Ya waktu itu kita mikirnya perlu koalisi karena berasumsi perbedaan
suara tidak menyolok. Semua terbagi merata. Bila misalkan PDI-P
mampu meraih mayoritas, ya nggak perlu koalisi. Ngapain? Ini tentu
saja bila mampu meraih lebih dari 50%. Terus terang saya meragukan-
nya. Cuma bila skenario ini terjadi ya ngapain juga.... Wong tujuannya
kan mencari cara menghadang orde baru. Sebetulnya ini ndak highly
subjective amat... mungkin saya saja yg berpendapat paling beda.

Cak Nur di harian yg dipost kemarin bilang bahwa partai-partai besar sebaiknya
berkoalisi tapi jangan semua. Kenapa? Ya biar ada yang menyusun
barisan oposisi. Ini yang saya rasa sedikit aneh.... Bagaimana memutuskan
siapa yang mesti beroposisi, siapa yang berkoalisi? Ini kan malah dapat
berubah menjadi oyok-oyokan (rebutan) posisi. Mending tegas saja
okay yang kalah jadi oposisi. Yaa.... mungkin saya berangan terlalu jauh.
Sementara yg lain beranggapan bahwa menghadang Golkar adalah agenda
nomor satu, sedangkan saya mungkin cepat berasumsi bahwa Golkar bukan
masalah, dan ingin cepat  menciptakan iklim oposisi.

Yaaa.....ndak apa-apa... kalau gitu jabatan oposisi diserahkan kembali
kepada mahasiswa. Tapi ingat lho, mahasiswa baru bisa bangkit bila sudah
terinjak dalaaaam banget. Pengalaman menunjukkan mahasiswa perlu waktu
20-30 tahun untuk bangkit.

Mengenai serangan secara pribadi kepada para calon presiden, wah
dengan bersedia menjadi calon presiden berarti harus siap ditelanjangi.
Tidak perduli AR, MS, GD, AS, ataupun BJH dan YM. Mengapa kita
boleh menelanjangi BJH (dan Ghalib) tetapi tidak boleh menelanjangi
AR, MS, dan GD? Mereka kan sama-sama caprez? Apakah kita hanya
boleh menelanjangi caprez yg ditengarai bau ORBA saja? Wah tidak
dong. Kita kan mencari presiden yang bagus. Bagaimana caranya
tahu bagus dan tidaknya ya dg cara mengumpulkan info sebanyak-
banyaknya. Kita kan bukan pendukung Liverpool yang waton lempar
botol terhadap pendukung klub lain. Kita juga mesti tidak sungkan-
sungkan berteriak "Huuuuu...." bila pemain kesayangan, eh, caprez
kesayangannya mengeluarkan statement yg nggak sip. Saya rasa ini
adalah bentuk minimal dari kepedulian akan fungsi kontrol tadi.

Oya, mengenai program, sulit untuk menilai dengan program-program
partai yang kesemuanya serba garis besar. Yang membuat saya tersenyum
adalah pemilihan partai PDI-P bukan karena programnya. Ini paling tidak
terjadi di milis ini. Contoh paling tegas saja ya....anda sendiri.... Hayo
ngaku saja....yang mana yang pas deh.... (Nah, ini saya sedang mempraktek-
kan ilmu tunjuk hidung langsung model barat, hehehe....).

Itu saya sekedar menilai berdasarkan tulisan yg masuk di milis (ya terbatas
dari tulisan B. Irwan, Blucer, YS, dll). Bila menilik tulisan tsb sih mestinya yg
pas adalah PAN yg biarpun sama-sama reformis mempunyai agenda yg
hampir 180 derajat berbalikan. Tapi ya sah-sah saja sih.....
(Ini berasumsi pengenalan program partai antara saya dan yg lain tidak
beda jauh lho. Kalau ternyata saya kebangeten kupernya thd program PDIP
ya lain cerita).

Untuk saya sendiri, yang paling pas sesuai dengan aspirasi saya justru
pemikiran PDI-P. Tapi yang tidak pas justru capreznya. Ya sah-sah juga tho?


Salam,
Jaya (Bukan pencoblos PDI-P).


'-----------------------------
bRidWaN wrote:

> Kembali kepada diskusi2 kita bersama sejak tahun lalu,
> bukankah kita sepakat untuk memasuki era Reformasi
> dengan tenteram melalui Pemilu ini. Bukankah sebelum
> Pemilu kita juga mengharap agar Koalisi 3 Partai
> dapat memenangkan suara mayoritas ?
>
> Mengenai pendapat anda tentang pendukung PDIP yang gigih
> membela PDIP, saya rasa itu juga akan terjadi bila
> seseorang yang anda jagokan diserang secara pribadi
> oleh orang lain. Misalkan AR ataupun Gus Dur.
> Kalau yang diserang adalah programnya, mungkin lain
> lagi ceritanya.
>
> Sekali lagi, saya hanya berharap agar status-quo
> benar bisa dihadang oleh koalisi 3 Partai. Tanpa koalisi
> tersebut, akan sangat berat menghadapi Golkar beserta
> Partai Partai pendukungnya.
>
> Salam,
> bRidWaN

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke