What is a name? :)

Yusuf-Wibisono wrote:
>
> ...
>
> >Saya ingin menambah penjelasan soal "last name" ini. "Last name"
> >dalam tradisi agama (Islam, Yahudi dan Kristen Orthodox) memang
> >berdasarkan ikatan darah dan ini semata untuk menunjukkan garis keturunan.
>
> Yw: Di Islam, ada lagi aturan (atau ajaran?), yg menyatakan bahwa
>     orang (mukmin) (yg mengangkat anak yatim) hendaknya memanggil
>     anak yatim itu dg nama ayahnya. Misalnya, anaknya aslinya
>     Tomi, Bapaknya Tuyul. Secara 'legal', namanya adalah:
>     Tomi Ibnu Tuyul, panggilan Tomi. Tapi setelah jadi yatim,
>     dipanggil Ibnu Tuyul (oleh Ortu angkatnya). Ini (tujuannya) utk
>     selain untuk menjaga agar tetap diketahui garisnya (seperti
>     kata anda), juga utk mencegah hal-hal yg tidak diinginkan
>     (misalnya: ortu angkatnya mengakuisisi hal-hal yg sebenernya
>     bukan haknya, dll). Sekedar tambahan.
>
> ...
>
> >Yang unik, coba perhatikan, semua nama para nabi dalam kita suci
> >adalah bersuku kata satu (why?). Misalnya, Adam, Ibrahim (Abraham), Daud
> >(David), Yusuf (Joseph), Nuh (Noah) dan Ishak (Isaac).
>
> Yw: Satu kata maksudnya? Enggak juga.
>     Yg jelas, mereka itu (semuanya?) nggak punya akte kelahiran,
>     jadi hal itu tidak bisa dibuktikan. ;-) Kemudian, biarpun
>     nama (panggilannya) satu, faktanya tidak demikian. Karena
>     adanya prinsip x bin y tsb, dan prinsip nama klan, x al-y.
>     Selain itu, banyak nabi yg nama panggilannya lebih dari satu.
>
> ...
>
> >ahlul bait (keluarga nabi)). Tetapi dalam masyarakat seperti ini, saya
> >tidak menemukan bahwa nama anak2 mereka ada yang ber "bin" atau "binti" ke
> >ibunya. Jadi terlalu mengada-ngada kalau sampai ada menyebut "Amir bin
> >Maemunah" (karena kasus "Isa bin Maryam" hanya satu kali terjadi). Saya
>
> Yw: Secara legal boleh; dan dalam kasus tertentu 'lebih praktis'.
>     Misalnya: kalo yg 'top' adalah ibunya (sedang Bapaknya, nggak
>     terkenal sama sekali, mana bengek pula ;-). Jadi utk keperluan
>     identifikasi aja (dan utk urusan legal/hukum, kesalahan identifikasi
>     ini bisa fatal, mementahkan urusan).
>
>     Jadi kalo megawati punya anak namanya bambang, dan punya suami
>     namanya ji'un. Maka di muka hukum, penyebutan bambang bin ji'un
>     sama sahnya dg bambang bin megawati, juga sah kalo disebut:
>     bambang bin ji'un alias bambang bin megawati.
>
>     Kalo desi ratnasari punya anak, namanya jenong; orang pun pasti
>     akan merasa lebih praktis kalo menyebutnya: itu lho, jenong yg
>     anaknya desi ratnasari (ketimbang menyebutkan jenong yg anaknya
>     x yg nggak terkenal).
>
> >belum jelas untuk kasus anak yang ditinggal lari bapaknya (si bapak tidak
> >mau bertanggungjawab) atau anak yang lahir dari seseorang yang (maaf)
> >diperkosa ramai2 atau bayi tabung  (yang berasal dari sperma yang tidak
> >diketahui siapa yang punya).
>
> Yw: Kayaknya sudah jelas. Nama itu utk identifikasi, jadinya ya,
>     jangan dipake embel-embel nama orang lain yg misterius (belum
>     teridentifikasi).
>
> >Kalau disebut pola "last name" di masyarakat barat untuk memudahkan
> >"sistem perpajakan", sebenarnya tidak cukup kuat argumennya.
>
> Yw: Setuju.
