Mas Moko yth,

Sekarang saya dah engga bingung lagi, anda emang lagi mau maksain
interpretasi anda supaya cocok dengan tujuan anda untuk menjuluki Mas Jaya
sebagai seorang rasis.

> Bung Vincent yang sedang 'bingung',
>
> Mengulangi apa yang telah saya tulis sebelumnya, kata "tauke"
> --berdiri sendiri-- memang netral. Tetapi kenyataannya kan kata
> "tauke" ini tidak berdiri sendiri, tetapi diiringi oleh kata-kata
> dan kalimat lain yang membentuk konteksnya (kecuali kalau saya
> telah 'salah' kutip):

Anda tidak salah kutip, tapi anda ngarang sendiri konteksnya.

>   * Bisa bayar 3-20 juta mestinya kan bisa bayarin tiket buat
>     keluarga untuk keluar dari Indonesia.

Konteksnya untuk kalimat ini adalah sehubungan dengan tulisan Mas Jaya yang
bilang bahwa Patrick sering nulis kalo dia pengen bawa keluarganya keluar
dari Indonesia.

>   * Tauke kayak KAMU ini yang biasanya jadi sasaran pertama tiap
>     ada kerusuhan.
>
> Sounds familiar? ... terutama sejak pertengahan Mei tahun lalu?

No, it doesn't. Emang pertengahan Mei tahun lalu ada kerusuhan terhadap
orang-orang Batak?


Kuliah tentang racism di paragraph berikut ini engga relevan banget. Anda
yang maksain bahwa dua kalimat Mas Jaya yang anda kutip diatas adalah
racist's remarks (berdasarkan konteks yang salah), saya engga melihatnya
sebagai rasis, therefore there is no need for you to lecture me on racism,
especially when you use Americans as examples. Americans are among the most
racist people in the world. They have to "tag" one another with race:
"African American", "Asian American", "Italian American", etc.

> Saya dulu suka bertanya-tanya, kenapa kebanyakan kawan kerja atau
> staff di kampus itu kok tidak pernah bertindak rasis, baik dalam
> sikap maupun kata-kata. Apakah orang disini memang lebih
> 'superior'? Setelah mengamati --dan mengalami sendiri-- ternyata
> semuanya itu tidak 'jatuh dari langit'. Racism adalah 'concsious
> choice', dan itu harus dikoreksi atau dilawan dengan kesadaran
> pula, dengan *conscious effort*. Waktu direkrut jadi TA dulu saya
> disuruh mengikuti apa yang disebut "sensitivity workshop" -- yang
> menjelaskan dampak buruk rasisme, mulai yang berbentuk unfair
> discrimination sampai hal yang 'kecil-kecil' seperti racial slurs,
> racist remaks, dsb. Dan ternyata setiap pegawai secara bertahap
> diwajibkan mengikuti workshop ini -- dimulai dari mereka yang
> banyak berhubungan dengan publik (yang plural itu). Ini adalah
> conscious effort komunitas disini utnuk mencegah "kesalahan lama"
> terulang kembali
> Dan ternyata ini juga diajarkan pada anak-anak
> sejak usia dini, sejak mereka di taman kanak-kanak.


Komentar saya tentang kuliah anda di paragraph berikut, begini nihh. Jangan
punya prasangka terhadap siapapun. Anda sudah berprasangka bahwa Mas Jaya
adalah seorang rasis, mangkanya dua kalimatnya yang anda kutip diatas
menjadi kalimat rasis. Don't need to read between the lines, just read the
lines without prejudice.

> Forum Internet (seperti mailing list ini) memberi kita "kebebasan"
> utnuk menyatakan pendapat kita. Kebebasan ini terasa lebih longgar
> ketimbang yang kita rasakan dalm dunia nyata--terutama karena ada
> kesan 'anonimitas', dimana orang hanya dikenal sebagai email
> address saja. kebebasan ini bak pisau bermata dua, disisi lain
> orang juga "bebas" mengartikan tulisan kita. Ditambah keterbatasan
> kata-kata yang tidak bisa mentertakan intonasi, raut muka maupun
> isyarat badan yang lain, gampang sekali terjadi misunderstanding.
> Di forum elektronis seperti ini, kebanyakan kita ini hanya kenal
> dari tulisan kita, sehingga tidak bisa dihindari terjadinya feomena
> "you are what you write" -- kita ini di'nilai' melulu dari apa yang
> kita tulis saja. Tulisan kita merupakan 'representasi' dari
> personality kita. Tentu saja ini tidak benar, kita semua tahu,
> tetapi itulah 'impression' yang terjadi di Internet (in the absence
> of other means of physical contact).


> |Terus abis gitu, yang dikatain sama Mas Jaya khan orang batak, kalopun
yang
> |dikatain orang cina, koq yang pusing Andrew? Andrew khan neither batak
nor
> |cina. Emang di AKABRI diajarin supaya suka ngatur-ngatur orang laen,
> |mangkanya ABRI sukanya ngatur orang laen. Saya baru tau kalo ternyata di
> |Norwich juga diajarin yang sama dengan di AKABRI.
>
> That's wrong .. one doesn't have to be the victim (chinese, jew, or
> any victimized person) to sense the pain, to feel disgusted by such
> injustice treatment to the fellow human being.

Ya kalo emang Andrew feel disgusted by injustice treatment mendingan pergi
ke Kosova aja bareng NATO sana buat belain orang Albania, daripada
ngatur-ngatur orang tentang apa yang baik dan tidak baik di mailing-list
ini.

And, please, save your lecture about racism (such as one in the following
paragraphs) for the more appropriate curcumstances. Jaya's remarks were not
racist, they only become racist when you want them to be. You, my friend,
already have a preconceived idea about Jaya (that he is a racist), therefore
anything he says--that has even the slightest suggestion--will be racism to
you. You already have prejudice against him, that's why you interpreted his
writing the way you did. Just read it as it is--without prejudice, then you
won't see any racism, apalagi Mas Jaya dah terangkan maksudnya dengan
penggunaan kata 'tauke'.


Salam,

Vincent Sitindjak
Norma, OK

> Orang Eropa sendiri juga pernah menarik pelajaran [pahit] dari
> sejarahnya (sekitar Perang Dunia II). Ketika Nazi/Hitler mulai
> menagkapi orang Yahudi, sebagian besar yang bukan Yahudi
> 'memalingkan muka', juga negara-negara tetangganya. "it doesn't
> cocern us ... they're only Jews", sampai akhirnya serdadu Nazi
> mulai menduduki rumah-rumah mereka (Polandia, Belanda, Perancis,
> dsb) dan juga menangkapi dan membunuhi mereka dalam kamp
> konsentrasi. Salah seorang korban yang meninggal di kamp
> konsentrasi Auschwitz adalah seorang pastor, Martin Niemoller. Dia
> menulis dalam catatannya, yang kemudian berhasil diselamatkan dan
> diselundupkan keluar:
>
>   "In Germany they first came for the communists and I didn't
>   speak up because I wasn't a communist. Then they came for the
>   Jews, and I didn't speak up because I wasn't a Jew. Then they
>   came for the trade unionists, and I didn't speak up because I
>   wasn't a trade unionist. Then they came for the Catholics, and
>   I didn't speak up because I was a Protestant. Then they came for
>   me - and by that time no one was left to speak up."
>
>
> In short, I believe that racisim is bad, evil and destroying the
> community. Anyone who still has a hope for living together in
> peace, sharing this beautiful planet should fight racism together.
> Fight against racism doesn't have to resort to violence. Words are
> oftern mightier than swords. Mahatma Gandhi --when asked how he was
> going to fight the mighty British Empire-- answered:
>
>     "You have to make injustice [like racism] visible, exposed ...
>      and be prepared to die like a soldier to do so".
>
>
> Moko/

Kirim email ke