Masih relevankah OSPEK?

Judul diatas kembali ku pertanyakan. Bagaimana tidak, sewaktu yang lain
sibuk berkutat dalam berbagai permasalahan akademis dan sosial
kemasyarakatan, sekelompok monster  mahasiswa (kalau tidak salah lihat
kelihatannya mereka dari jurusan T. Geodesy) sedang mengadakan pembantaian
di lapangan AULA BARAT dengan kedok Orientasi Study (OS). Heran ternyata
dalam lingkup yang katanya reformis, menjunjung HAM, demokratis deelel
masih saja melakukan praktik-praktik feodal dengan dalih agar mereka
lebih
kompak,lebih siap dalam menghadapi dunia kampus yg katanya berat dan
lebih-lebih lagi mereka mengatasnamakan rakyat, bahwa mereka dididik agar
survive di masyarakat dan entah argumen apalagi.

Standard yang digunakan sangat-sangat rancu. Apakah dgn push up sudah
menghasilkan manusia yg lebih baik, atau dipermalukan didepan umum, bahkan
dengan bangga seorang senior terlihat menyuruh si mahasiswa baru (MB)
melakukan
hal-hal yang irasional. Si MB terlihat tidak punya pilihan karena dgn
begitu mereka bisa ikut dlm kegiatan kemahasiswaan dan untuk lebih dekat
dgn kakak kelas.

Tapi apapun alasannya saya tetap menentang perpeloncooan mahasiswa dgn
kedok nama apapun. Ada seperti upaya status quo yang selalu dipertahankan
setiap saya menolak keberadaanya di kampus dgn 1001 macam
retorika.Perubahan-perubahan yang terjadi hanyalah sebatas kulitnya saja
tapi tidak esensinya. Herannya mahasiswa lain pun kebanyakan
sepertinya setuju-setuju aja." Ada hiburan kalo lagi stress", ujarnya.
Gila apa, manusia dijadikan mainan.

Apakah Bill Gates menghadapi hal yg sama sewaktu di masih menjadi MB,
ataukah
Soekarno juga mengalaminya. Bagaimana dgn para pemimpin2 lainnya dibelahan
dunia. Apakah mereka mengalami ospek juga. Saya justru melihat para
pemimpin sekarang yang dulunya terlibat dalam dunia kemahasiswaan model
sekarang (ingat tahun 70-an) malah cenderung korup dan sangat terlibat
dalam kebusukan orba.Juga jangan-jangan model seperti ini masih tersisa
hanya tinggal di Indonesia saja.

Saya kurang tahu model pembinaan MB di luar negeri seperti apa, mungkin
masukan dari teman-teman di luar sangat dibutuhkan untuk mengkoreksi dan
mengusulkan format yang baru dalam menyiapkan pemberdayaan mahasiswa.

Viva Liverpool
Ari Krisna

Kirim email ke