Andrew G Pattiwael wrote:

> Bung,
>
> Membela diri itu boleh, tetapi ya jangan dengan dalih membela diri lantas
> minta dipersenjatai lalu gebukin orang lain selagi masih punya
> peluru...ini namanya keblinger atuh mas...Aparat seharusnya dapat
> melindungi golongan yang merasa ditekan donk..bukannya aparat justru
> melatih kung fu lalu ngasih senjata M-16. Tugas aparat donk harus
> melindungi para warga negara kita ini (selama timor belum merdeka, mereka
> masih tetap adalah warga negara yang harus dilindungi oleh negara/aparat
> keamanan)
>
> Kita tidak usah mempermasalah soal jumlah atau berapa jumlah atau berapa
> percent, yang pasti kita tahu Jika para kelompok pro integrasi ini
> mayoritas, sudah tentu Timor tidak akan menuntut Referendum. Yang pasti
> Habibie tidak akan memberikan status otonomi karena Timor adalah
> Indonesia juga, dan diperlakukan sama oleh pemerintah.

Lha ini asumsi lagi, sebetulnya yang minta referendum itu siapa? Falintil dan
CNRT atau rakyat Timtim? Kok bikin asumsi CNRT = rakyat Timtim?


> Kita ndak tahu sebelum ada pemungutan suara.
> > Ngapain menyatakan perang? Xanana ini sudah tahu kalau bakal kalah,
> > dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mayoritas Timtim pengen
> > tetap integrasi.
>
> lah bung brawi sendiri juga buat assumption, tau dari mana kalau Xanana
> tau dia bakalan kalah? tidak ada yang tahu kan....Referendum saja belum
> dimulai kok sudah bisa main nebak kalau xanana kalah.
>
> Intinya bukan ini yang saya maksudkan,
> inti yang saya inginkan adalah memberikan ketenangan dan kedamaian
> sebelum referendum, dan ini adalah tugas dari pemerintah dan aparat.
> Saya hanya mengecam tindakan aparat yang melatih dan mempersenjatai
> komando-komando pro integrasi yang akhirnya malah "juga" berbuat keonaran.

Eh, yg part itu kan tebakan ane. Bukan asumsi. Tapi kalau dilihat dari urutan
waktu kok memang gitu. Makanya, silakan time-frame kejadiannya dirunut lagi dong....
Siapa yang mulai mengintimidasi? Siapa yg mulai membentuk pemerintahan
bayangan?

> Saya jelaskan lagi, Referendum belum kita mulai, memang belum ada hasil
> yang diputuskan untuk masa depan timor-timur. Dan saya mengakui memang
> telah ada semacam intimidasi-intimidasi dari golongan pro kemedekaan,
> namun sejauh pengetahuan saya, kelompok pro kemerdekaan kan belum sampai
> memulai kirab-kirab seperti "penunjukan kekuatan bersenjata" atau sampai
> membunuh kelompok pengungsi yang tidak bersenjata (bahkan di gereja lagi)

Lha ya itu kembali lagi ke urutan kejadian lagi. Peristiwa ini kan dimulai dari
usaha intimidasi dan pemukulan oleh kelompok pro-kemerdekaan pada
beberapa penduduk dan simpatisan pro-integrasi. Jadi jangan dihilangkan
fakta yang ini. Setelah itu baru situasi berkembang, lalu setelah jumlahnya
lebih banyak baru ganti memburu. Jadi, ini adalah sebab-akibat. Lha kalau belum
tahu ya dicari tahu sejauh mana mereka mengintimidasi anggota masyarakat yg
tidak sepaham. Kirab-kirab kan sebagai jawaban atas pernyataan perang
si Xanana. Nah, silakan dilihat lagi urutan kejadiannya.

> Saya rasa tindakan kelompok pro integrasi ini sudah keterlaluan, kalau
> memang merasa diintimidasi ya diselesaikan donk dalam kerangka hukum,
> bukannya malah juga membalas dengan mengintimidasi gerakan
> pro-kemerdekaan. Seperti kata bung lagi, tunggu dulu keputusan dari
> referendum ini. Ya itu benar.

Weleh-weleh. Ini sangat ideal. Dalam praktek mustahil dilakukan. Mau diselesaikan
secara hukum gimana? Lha wong yg di ujung meja bawa bedil kok mau diajak
ke pengadilan. Sudah di-dor dulu mas.

> Lho aba-aba perang saja kita kan masih kabur, apakah benar si xanana itu
> mengeluarkan aba-aba perang, sedang sanggahan dari xanana saja kan
> katanya untuk membela diri dan kalau memang dikeluarkan itukan setelah
> adanya tindakan intimidasi dan pembunuhan yang memang sengaja diterokan
> kepada golongan pro kemerdekaan oleh para integrationist ini kan.

Lho, anda jadi balik-balik urutan kejadian.

> ya sudahlah sekarang jangan ada apa-apa sebelum referendum, jangan kita
> juga yang ikut-ikutan panas-panasin keadaan disana. Tunggu saja, dan
> kalau ada tindakan intimidasi dari golongan pro-kemerdekaan thd para
> integrasionis ini, kita selesaikan secara hukum. Tuntut pelakunya dan
> hukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

Weleh, kalau mau nuntut satu orang masih mungkin. Lebih dari sepuluh
orang ya lama. Kalau dituntut secara organisasi entar dijawab ulah oknum.
Dalam teori ya mudah, di lapangan ya susah.

