>> 2. Dari sekian partai yang diramalkan akan besar selain partai yang dicap
>> status quo (PDI Perjuangan, PAN, PKB, PK, dll), hanyalah PDI Perjuangan
yang
>> banyak orang benar-benar yakini beraliran nasionalis ketimbang Islam.
>
>Siapa yang yakin ??? Bisa ditunjuk dengan jari telunjuk mu siapa orangnya
???
Minimal, pendukung PDI Perjuangan yakin...
>> Dan jujur saja, konsep negara Islam
>> (walaupun mau digembar-gemborkan menghormati perbedaan), tentu saja
>> mencemaskan orang-orang di luar Islam/minoritas.
>
>Ketakutan yang berlebihan dan tidak terbukti. Ketakutan yang ditumbuhkan
dan diwariskan oleh Orde Baru
Tidak, ini bukan masalah orde baru. Contoh saja, apakah Anda mau Indonesia
menjadi Negara Katolik? Apakah Anda mau Indonesia menjadi Negara Protestan?
Apakah Anda mau Indonesia menjadi Negara Budha? Apakah Anda mau Indonesia
menjadi Negara Hindu? Apakah Anda mau Indonesia menjadi Negara Jawa? Apakah
Anda Mau Indonesia menjadi Negara Ambon? Apakah Anda Mau Indonesia menjadi
negara...? (Teruskan sendiri...)
Saya percaya Anda (atau sebagian besar dari Anda) menjawab tidak untuk semua
pernyataan tersebut... Mengapa, sebab Anda mungkin bukan Katolik, sebab Anda
mungkin bukan Kristen, sebab Anda mungkin bukan Budha, sebab Anda mungkin
bukan Hindu, sebab Anda mungkin bukan suku Jawa, sebab Anda mungkin bukan
suku Ambon, sebab Anda mungkin bukan ...? (teruskan sendiri...) Dan
karenanya, dengannya, Anda takut negara yang terbentuk dari hal-hal yang
diatas suatu saat malah tidak menghormati perbedaan (Menghormati perbedaan
artikan secara luas...).
Dan kalau Anda mengatakan bahwa Anda takut bila Indonesia terbentuk dari
bentuk negara di atas, bukankah kewajaran bila ada yang merasa takut bila
Indonesia menjadi Negara Islam?
Masih ingat, apa bunyi Pancasila sila kesatu sebelum dirubah menjadi
"Ketuhanan yang Maha Esa"? Saya lupa pastinya, tapi saya ingat ada kalimat
"Syariat Islam" di dalamnya. Mengapa dirubah menjadi "Ketuhanan yang Maha
Esa" akhirnya? Jawabannya Anda tahu kan dari sejarah?
>> 3. Kharisma Megawati, sediam apapun dia, besar sekali. Dan satu hal lagi,
>> ucapan Megawati (sekontroversial apapun), diyakini tak pernah (atau
mungkin
>> biar lebih fair, sedikit sekali), mencla mencle. Butuh keberanian besar
bagi
>> seorang politikus saat ini, untuk mengatakan "Jangan Menghujat Soeharto",
>> "Memegang Teguh Pancasila dan UUD 45", "Timor-Timur adalah bagian dari
>> Indonesia juga", dll.
>
>Statemen - statemen untuk konsumsi rakyat yang tidak mengerti apa-apa.
Bukan untuk konsumsi orang yang bisa >berpikir.
Terima kasih, Anda telah mengatakan bahwa diri saya tidak mengerti apa-apa
dan tidak dapat berpikir.
>>Namun sekali lagi, itu menandakan bahwa Megawati punya
>> VISI yang jelas. Ia bukanlah politikus angin-anginan, yang sekedar
mengikuti
>> isu populer agar dirinya tetap dicap reformis.
>Penjabaran Visi dan Misinya bisa dibaca dimana ya ??? Atau sudah pernah MS
sampaikan dimana ya ???
Anda bisa baca (salah satunya) di deklarasi ketika di Bali. Dan deklarasi di
Bali itu bukan untuk internal saja, tapi eksternal.
>> Dan jelas, semua hal tersebut membuat banyak orang merasa lebih nyaman,
>> karena melihat figur Megawati sebagai benar-benar figur pemersatu.
(Banyak
>> figur pemimpin lain, terlalu banyak mengecam dan sebagainya, sehingga
bukan
>> dianggap figur pemersatu.) Dan bukankah sebenarnya ditengah kekacauan
bangsa
>> kali ini, adalah logis bila orang berpikir bahwa yang kita butuhkan
adalah
>> figur pemersatu?
>FIGUR PEMERSATU ???? Waktu Ambon dan Sambas "pecah" MS kemana ??? Waktu
Theo Syafei di "tuduh" >menjadi PROVOKATOR Kupang....apa tindakan MS ????
Malah mencium pipi Theo, bukannya memberi penjelasan >yang bisa menenangkan
SEMUA PIHAK ..............Mana fungsi dari POSKO - POSKO PDI - P pada
Peristiwa >Ambon....."tidak berbunyi" sama sekali....karena ya memang tidak
mampu untuk berbunyi dan bertindak .........
Khusus untuk Ambon dan Sambas, Adakah yang mampu bertindak? Mengapa Anda
mengecam Megawati karena dua hal tersebut? Apakah tokoh yang banyak ngomong
macam Gus Dur ketika Ambon dan Sambas menjadi tokoh pemersatu? Bukankah
seharusnya yang dikecam adalah ABRI dan pemerintah? (ABRI kan konon
pemersatu...)
Namun, intinya satu... Anda bisa mengatakan apapun juga, tapi bagi pendukung
PDI Perjuangan, tentu figur Megawati dianggap sebagai figur pemersatu.
>> Satu-satunya ganjalan Megawati hanyalah satu, dia
>> Perempuan. Dan bukankah itu suatu bukti ketidakadilan juga akhirnya?
(Dengan
>> kata lain, lengkaplah sudah penilaian publik terhadap figur Megawati
sebagai
>> kaum tertindas)
>Kalau DFA running for President....kemungkinan besar akan saya
pertimbangkan :-) untuk saya pilih dia :-) Because >of SMART.
Iya... Anda bisa dukung seperti itu. Tapi percaya saja deh... DFA pun nanti
nasibnya tidak jauh dengan Megawati. Pasti nanti buntut-buntutnya, "DFA itu
perempuan... dan menurut kepercayaan/agama/keyakinan saya Perempuan tidak
layak jadi presiden..."
>Jangan berlindung di balik kewanitaan, .... banci tahu !!! Kalau saja saya
wanita, saya juga akan pikir 1000x >dipimpin oleh wanita yang lemah
.........
Sayangnya, kita sukar yah mencari kata yang sepadan dengan "Jangan
berlindung di balik kepriaan... (apa yah...) tahu!!!"
Menggunakan berlindung di balik kewanitaan adalah banci sendiri, bukankah
sudah diskriminatif?
Kalau Anda mengatakan bahwa berlindung di balik kewanitaan adalah banci,
maka Anda mengatakan bahwa aktivis feminis adalah banci.
Kalau saja Anda wanita, Anda akan berpikir 1000X dipimpin oleh wanita yang
lemah. Tapi, mengatakan Megawati sebagai wanita yang lemah, sepertinya
terlalu berani... Logika sederhana, seorang wanita mencalonkan diri menjadi
pemimpin, di tengah lingkungan yang menyangsikan kemampuan wanita menjadi
pemimpin, tentu diperlukan keberanian.
Salam,
Erwin