Saya ingin menambah penjelasan soal "last name" ini. "Last name"
dalam tradisi agama (Islam, Yahudi dan Kristen Orthodox) memang
berdasarkan ikatan darah dan ini semata untuk menunjukkan garis keturunan.
Dalam pola "last name" yang kita kenal sekarang umumnya garis keturunan
menjadi sukar diketahui. Dalam banyak agama, garis keturunan ini menjadi
penting ketika, misalnya, dalam mengatur distribusi
kekayaan(warisan) atau tanggungjawab dan peran dalam keluarga.
Yang unik, coba perhatikan, semua nama para nabi dalam kita suci
adalah bersuku kata satu (why?). Misalnya, Adam, Ibrahim (Abraham), Daud
(David), Yusuf (Joseph), Nuh (Noah) dan Ishak (Isaac). Soekarno dan
Soeharto sebenarnya dapat dikatakan pola satu suku kata juga, dan
kalau tidak salah nama itu memang menjadi
nama "real" mereka. Bacharuddin J. Habibie tidak mengikuti pola ini.
Begitu juga, Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Hamzah
Haz banyak tokoh2 politik lainnya (Kecuali Rais, Wahid dan Haz memang nama
ayah mereka). Nama (gelar?) Sultan HB X panjang sekali.
Memang benar sebagian etnik masyarakat di Indonesia, seperti Minang,
mengikuti pola matrilinial yang tampaknya bisa saja berasal dari pola "Isa
ibnu Maryam" (tetapi menurut sebagian yang lain mengikuti pola syiah yang
menempatkan Fatimah (putri Muhammad) sebagai sumber kepemimpinan dari
ahlul bait (keluarga nabi)). Tetapi dalam masyarakat seperti ini, saya
tidak menemukan bahwa nama anak2 mereka ada yang ber "bin" atau "binti" ke
ibunya. Jadi terlalu mengada-ngada kalau sampai ada menyebut "Amir bin
Maemunah" (karena kasus "Isa bin Maryam" hanya satu kali terjadi). Saya
belum jelas untuk kasus anak yang ditinggal lari bapaknya (si bapak tidak
mau bertanggungjawab) atau anak yang lahir dari seseorang yang (maaf)
diperkosa ramai2 atau bayi tabung (yang berasal dari sperma yang tidak
diketahui siapa yang punya).
Kalau disebut pola "last name" di masyarakat barat untuk memudahkan
"sistem perpajakan", sebenarnya tidak cukup kuat argumennya. Coba
perhatikan kasus "Tina Turner", yang saya sebut sebelumnya, yang sudah
bercerai dari suaminya. Bukankah ini dapat menyulitkan si suami "Turner",
karena bisa2 tetap kena pajak yang besar (karena pendapat yang besar dari
si bekas istri yang masih ber "last name" Turner"). Sistem komputerisasi
yang makin baik tentu makin memudahkan soal2 seperti ini tanpa harus
terganggu dengan "last name" yang berbeda dari suatu keluarga.
Saya tidak melihat perbedaan mendasar antara tradisi Arab dengan tradisi
bangsa2 lain dalam soal pemberiaan atau penggunaan nama. Tradisi yang
menonjol di Arab, juga di tempat lain, adalah tradisi "clan" atau
perkauman, amat berbeda dengan tradisi agama yang menekankan pada individu
(jelas siapa si individu itu dari garis keturunannya). Coba perhatikan
nama2 "Alatas", "Alkatiri", "Affif", "Attamimi", "Baswedan" yang lebih
menunjukkan
nama clan, bukan nama keluarga. Coba perhatikan "Sitompul", "Sinaga",
"Sitorus", "Pilliang, "Chaniago", "Tumbeleka", "Wurangian" dan
"Kolopaking". Pola ini, sebenarnya, lebih mirip dengan pola nama barat
modern yang kita kenal sekarang, jadi bukan pola tradisi agama seperti
yang saya sebut sebelumnya.
