...
>Saya ingin menambah penjelasan soal "last name" ini. "Last name"
>dalam tradisi agama (Islam, Yahudi dan Kristen Orthodox) memang
>berdasarkan ikatan darah dan ini semata untuk menunjukkan garis keturunan.
Yw: Di Islam, ada lagi aturan (atau ajaran?), yg menyatakan bahwa
orang (mukmin) (yg mengangkat anak yatim) hendaknya memanggil
anak yatim itu dg nama ayahnya. Misalnya, anaknya aslinya
Tomi, Bapaknya Tuyul. Secara 'legal', namanya adalah:
Tomi Ibnu Tuyul, panggilan Tomi. Tapi setelah jadi yatim,
dipanggil Ibnu Tuyul (oleh Ortu angkatnya). Ini (tujuannya) utk
selain untuk menjaga agar tetap diketahui garisnya (seperti
kata anda), juga utk mencegah hal-hal yg tidak diinginkan
(misalnya: ortu angkatnya mengakuisisi hal-hal yg sebenernya
bukan haknya, dll). Sekedar tambahan.
...
>Yang unik, coba perhatikan, semua nama para nabi dalam kita suci
>adalah bersuku kata satu (why?). Misalnya, Adam, Ibrahim (Abraham), Daud
>(David), Yusuf (Joseph), Nuh (Noah) dan Ishak (Isaac).
Yw: Satu kata maksudnya? Enggak juga.
Yg jelas, mereka itu (semuanya?) nggak punya akte kelahiran,
jadi hal itu tidak bisa dibuktikan. ;-) Kemudian, biarpun
nama (panggilannya) satu, faktanya tidak demikian. Karena
adanya prinsip x bin y tsb, dan prinsip nama klan, x al-y.
Selain itu, banyak nabi yg nama panggilannya lebih dari satu.
...
>ahlul bait (keluarga nabi)). Tetapi dalam masyarakat seperti ini, saya
>tidak menemukan bahwa nama anak2 mereka ada yang ber "bin" atau "binti" ke
>ibunya. Jadi terlalu mengada-ngada kalau sampai ada menyebut "Amir bin
>Maemunah" (karena kasus "Isa bin Maryam" hanya satu kali terjadi). Saya
Yw: Secara legal boleh; dan dalam kasus tertentu 'lebih praktis'.
Misalnya: kalo yg 'top' adalah ibunya (sedang Bapaknya, nggak
terkenal sama sekali, mana bengek pula ;-). Jadi utk keperluan
identifikasi aja (dan utk urusan legal/hukum, kesalahan identifikasi
ini bisa fatal, mementahkan urusan).
Jadi kalo megawati punya anak namanya bambang, dan punya suami
namanya ji'un. Maka di muka hukum, penyebutan bambang bin ji'un
sama sahnya dg bambang bin megawati, juga sah kalo disebut:
bambang bin ji'un alias bambang bin megawati.
Kalo desi ratnasari punya anak, namanya jenong; orang pun pasti
akan merasa lebih praktis kalo menyebutnya: itu lho, jenong yg
anaknya desi ratnasari (ketimbang menyebutkan jenong yg anaknya
x yg nggak terkenal).
>belum jelas untuk kasus anak yang ditinggal lari bapaknya (si bapak tidak
>mau bertanggungjawab) atau anak yang lahir dari seseorang yang (maaf)
>diperkosa ramai2 atau bayi tabung (yang berasal dari sperma yang tidak
>diketahui siapa yang punya).
Yw: Kayaknya sudah jelas. Nama itu utk identifikasi, jadinya ya,
jangan dipake embel-embel nama orang lain yg misterius (belum
teridentifikasi).
>Kalau disebut pola "last name" di masyarakat barat untuk memudahkan
>"sistem perpajakan", sebenarnya tidak cukup kuat argumennya.
Yw: Setuju.
