelompok ini lebih cocok disebut
> > preman-preman Dilli yang pro Indonesia) akan tetap memutuskan bergabung
> > dengan "Republik Kesatuan Indonesia" (in sarcastic way)
> > Lihat saja kejadian saat penentuan PEPERA di Irian Jaya dan tentunya
> > kejadian setelah Invasi Indonesia di Timor-Timur. Selalu kita "mengadu domba"
> > kelompok yang pro Indonesia ( tentunya telah dipersenjatai lengkap )
> > dengan kelompok yang anti-Indonesia.
>
> Yang berhak menuliskan siapa yang preman dan yg bukan adalah pemenang.
> Batas antara ekstrimis dan pejuang sangat tipis. Kita ada di luar sistem,
> sehingga sulit untuk menilai. Waktu Israel belum lahir, mereka melakukan
> penyabotan, pembunuhan, persis yang dilakukan oleh bangsa palestina
> sekarang. Nah, sekarang mereka dan kelompok barat menyebutnya
> kelompok ekstrimis. Dulu Iggris juga menyebut pejuang yahudi sebagai
> ekstrimis. Nah, siapa yg preman dan siapa yg pejuang jadi nisbi kan?
>
> > Rekan-rekan, posting ini bukan menyangkut integritas kita terhadap
> > Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai seorang warga negara, sudah tentunya
> > saya ingin melihat kesatuan dan keutuhan kita sebagai "Satu Keluarga".
> > Tapi dalam hal ini, "Cara untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan"
> > yang telah ditempuh oleh Pemerintah dan ABRI adalah cara yang salah dan
> > tidak dapat diterima oleh pencerminan niat baik kita dan menghormati
> > "Hak-hak Rakyat Timor-Timur" dan nilai-nilai yang menjunjung kehidupan
> > berperikemanusiaan dan berperikeadilan.
>
> Coba dulu menjawab contoh soal saya tentang Desa Sambirejo, nanti
> kita baru bisa menjawab pertanyaan bagaimana cara mempertahankan
> kesatuan dan persatuan.
>
> > Jikalau memang Pemerintahan Habibie dan Angkatan Bersenjata/ Polri,
> > beritikad untuk menyelesaikan masalah Timor-Timur dengan cara damai dan
> > tetap menjaga harga diri Bangsa Indonesia,
> > Pemerintah dan Aparat harus melempaskan diri dari  persekutuan dengan
> > kelompok yang pro integrasi, tidak mendanai ataupun mempersenjatai
> > kelompok ini yang sekarang telah terbukti malah "justify their fears on the
> > other people's suffering" ( Tentunya masih ingat dengan Zionisme Bangsa
> > Yahudi yang menjajah dan menderitai Rakyat Palestina sebagai dalih bahwa
> > mereka telah menderita dibawah kekejaman Nazi Jerman ? semoga bangsa
> > indonesia tidak melupakan itu).
>
> Yahudi menjajah Palestina bukan itu alasannya. Mereka memang nggak
> punya tanah atau terusir dari tanahnya sejak ratusan, atau ribuan tahun.
> Yang susah mereka terlalu mengungkung diri, mengisolasi diri terhadap
> lingkungan. Di Jerman mereka menguasai perekonomian, dan dandanan
> rambut dan pakaian yg sangat mencolok. Secara alamiah, orang yg
> berbeda (membedakan diri) juga akan dianggap berbeda oleh orang lain.
> Lha wong mereka pengen dilihat berbeda kok. Kalau dibunuhi Nazi ya
> apesnya mereka kena propaganda Nazi. Kebetulan aja Nazi butuh musuh
> dan uang. Cara termudah ya ngambilan duit Yahudi. Bila WNI Keturunan
> Cina di Indonesia juga selalu mengisolasi diri, ancaman perlakuan spt
> saat kejadian Mei akan selalu ada. Bahkan bilapun UU antidiskriminasi sudah
> muncul. Masalah yg ada kan gimana caranya melebur ke lingkungan yg ada.
> Contoh yg sama adalah pendatang Madura di Sambas yg gagal melebur
> diri. Kalau pendatang Madura di Surabaya dan Probolinggo entah kenapa
> bisa melebur diri. Kalau ndak, hasilnya ya sama saja.
>
> > Cabut dukungan apapun thd kelompok pro-integrasi, buat kesepakatan
> > dengan kelompok CNRT untuk tidak membalas dendam dan tentunya pegang
> > pernyataan Xanana bahwa Pro-Kemerdekaan ingin menyelesaikan masalah ini
> > dengan damai. Adakan perundingan untuk penurunan senjata, penandatangan
> > untuk tidak mengangkat senjata tapi melainkan menyelesaikan
> > permasalahan di meja perundingan.
>
> Lho kok kesannya CNRT lebih berhak mewakili rakyat Timtim itu bagaimana?
>
> > Semoga kita dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan akal sehat, penuh
> > kedewasaan, dan bertanggung-jawab. Premanisme dan militanisme dengan
> > dalih apapun tidak dapat diterima oleh nilai-nilai kemanusian. Apapun
> > alasan untuk melindungi para kelompok integrationis dengan meng-approve
> > apasaja tindakan mereka, jelas sudah melanggar itikad baik kita sebagai
> > bangsa yang "Beradab".
>
> CNRT juga militan. Mereka juga merampoki rakyat Timtim, terutama yg
> nggak mau sepaham dengan mereka. Jauh sebelum saat ini. Mereka melakukan
> sudah puluhan tahun. Jadi yg promer dan pro-in sudah setali tiga uang.
> Ndak ada data yang mendukung argumen bahwa CNRT lebih merakyat,
> didukung rakyat, dlsb. Kalau mau lebih jelas, ya tunggu pemungutan suara.