Tradisi Arab yang masih mengental di kalangan masyarakat Arab atau di
masyarakat Indonesia yang berorientasi "kearaban", misalnya, adalah
penggunaan panggilan "Abi" atau "Abu". Seperti Abi Thalib, bapaknya si
Thalib. Biasanya Thalib ini anak laki2nya yang pertama. Kalau anak
pertamanya perempuan sebut saja Maemunah, jarang si bapak bersedia
disebut Abu Maemunah. Nanti kalau lahir anak kedua dan kebetulan laki2
yang diberi nama Kamil, maka ia baru bersedia dipanggil Abi Kamil. Kasihan
si Yusuf, anak ketiganya, karena si bapak jarang bersedia disebut Abu
Yusuf di lingkungan pergaulannya. Walaupun si bapak tahu bahwa ia memiliki
tiga anak, tetapi yang lebih beruntung adalah si Kamil. Di masyarakat desa
yang sederhana, pola panggilan bapak ini masih kita temui sehari2 hingga
sekarang, yang umumnya digunakan di pergaulan lingkungan terdekat.
Wassalam,
Harry Azhar Azis
------------------
On Wed, 14 Apr 1999, Yusuf-Wibisono wrote:
> ...
>
> >Thanks buat Bung Harry, bagus sekali komen-nya...:-)
> >Mempertahankan last-name ayah, itu saya rasa bukan semata tradisi
> >Islam. Memang betul, ada hadits yang menyatakan bahwa nanti di hari
> >akhir, tiap-tiap manusia akan dipanggil oleh malaikat dengan tetap
> >menggunakan nama ayahnya -- based on father's name, misalnya si-A bin
> >atau binti si-B. Yang saya tangkap: ini mungkin memang ajaran, agar
> >bagaimanapun juga, kita harus selalu & senantiasa menghormati orangtua.
> >Tapi kalo dibilang itu tradisi Islam, apa betul begitu? Apa itu bukan
> >tradisi Arab?, soalnya jangan sampai tradisi Arab dibilang tradisi
> >Islam -- nati kalau nggak makan kurma bisa2 dibilang nggak Islami:).
>
> Yw: Yen tak pikir-pikir, soal lastname ini memang unik juga.
> Sebetulnya tradisi Arab itu tdk menggunakan nama Ayah (saja).
> Tapi juga bisa menggunakan nama ibu. Misalnya sering (banget)
> disebut (di Quran): Isa Ibnu Maryam (atau Bin Maryam, sama aja).
>
> Karena itu nama orang tua (baik ayah maupun ibu), tidak
> permanen (nempelnya) di nama seseorang. Sebab kalo permanen,
> Si otong anak bokir, maka namanya Otong Bin Bokir.
> Terus kawin punya anak Lekir, dan otomatis namanya Lekir
> Bin Otong Bin Bokir. Eh, si Lekir terus punya anak lagi
> Penceng, dan punya cucu Jiun. Jadinya si Jiun punya nama:
> Jiun Bin Penceng Bin Lekir Bin Otong Bin Bokir.
> Ini secara logical (dan bener), tapi demi kepraktisan,
> dipendekin aja jadi bin bapaknya. Atau bin Ibunya juga boleh.
> Wong sama-sama orang tuanya kok,... ya boleh aja nama
> Ibunya dipake (oleh anaknya).
>
> Jaman booming ekonomi kepulauan Nusantara (jaman baheula),
> ketika Islam (di Timteng) sedang jaya-jayanya. Naming
> convention gaya Arab (yg diadop dan diubah-ubah dikit
> oleh prinsip-prinsip Islam) diadop juga oleh orang-orang
> Nusantara (yg bersentuhan erat dg para pedagang Arab).
> Karena prinsip ketidakpermanenan itu, maka orang Indonesia
> banyak yg nggak punya 'lastname'. Misalnya ada nama: Suharto
> nggak pake embel-embel. Walaupun demikian, nanti kalo ada
> urusan pengadilan, bisa disebut namanya sebagai:
> Suharto Bin Bokir Bin Kirdun, misalnya. Untuk membedakan
> dari Suharto yg lain, misalnya: Suharto Bin Penceng Bin
> Maemunah Binti Gokil.
>
> ;-)
>