> bukannya kita seperti tidak peduli dengan nasib para pendukung integrasi,
> tapi kita lindungilah ( tugas aparat) mereka. Lindungi kan bukan berarti
> memberikan senjata dan melatih mereka seperti pasukan komando.

Lho kepriben. Kan ABRI mau ditarik. Lha lalu Falintil yg mampu menyergap
pasukan ABRI mau dihadapkan dengan kelompok pro-integrasi bersenjata
ketapel? Kalau sampai terjadi demikian, berarti ABRI menghukum mati
kelompok pro-integrasi.

> sekali lagi bung, isi posting ini hanya ingin meminta pihak indonesia
> bersikap netral sebelum referendum diadakan. Ngga usalah kita
> mempersenjatai kelompok satu yang pada akhirnya malah menciptakan
> kekacauan pada masa-masa ini. Biarkanlah rakyat Timor sendiri yang
> menilai baik buruknya itikad bangsa indonesia selama menduduki Timor.
> Let the Timorese be the judge.

Lha ya itu yang repot. Silakan di baca posting saya tentang Timtim marak
lagi. Suara rakyat yg 700 ribu bisa digiring oleh 50.000 orang kelompok
Falintil dengan modal intimidasi. (Jumlah ini sekedar ilustrasi). Jadi repot
yg mana yg dimaksud Timorese ini....

> memang CNRT bukan dapat dikatakan sebagai wakil rakyat Timor, tetapi yang
> sekarang ini gebak-gebukan kan antara Pro dan Anti kan...selain itu
> Indonesia juga secara tidak langsung sudah mengakui bahwa Xanana Gusmao
> yang sekarang sedang dipenjarakan itu sebagai salah satu penjembatan dari
> proses perdamaian di timor. Kalau kita ngga mengganggap CNRT itu sebagai
> salah satu wakil, buat apa kita kita sampai mau berdialog dengan mereka?
> sudah aja seperti kambing congek, kalau memang Xanana Gusmao tidak
> mewakili mereka atau si Ramos Horta juga. Kita sendiri juga sepertinya
> sudah mengkultuskan Xanana Gusmao, dengan kata lain kita mengakui kalau
> xanana adalah kunci dari pintu duka nestapa yang selama ini kita alami
> dalam hubungan Timor Timur dan Indonesia.

Penjembatan apa sih? Justru dia yg jadi perintang dengan pernyataan perangnya
itu. Mosok pernyataan itu mau nggak diaku lagi kalau pernah diucapkan?

> memang CNRT juga militan, lantas kalau tidak ada argumen yang mendukung
> mereka lebih merakyat, tentunya tidak ada demo-demo di Dilli yang
> menginginkan kemerdekaan donk...dan tentunya pemberian referendum juga
> salah kaprah, wong katanya CNRT bukan wakil rakyat kok, mungkin hanya
> sebatas tukang rampok kali...
> Bener...kita tunggu saja sampai pemungutan suara, dan tentunya kita harus
> bisa menjaga kedamaian selama sebelum referendum ini kan...

Lha apa sih bedanya demo-demo itu dengan apel akbar. Kan sama saja?
Jadi yg mana yang merakyat? Yg CNRT punya atau yg BMP punya?
Pemungutan suara dilakukan terhadap 800.000an penduduk Timtim, bukan
pada CNRT saja. Kalau CNRT dianggap wakil rakyat Timtim, terus yg baru
apel akbar itu wakil dari persatuan kesenian barongsai?

Lha itu silakan ditunggu referendum. Tapi cabut dulu pernyataan perang si
Xanana itu. Mosok ada pernyataan perang yg mau diperangi malah ngopi-
ngopi, lha kojur nantinya. Jelas mesti melawan.

> Gimana supaya CNRT tidak menakuti rakyat dan gimana supaya golongan yang
> lainnya juga tidak menakuti rakyat dengan nama pro-integrasi.
> Ngomong-ngomong, wah anda menuduh atau hanya menanyakan nih...sekali
> lagi, jelas tindakan para pro kemerdekaan yang membunuh rakyat sipil ini
> adalah salah dalam hukum dan hanya hukum yang dapat menindaknya, bukan
> dengan kekuatan senjata dengan dalih self protection. Selama memang hukum
> masih berjalan, tuntutlah dengan hukum (bukan senjata).
> piye to mas....masa kejahatan dibalas lagi dengan kejahatan...hukum sudah
> dikebiri kali? Memang saya tidak mempunyai kerabat yang tinggal di Timor,
> tapi  apa hanya mereka yang mempunyai kerabat merasa tidak diperlakukan
> dengan adil?  Dan merasa tidak diperlakukan dengan adil itu juga ada
> caranya, bukan dengan cara mempersenjatai diri.

Oya, carane piye mas?
Wah, usaha mempersenjatai diri itu perlu kalau sudah terancam. Kalau hukum
rimba sudah berlangsung. Di Timtim ya hukum rimba ini yg berlaku. Mosok
perlu inspeksi ke sana? Jelas hukum nggak jalan. Kenapa nggak jalan?
Lho kok nanya.... Dalam situasi ertentu memang hukum sulit diterapkan.
Mbok ya dicoba gimana menghukum orang yg membantai di Sambas atau
Ambon sana. Ndak perlu Timtim deh....

Yang repot kan saat menunggu hukum punya efek, sodarane sudah mati
semua. Waduh gara-gara nulis email jadi ketinggalan ceritane La Femme Nikita.
Udah ah....


--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke