Buat Bung Ari, saya pikir ketika anda melontarkan pendapat tentang OS
(orientasi Studi) di Mahasiswa tataran yang perlu kita bicarakan mungkin
masalah formatnya. Saya pikir bila kita lihat tujuan awalnya dari OS
sebenarnya baik yaitu untuk memperoleh keakraban antara angkatan lama
dengan angkatan baru. Dari awalnya ada panitia yang bertanggungjawab
untuk mengadakan kegiatan tersebut. Sehingga dapat dikatakan ada 'materi'
yang disampaikan dalam setiap kegiatan.
Jadi saya pikir yang perlu dipikirkan adalah hanya format OSnya saja.
Sehingga ketika penyampaian materi dilangsungkan tidak lagi hanya dengan
pelaksanaan yang kebanyakan terjadi saat ini.
Buat teman-teman yang ada di LN atau di kampus lain saya juga mau nanya
bagaimana format OS yang telah dilaksanakan
Salam Hormat,
Saut A H S
[EMAIL PROTECTED]
Urban & Regional Planning
Bandung Institute of Technology
On Wed, 9 Jun 1999, Arikrisna M Tarigan wrote:
> Masih relevankah OSPEK?
>
> Judul diatas kembali ku pertanyakan. Bagaimana tidak, sewaktu yang lain
> sibuk berkutat dalam berbagai permasalahan akademis dan sosial
> kemasyarakatan, sekelompok monster mahasiswa (kalau tidak salah lihat
> kelihatannya mereka dari jurusan T. Geodesy) sedang mengadakan pembantaian
> di lapangan AULA BARAT dengan kedok Orientasi Study (OS). Heran ternyata
> dalam lingkup yang katanya reformis, menjunjung HAM, demokratis deelel
> masih saja melakukan praktik-praktik feodal dengan dalih agar mereka
> lebih
> kompak,lebih siap dalam menghadapi dunia kampus yg katanya berat dan
> lebih-lebih lagi mereka mengatasnamakan rakyat, bahwa mereka dididik agar
> survive di masyarakat dan entah argumen apalagi.
>
> Standard yang digunakan sangat-sangat rancu. Apakah dgn push up sudah
> menghasilkan manusia yg lebih baik, atau dipermalukan didepan umum, bahkan
> dengan bangga seorang senior terlihat menyuruh si mahasiswa baru (MB)
> melakukan
> hal-hal yang irasional. Si MB terlihat tidak punya pilihan karena dgn
> begitu mereka bisa ikut dlm kegiatan kemahasiswaan dan untuk lebih dekat
> dgn kakak kelas.
>
> Tapi apapun alasannya saya tetap menentang perpeloncooan mahasiswa dgn
> kedok nama apapun. Ada seperti upaya status quo yang selalu dipertahankan
> setiap saya menolak keberadaanya di kampus dgn 1001 macam
> retorika.Perubahan-perubahan yang terjadi hanyalah sebatas kulitnya saja
> tapi tidak esensinya. Herannya mahasiswa lain pun kebanyakan
> sepertinya setuju-setuju aja." Ada hiburan kalo lagi stress", ujarnya.
> Gila apa, manusia dijadikan mainan.
>
> Apakah Bill Gates menghadapi hal yg sama sewaktu di masih menjadi MB,
> ataukah
> Soekarno juga mengalaminya. Bagaimana dgn para pemimpin2 lainnya dibelahan
> dunia. Apakah mereka mengalami ospek juga. Saya justru melihat para
> pemimpin sekarang yang dulunya terlibat dalam dunia kemahasiswaan model
> sekarang (ingat tahun 70-an) malah cenderung korup dan sangat terlibat
> dalam kebusukan orba.Juga jangan-jangan model seperti ini masih tersisa
> hanya tinggal di Indonesia saja.
>
> Saya kurang tahu model pembinaan MB di luar negeri seperti apa, mungkin
> masukan dari teman-teman di luar sangat dibutuhkan untuk mengkoreksi dan
> mengusulkan format yang baru dalam menyiapkan pemberdayaan mahasiswa.
>
> Viva Liverpool
> Ari Krisna
>