>Saya tidak melihat perbedaan mendasar antara tradisi Arab dengan tradisi
>bangsa2 lain dalam soal pemberiaan atau penggunaan nama. Tradisi yang
>menonjol di Arab, juga di tempat lain, adalah tradisi "clan" atau
>perkauman, amat berbeda dengan tradisi agama yang menekankan pada individu
>(jelas siapa si individu itu dari garis keturunannya). Coba perhatikan
>nama2 "Alatas", "Alkatiri", "Affif", "Attamimi", "Baswedan" yang lebih
>menunjukkan nama clan, bukan nama keluarga. Coba perhatikan "Sitompul",
>"Sinaga", "Sitorus", "Pilliang, "Chaniago", "Tumbeleka", "Wurangian" dan
>"Kolopaking". Pola ini, sebenarnya, lebih mirip dengan pola nama barat
>modern yang kita kenal sekarang, jadi bukan pola tradisi agama seperti
>yang saya sebut sebelumnya.
Yw: Nama Eropa kayaknya campur-campur. Ada yg sistem clan, ada yg
pake nama ayah (s/d 2/3 generasi atau lebih atau kurang);
ada yg boleh milih (last name ayah atau ibu, ie. di negara yg
ikatan perkawinan sudah nggak begitu dianggep, misalnya nordik).
Malah ada yg sebetulnya lastnamenya itu menunjukkan 'tanah leluhur'.
Misalnya: Robinhood Dari Hutan X-wood... dlsb. Atau Ji'un Von
Anyer. Ricardo Di Xyz. Di Amerika bahkan ada 'tradisi' mengarang
lastname (seenak perut). Tidak ada hubungan dg ayah, ibu, klan,
tanah-leluhur, whatever. Pokoknya beneran ngarang baru, al:
penjahat, orang amnesia, imigran krn berbagai masalah (misalnya
namanya cuma satu, spellingnya susah, salah ketik, dlsb), selebrity,
karena iseng, dlsb.
>Tradisi Arab yang masih mengental di kalangan masyarakat Arab atau di
>masyarakat Indonesia yang berorientasi "kearaban", misalnya, adalah
>penggunaan panggilan "Abi" atau "Abu". Seperti Abi Thalib, bapaknya si
>Thalib. Biasanya Thalib ini anak laki2nya yang pertama. Kalau anak
>pertamanya perempuan sebut saja Maemunah, jarang si bapak bersedia
>disebut Abu Maemunah. Nanti kalau lahir anak kedua dan kebetulan laki2
>yang diberi nama Kamil, maka ia baru bersedia dipanggil Abi Kamil. Kasihan
>si Yusuf, anak ketiganya, karena si bapak jarang bersedia disebut Abu
>Yusuf di lingkungan pergaulannya. Walaupun si bapak tahu bahwa ia memiliki
>tiga anak, tetapi yang lebih beruntung adalah si Kamil. Di masyarakat desa
>yang sederhana, pola panggilan bapak ini masih kita temui sehari2 hingga
>sekarang, yang umumnya digunakan di pergaulan lingkungan terdekat.
>
>Wassalam,
>Harry Azhar Azis
Yw: Di Jawa, lebih netral dari itu. Tidak melulu rujukannya ke
anak laki-laki, kadang ke anak perempuan juga. Ini biasanya
utk menghindari posisi 'kagok'. Dalam tradisi Jawa, menyebut
nama langsung (tanpa kata sandang), sering terasa kurang pas
atau tabu. Banyak orang yg merasa, kalo memanggil orang itu
harus ada kata sandangnya, entah itu Mas, Mbak, Dik, Jeng,
Mbah, 'Lik, Pakde, Bulik, dlsb. Nah, tapi kadang suka jadi
kagok kalo tiba-tiba, misalnya: Oom nikah sama tukang jamu
yg biasa dipanggil mbok njebrot. Logisnya karena perubahan
status, si mbok jamu harus dipanggil tante njebrot, tapi
ya... udah kebiasaan, lagi pula masak mbok-mbok dipanggil
tante... dst. Nah, begitu nanti punya anak, ini solusi!
Misalnya anaknya namanya centil (perempuan), si mbok jamu bisa
direfer (oleh siapapun) sbg Ibune Centil.
;-)