Mengutip pepatah lama: sing waras ngalah. Hanya yang mau belajar kalah yang akan
bisa maju, kalau sudah kepinteran, enggak usah dilawan. Saya yakin mas moko bisa
mengerti apa yang saya maksud.
salam anti-diskriminasi.

Moko Darjatmoko wrote:

> At 5:20 PM 11/3/1998, Vincent Sitindjak wrote:
>
> |Mas Moko tulis:
> |
> |>     At 11:59 AM 5/11/1999, FNU Brawijaya wrote:
> |>
> |>     |Lha KAMU belum jadi tauke lagunya sudah kayak
> |>     |Donald Trump. Bisa bayar 3-20 juta mestinya kan
> |>     |bisa bayarin tiket buat keluarga untuk keluar dari
> |>     |Indonesia. Tauke kayak KAMU ini yang biasanya
> |>     |jadi sasaran pertama tiap ada kerusuhan.
> |>
> |> Siapapun yang sedikit rasional dan mngerti situasi rasial di
> |> Indonesia mengerti apa maksud kalimat diatas, siapa yang dituju.
> |>
> |> The above phrase DOES send a clear message ... and the word is no
> |> longer neutral! It is a racist's remark.
> |
> |he..he..koq saya jadi binun sekarang...
> |
> |kalo "tauke" dikutipan diatas ditujukan ke orang cina, mungkin aja
> |"it is a racist's remark".
> |tapi "tauke" dikutipan diatas khan ditujukan ke orang batak (Patrick
> |Simanjuntak), apa ini juga masuk dalem kategori "a racist's remark"?
>
> Bung Vincent yang sedang 'bingung',
>
> Mengulangi apa yang telah saya tulis sebelumnya, kata "tauke"
> --berdiri sendiri-- memang netral. Tetapi kenyataannya kan kata
> "tauke" ini tidak berdiri sendiri, tetapi diiringi oleh kata-kata
> dan kalimat lain yang membentuk konteksnya (kecuali kalau saya
> telah 'salah' kutip):
>
>   * Bisa bayar 3-20 juta mestinya kan bisa bayarin tiket buat
>     keluarga untuk keluar dari Indonesia.
>   * Tauke kayak KAMU ini yang biasanya jadi sasaran pertama tiap
>     ada kerusuhan.
>
> Sounds familiar? ... terutama sejak pertengahan Mei tahun lalu?
>
> Memang kita tidak pernah tahu --kecuali si penulis sendiri-- apa
> persisya yang dimaksud oleh si penulis dalam suatu tulisan. Karena
> itulah penting sekali untuk berpikir masak-masak sebelum tekan
> tombol "send." Guy Kawasaki (a Mac Fellow) memberikan cara nge-test
> yang praktis dalam menulis email: "Read it out loud to your spouse,
> to your best friend, to your roomate, or even better, to your own
> mother. If you think it's okay say the words you just wrote on
> their faces, then it's okay to hit the send button." Kehati-hatian
> Kawasaki beralasan, ternyata peribahasa kuno "sticks and stones
> will break my bones, but names will never hurt me" itu tidak selalu
> benar. It has been known that arsh words hurt or even kill people.
>
> Saya dulu suka bertanya-tanya, kenapa kebanyakan kawan kerja atau
> staff di kampus itu kok tidak pernah bertindak rasis, baik dalam
> sikap maupun kata-kata. Apakah orang disini memang lebih
> 'superior'? Setelah mengamati --dan mengalami sendiri-- ternyata
> semuanya itu tidak 'jatuh dari langit'. Racism adalah 'concsious
> choice', dan itu harus dikoreksi atau dilawan dengan kesadaran
> pula, dengan *conscious effort*. Waktu direkrut jadi TA dulu saya
> disuruh mengikuti apa yang disebut "sensitivity workshop" -- yang
> menjelaskan dampak buruk rasisme, mulai yang berbentuk unfair
> discrimination sampai hal yang 'kecil-kecil' seperti racial slurs,
> racist remaks, dsb. Dan ternyata setiap pegawai secara bertahap
> diwajibkan mengikuti workshop ini -- dimulai dari mereka yang
> banyak berhubungan dengan publik (yang plural itu). Ini adalah
> conscious effort komunitas disini utnuk mencegah "kesalahan lama"
> terulang kembali> Dan ternyata ini juga diajarkan pada anak-anak
> sejak usia dini, sejak mereka di taman kanak-kanak.
>
> Forum Internet (seperti mailing list ini) memberi kita "kebebasan"
> utnuk menyatakan pendapat kita. Kebebasan ini terasa lebih longgar
> ketimbang yang kita rasakan dalm dunia nyata--terutama karena ada
> kesan 'anonimitas', dimana orang hanya dikenal sebagai email
> address saja. kebebasan ini bak pisau bermata dua, disisi lain
> orang juga "bebas" mengartikan tulisan kita. Ditambah keterbatasan
> kata-kata yang tidak bisa mentertakan intonasi, raut muka maupun
> isyarat badan yang lain, gampang sekali terjadi misunderstanding.
> Di forum elektronis seperti ini, kebanyakan kita ini hanya kenal
> dari tulisan kita, sehingga tidak bisa dihindari terjadinya feomena
> "you are what you write" -- kita ini di'nilai' melulu dari apa yang
> kita tulis saja. Tulisan kita merupakan 'representasi' dari
> personality kita. Tentu saja ini tidak benar, kita semua tahu,
> tetapi itulah 'impression' yang terjadi di Internet (in the absence
> of other means of physical contact).
>
> |Terus abis gitu, yang dikatain sama Mas Jaya khan orang batak, kalopun yang
> |dikatain orang cina, koq yang pusing Andrew? Andrew khan neither batak nor
> |cina. Emang di AKABRI diajarin supaya suka ngatur-ngatur orang laen,
> |mangkanya ABRI sukanya ngatur orang laen. Saya baru tau kalo ternyata di
> |Norwich juga diajarin yang sama dengan di AKABRI.
>
> That's wrong .. one doesn't have to be the victim (chinese, jew, or
> any victimized person) to sense the pain, to feel disgusted by such
> injustice treatment to the fellow human being. Jaman racism masih
> dominan di Amerika dulu (terutama tahun 50an di daerah selatan),
> banyak orang putih (bukan victim) yang menentang diskriminasi dan
> segregasi terhadap orang kulit hitam. Bukan karena muak saja,
> tetapi karena juga  pikiran rasionalnya menyadari bahwa "racism
> destroys both sides, the victims as well as the racists, the whole
> community." Ini digambarkan secara mengesankan dalam buku "Black
> Like Me" (a must read!) yang ditulis oleh novelist John Howard
> Griffin, seorang kulit putih yang dengan sengaja merubah pigmentasi
> kulitnya (dengan obat dan penyinaran) untuk mengalami sendiri
> perlakuan yang diterima oleh 'si kulit hitam' di daerah selatan
> (kejadiannya pada akhir 50an). Buku ini sampai sekarang masih
> best-sellers; sudah dicetak berpuluh kali, lebih dari 5 juta copy
> yang terjual (punya saya cetakan ke 66).
>
> Orang Eropa sendiri juga pernah menarik pelajaran [pahit] dari
> sejarahnya (sekitar Perang Dunia II). Ketika Nazi/Hitler mulai
> menagkapi orang Yahudi, sebagian besar yang bukan Yahudi
> 'memalingkan muka', juga negara-negara tetangganya. "it doesn't
> cocern us ... they're only Jews", sampai akhirnya serdadu Nazi
> mulai menduduki rumah-rumah mereka (Polandia, Belanda, Perancis,
> dsb) dan juga menangkapi dan membunuhi mereka dalam kamp
> konsentrasi. Salah seorang korban yang meninggal di kamp
> konsentrasi Auschwitz adalah seorang pastor, Martin Niemoller. Dia
> menulis dalam catatannya, yang kemudian berhasil diselamatkan dan
> diselundupkan keluar:
>
>   "In Germany they first came for the communists and I didn't
>   speak up because I wasn't a communist. Then they came for the
>   Jews, and I didn't speak up because I wasn't a Jew. Then they
>   came for the trade unionists, and I didn't speak up because I
>   wasn't a trade unionist. Then they came for the Catholics, and
>   I didn't speak up because I was a Protestant. Then they came for
>   me - and by that time no one was left to speak up."
>
> In short, I believe that racisim is bad, evil and destroying the
> community. Anyone who still has a hope for living together in
> peace, sharing this beautiful planet should fight racism together.
> Fight against racism doesn't have to resort to violence. Words are
> oftern mightier than swords. Mahatma Gandhi --when asked how he was
> going to fight the mighty British Empire-- answered:
>
>     "You have to make injustice [like racism] visible, exposed ...
>      and be prepared to die like a soldier to do so".
>
> Moko/

Kirim email ke