Setujuuuuuu........
Dari yang juga perempuan... dan kebetulan pendukung Mbak Mega...
maju terus pantang mundur, Mbak!
Komariah. :)
Erwin wrote:
Kadang saya heran, mengapa seakan kini tentangan terhadap PDI Perjuangan
(yang identik dengan Megawati) seakan lebih besar dibandingkan dengan
Golkar.
Namun, bisakah saya memberi pembelaan sedikit mengapa (di mata saya) orang
banyak memilih PDI Perjuangan/Megawati sekarang?
1. PDI Perjuangan/Megawati awalnya adalah kaum tertindas.
2. Dari sekian partai yang diramalkan akan besar selain partai yang dicap
status quo (PDI Perjuangan, PAN, PKB, PK, dll), hanyalah PDI Perjuangan yang
banyak orang benar-benar yakini beraliran nasionalis ketimbang Islam. (PAN,
PKB, dan PK kerap identik dengan Islam.) Hal ini ditambah dengan pengurus
dari PDI Perjuangan yang cukup beragam. Dan jujur saja, konsep negara Islam
(walaupun mau digembar-gemborkan menghormati perbedaan), tentu saja
mencemaskan orang-orang di luar Islam/minoritas. Dan untuk memilih partai
lain, selain partai yang diramalkan besar, orang agak malas, mengingat takut
pilihannya percuma sehingga akhirnya perolehan suara jatuh ditangan status
quo kembali.
3. Kharisma Megawati, sediam apapun dia, besar sekali. Dan satu hal lagi,
ucapan Megawati (sekontroversial apapun), diyakini tak pernah (atau mungkin
biar lebih fair, sedikit sekali), mencla mencle. Butuh keberanian besar bagi
seorang politikus saat ini, untuk mengatakan "Jangan Menghujat Soeharto",
"Memegang Teguh Pancasila dan UUD 45", "Timor-Timur adalah bagian dari
Indonesia juga", dll. Namun sekali lagi, itu menandakan bahwa Megawati punya
VISI yang jelas. Ia bukanlah politikus angin-anginan, yang sekedar mengikuti
isu populer agar dirinya tetap dicap reformis.
Dan jelas, semua hal tersebut membuat banyak orang merasa lebih nyaman,
karena melihat figur Megawati sebagai benar-benar figur pemersatu. (Banyak
figur pemimpin lain, terlalu banyak mengecam dan sebagainya, sehingga bukan
dianggap figur pemersatu.) Dan bukankah sebenarnya ditengah kekacauan bangsa
kali ini, adalah logis bila orang berpikir bahwa yang kita butuhkan adalah
figur pemersatu? Satu-satunya ganjalan Megawati hanyalah satu, dia
Perempuan. Dan bukankah itu suatu bukti ketidakadilan juga akhirnya? (Dengan
kata lain, lengkaplah sudah penilaian publik terhadap figur Megawati sebagai
kaum tertindas)
Dan memperhatikan cara dia bersikap, saya percaya, walau Partainya menang,
bila memang ternyata penindasan dirinya karena dia perempuan sehingga
dianggap tidak layak menjadi presiden begitu kuat, Megawati pasti akan
memilih yang terbaik bagi negerinya. Dan apapun keputusan Megawati tentang
kursi kepresidenan, simpatisan/pendukung Megawati akan menerima.
Saya tidak bisa membuktikan perasaan saya, tapi entah kenapa, bagi saya
hanya ada dua partai yang mungkin memenangkan pemilu kali ini, yaitu Golkar
dan PDI Perjuangan. Anda boleh mengatakan Anda ngeri bila PDI Perjuangan
menang. Tapi jujur saja, saya jauh lebih ngeri bila Golkar menang. Sebab,
sejujur apapun hasil pemilu tersebut, kemenangan Golkar akan dianggap
sebagai kecurangan. Dan itu hanya akan semakin mengacaukan Indonesia saja.
Dengan kata lain, saya hanya meminta Anda yang tidak simpatik terhadap PDI
Perjuangan, untuk tidak menggencarkan kesimpatikan Anda. Ketidaksimpatikan
terhadap PDI Perjuangan, akhirnya hanya akan menguntungkan partai saingannya
(yang tak usah diragukan lagi) jelas status quo.
Itu saja pendapat saya...
Salam,
Erwin