memang CNRT juga militan, lantas kalau tidak ada argumen yang mendukung
mereka lebih merakyat, tentunya tidak ada demo-demo di Dilli yang
menginginkan kemerdekaan donk...dan tentunya pemberian referendum juga
salah kaprah, wong katanya CNRT bukan wakil rakyat kok, mungkin hanya
sebatas tukang rampok kali...
Bener...kita tunggu saja sampai pemungutan suara, dan tentunya kita harus
bisa menjaga kedamaian selama sebelum referendum ini kan...

>
> Pertanyaan selanjutnya, gimana caranya CNRT ndak menakuti rakyat agar
> memilih pro-kemerdekaan. Keberadaan kelompok pro-integrasi jadi penting
> untuk memberi rasa aman kepada rakyat yang mau memilih tetap gabung.
> Ngomong-ngomong waktu dua guru dibunuh pro-kemerdekaan kok anda
> diam aja sih? Juga para guru dan dokter lain yg ditakut-takuti oleh kelompok
> pro-kemerdekaan kenapa anda diam saja? Ada yg dipukuli muridnya, dll.
> Mereka mengajukan diri untuk pindah juga nggak boleh. Jangan ngomong
> kenapa nggak dibolehin. Lha orang tua murid juga keberatan kalau nggak
> ada kelas. Jadi bukan pemda atau instansi terkalit aja yg keberatan.
> Semoga aja anda ndak punya saudara guru atau dokyer yg terjebak di
> sana.

Gimana supaya CNRT tidak menakuti rakyat dan gimana supaya golongan yang
lainnya juga tidak menakuti rakyat dengan nama pro-integrasi.
Ngomong-ngomong, wah anda menuduh atau hanya menanyakan nih...sekali
lagi, jelas tindakan para pro kemerdekaan yang membunuh rakyat sipil ini
adalah salah dalam hukum dan hanya hukum yang dapat menindaknya, bukan
dengan kekuatan senjata dengan dalih self protection. Selama memang hukum
masih berjalan, tuntutlah dengan hukum (bukan senjata).
piye to mas....masa kejahatan dibalas lagi dengan kejahatan...hukum sudah
dikebiri kali? Memang saya tidak mempunyai kerabat yang tinggal di Timor,
tapi  apa hanya mereka yang mempunyai kerabat merasa tidak diperlakukan
dengan adil?  Dan merasa tidak diperlakukan dengan adil itu juga ada
caranya, bukan dengan cara mempersenjatai diri.

> > Ingat, dalam pernyataan proklamasi kita, kita memproklamirkan Republik
> > ini atas dasar penderitaan yang telah kita alami selama beratus-ratus
> > tahun dibawah penjajahan kolonialisme. Jangan sampai kita sendiri yang
> > membuat Proklamasi dan dasar-dasar yang telah melahirkan dan menjaga
> > kelestarian negara ini "menjadi basi" dan tidak relevan.
>
> Salam,
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)
>

Kirim email ke