>
> >Saya tidak melihat perbedaan mendasar antara tradisi Arab dengan tradisi
> >bangsa2 lain dalam soal pemberiaan atau penggunaan nama. Tradisi yang
> >menonjol di Arab, juga di tempat lain, adalah tradisi "clan" atau
> >perkauman, amat berbeda dengan tradisi agama yang menekankan pada individu
> >(jelas siapa si individu itu dari garis keturunannya). Coba perhatikan
> >nama2 "Alatas", "Alkatiri", "Affif", "Attamimi", "Baswedan" yang lebih
> >menunjukkan nama clan, bukan nama keluarga. Coba perhatikan "Sitompul",
> >"Sinaga", "Sitorus", "Pilliang, "Chaniago", "Tumbeleka", "Wurangian" dan
> >"Kolopaking". Pola ini, sebenarnya, lebih mirip dengan pola nama barat
> >modern yang kita kenal sekarang, jadi bukan pola tradisi agama seperti
> >yang saya sebut sebelumnya.
>
> Yw: Nama Eropa kayaknya campur-campur. Ada yg sistem clan, ada yg
>     pake nama ayah (s/d 2/3 generasi atau lebih atau kurang);
>     ada yg boleh milih (last name ayah atau ibu, ie. di negara yg
>     ikatan perkawinan sudah nggak begitu dianggep, misalnya nordik).
>     Malah ada yg sebetulnya lastnamenya itu menunjukkan 'tanah leluhur'.
>     Misalnya: Robinhood Dari Hutan X-wood... dlsb. Atau Ji'un Von
>     Anyer. Ricardo Di Xyz. Di Amerika bahkan ada 'tradisi' mengarang
>     lastname (seenak perut). Tidak ada hubungan dg ayah, ibu, klan,
>     tanah-leluhur, whatever. Pokoknya beneran ngarang baru, al:
>     penjahat, orang amnesia, imigran krn berbagai masalah (misalnya
>     namanya cuma satu, spellingnya susah, salah ketik, dlsb), selebrity,
>     karena iseng, dlsb.
>
> >Tradisi Arab yang masih mengental di kalangan masyarakat Arab atau di
> >masyarakat Indonesia yang berorientasi "kearaban", misalnya, adalah
> >penggunaan panggilan "Abi" atau "Abu". Seperti Abi Thalib, bapaknya si
> >Thalib. Biasanya Thalib ini anak laki2nya yang pertama. Kalau anak
> >pertamanya perempuan sebut saja Maemunah, jarang si bapak bersedia
> >disebut Abu Maemunah. Nanti kalau lahir anak kedua dan kebetulan laki2
> >yang diberi nama Kamil, maka ia baru bersedia dipanggil Abi Kamil. Kasihan
> >si Yusuf, anak ketiganya, karena si bapak jarang bersedia disebut Abu
> >Yusuf di lingkungan pergaulannya. Walaupun si bapak tahu bahwa ia memiliki
> >tiga anak, tetapi yang lebih beruntung adalah si Kamil. Di masyarakat desa
> >yang sederhana, pola panggilan bapak ini masih kita temui sehari2 hingga
> >sekarang, yang umumnya digunakan di pergaulan lingkungan terdekat.
> >
> >Wassalam,
> >Harry Azhar Azis
>
> Yw: Di Jawa, lebih netral dari itu. Tidak melulu rujukannya ke
>     anak laki-laki, kadang ke anak perempuan juga. Ini biasanya
>     utk menghindari posisi 'kagok'. Dalam tradisi Jawa, menyebut
>     nama langsung (tanpa kata sandang), sering terasa kurang pas
>     atau tabu. Banyak orang yg merasa, kalo memanggil orang itu
>     harus ada kata sandangnya, entah itu Mas, Mbak, Dik, Jeng,
>     Mbah, 'Lik, Pakde, Bulik, dlsb. Nah, tapi kadang suka jadi
>     kagok kalo tiba-tiba, misalnya: Oom nikah sama tukang jamu
>     yg biasa dipanggil mbok njebrot. Logisnya karena perubahan
>     status, si mbok jamu harus dipanggil tante njebrot, tapi
>     ya... udah kebiasaan, lagi pula masak mbok-mbok dipanggil
>     tante... dst. Nah, begitu nanti punya anak, ini solusi!
>     Misalnya anaknya namanya centil (perempuan), si mbok jamu bisa
>     direfer (oleh siapapun) sbg Ibune Centil.
>
>     ;-)

Kirim email ke