Terima kasih bung Mahendra,
Inilah yang saya maksudkan, terutama ditujukan
untuk Partai baru yang mempunyai 'Potensi Besar'
dimasa depan.
Syukur kalau diskusi ini bisa terbaca oleh bung Faisal.



Salam,
bRidWaN



At 02:22 PM 6/9/99 -0400, Mahendra Siregar wrote:
>Bung bRridwan,
>
>Saya sepakat dengan komentar anda mengenai perkembangan pasca-pemilu
>itu. Saya menduga telah terjadi semacam "intellectual gap" (kalau
>istilah ini dapat diterima) antara the intellectual elites di Indonesia
>(baca: elite dalam tingkat pendidikan bukan kekayaan) dengan mayoritas
>rakyat di Indonesia. Hal itu juga terjadi pada Pemilu tahun 1955 dengan
>PSI yang memiliki tokoh-tokoh yang hebat sebagai pemikir dan cendikiawan
>(seperti Prof. Soemitro, Prof Soedjatmoko dsb), namun tidak nyambung
>dan loose touch dengan aspirasi rakyatnya sehingga hanya memperoleh 4%
>suara.
>
>Kalau kondisi terjadinya gap ini memang benar, maka hal itu lebih
>merupakan tantangan bagi para intellectual kita itu untuk mampu
>"mendengar", memahami aspirasi dan berkomunikasi dengan rakyatnya
>sendiri, sebab bagaimana mungkin kita mengharapkan rakyatnya yang harus
>mengerti cara berpikir the intellectuals itu.
>
>Mahendra
>
>
>bRidWaN wrote:
>
>> Rekan-Rekan Yth.,
>>
>> Inilah cermin dari orang yang semula mengaku Demokratis.
>> Bercuap-cuap mengatakan: "Semua orang harus lapang dada menerima
>> apapun hasil Pemilu secara ksatria, karena itu adalah kehendak
>> rakyat banyak."
>>
>> Belakangan dikala PDIP meraih suara terbanyak (untuk sementara),
>> banyak orang yang mulai angkat suara, dan memojokan Ketua
>> Partainya : pendiam-lah, bodoh-lah, tidak bijaksana-lah, kurang
>> pengetahuan-lah, pendidikan rendah-lah, dan sebagainya.
>>
>> Padahal diantara mereka banyak yang mengaku Reformis,
>> dan sangat anti status-quo.
>>
>> Malah ada yang berkata, bahwa rakyat kecil tidak banyak
>> yang mengerti akan program PDIP yang tidak jelas itu.
>>
>> Memangnya siapa yang menyuruh rakyat memilih PDIP ?
>> Di-intimidasikah ? Di-paksakah ? Di-ancamkah ?
>>
>> Kelihatanya tidak !
>> Mereka sebagai pemegang kedaulatan nyata-nyata memilih
>> PDIP dengan penuh kesadaran. Mengapa ?
>> Karena PDIP sangat merakyat, sementara Partai lainnya
>> jelas hanya bermain ditingkat menengah keatas.
>>
>> Bukankah PDIP akan merupakan "Partai yang terbesar"
>> dalam kontribusinya dalam suatu Koalisi, didalam rangka
>> menghadang status-quo ? Bayangkan kalau tidak ada PDIP,
>> atau kalu PDIP terpuruk dalam pemungutan suara ?
>> Siapa yang mau menghadang laju status-quo ????
>>
>> Salam,
>> bRidWaN
>
>

Kirim email ke