O Gitu...ya bagus deh.
Kalo nurut saya memang PDI-P kemungkinan besar tidak terkejar.
Sementara itu tebakan saya memang PAN tidak akan melebihi perolehan
PDI-P, cuman memang tidak megira kalo demikian terpuruk di peringkat 5.
Dalam perkiraan sebelum pemilu, perolehan suara tidak akan berbeda banyak
dg urutan PDI-P, Golkar, dan PAN, baru PKB dan PPP.
Saat ini baru terkumpul 5% suara. Dengan masuknya suara dari Jatim dan Bali,
justru suara yang tidak akan bertambah banyak adalah PKB. Mengapa? Karena
Jatim adalah basis NU (tentu dg asumsi PKU dan PNU ndak laku). PAN punya kans
tambahan banyak suara bila suara Jateng sudah masuk. Cuma di Jatengpun
PDIP justru sangat kuat. Suara dari Semarang menunjukkan ada TPS dengan
perolehan hampir 95% PDIP.
Bali memang sudah diprediksi sebagai basis PDIP. DKI saya rasa milik PDIP dan
PAN. Sulawesi mungkin PDIP dan Golkar, Maluku PDIP dan Golkar, demikian pula
dg Irja. Di Sumut kayaknya PDIP menang jauh, disusul Golkar dan PAN. Sumbar
saya rasa milik PAN juga banyak PKB, baru PDIP.
Yang mbingungi malah Jabar. Dengan jumlah calon pemilih terbesar (dan kursi
terbanyak), suara dari Jabar sangat menentukan. Yang model Riau, Sumsel,
semua yg ada di Sumbagsel saya ndak bisa ngira-ngira.
Mengenai MS sendiri, secara pribadi saya bersedih bila MS menjadi presiden.
Ini tentu saja taste pribadi. Dan tentu saja MS dapat tiba-tiba menjadi pemimpin
yang baik. Who knows?
Mengenai koalisi, bila suara sudah banyak saya kok tetap lebih memilih tidak
usah ada koalisi. Dengan adanya koalisi berarti akan ada kompromi dalam
pembagian orang-per-orang dalam kabinet atau di pemerintahan daerah.
Kalo saya boleh milih sih biar aja yang kalah menjadi partai oposisi saja.
Salah satu agenda terpenting menuju ke arah demokratisasi adalah keberadaan
partai oposisi, biar terdapat kontrol. Bukannya saya paranoia, tapi kursi
kekuasaan sangat nyaman. Penyelewengan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Dengan demikian, sistem atau iklim oposisinya dulu yg terbentuk. Di masa
lalu yg namanya oposisi langsung dianggap musuh. Sudah waktunya keberadaan
oposisi dikembangkan sebagai partner sekaligus sebagai alat kontrol, bukan
sebagai musuh lagi. Nah, untuk belajar beroposisi, mungkin komunikasi kita
di Permias@ dapat dikembangkan.
Terus terang saya melihat rekan-rekan pendukung PDIP demikian gigih membela
MS dan PDIP, dan mulai menyerang yang tidak sependapat. Ini bukan good sign
untuk pembentukan iklim oposisi atau demokratisasi. Moga-moga saja kita sama-
sama belajar. Eh, udah ah, entar dibilang sok arif lagi...hehe....
'------------------------------------------------------
bRidWaN wrote:
> Bung Jaya,
> Jangan salah paham, bukan teman diPermias@ yang
> saya maksudkan, melainkan suara diluaran.
>
> Apakah menurut anda e-mail saya banyak terkesan
> sindar-sindir ? Wah, saya terkesan....
> Tapi terima kasih atas perhatiannya terhadap e-mail
> saya, paling tidak bung Jaya memperhatikannya.....:)
>
> Salam,
> bRidWaN
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)