Saya juga berpikir demikian bung Jaya mengenai PAN.
Saya pikir diluar kita berdua, yang lain tentunya
berpikir sama....

Kembali kepada diskusi2 kita bersama sejak tahun lalu,
bukankah kita sepakat untuk memasuki era Reformasi
dengan tenteram melalui Pemilu ini. Bukankah sebelum
Pemilu kita juga mengharap agar Koalisi 3 Partai
dapat memenangkan suara mayoritas ?

Mengenai pendapat anda tentang pendukung PDIP yang gigih
membela PDIP, saya rasa itu juga akan terjadi bila
seseorang yang anda jagokan diserang secara pribadi
oleh orang lain. Misalkan AR ataupun Gus Dur.
Kalau yang diserang adalah programnya, mungkin lain
lagi ceritanya.

Sekali lagi, saya hanya berharap agar status-quo
benar bisa dihadang oleh koalisi 3 Partai. Tanpa koalisi
tersebut, akan sangat berat menghadapi Golkar beserta
Partai Partai pendukungnya.


Salam,
bRidWaN


At 03:28 PM 6/9/99 -0400, FNU Brawijaya wrote:
>O Gitu...ya bagus deh.
>
>Kalo nurut saya memang PDI-P kemungkinan besar tidak terkejar.
>Sementara itu tebakan saya memang PAN tidak akan melebihi perolehan
>PDI-P, cuman memang tidak megira kalo demikian terpuruk di peringkat 5.
>Dalam perkiraan sebelum pemilu, perolehan suara tidak akan berbeda banyak
>dg urutan PDI-P, Golkar, dan PAN, baru PKB dan PPP.
>
>Saat ini baru terkumpul 5% suara. Dengan masuknya suara dari Jatim dan Bali,
>justru suara yang tidak akan bertambah banyak adalah PKB. Mengapa? Karena
>Jatim adalah basis NU (tentu dg asumsi PKU dan PNU ndak laku). PAN punya kans
>tambahan banyak suara bila suara Jateng sudah masuk. Cuma di Jatengpun
>PDIP justru sangat kuat. Suara dari Semarang menunjukkan ada TPS dengan
>perolehan hampir 95% PDIP.
>
>Bali memang sudah diprediksi sebagai basis PDIP. DKI saya rasa milik PDIP dan
>PAN. Sulawesi mungkin PDIP dan Golkar, Maluku PDIP dan Golkar, demikian pula
>dg Irja. Di Sumut kayaknya PDIP menang jauh, disusul Golkar dan PAN. Sumbar
>saya rasa milik PAN juga banyak PKB, baru PDIP.
>
>Yang mbingungi malah Jabar. Dengan jumlah calon pemilih terbesar (dan kursi
>terbanyak), suara dari Jabar sangat menentukan. Yang model Riau, Sumsel,
>semua yg ada di Sumbagsel saya ndak bisa ngira-ngira.
>
>Mengenai MS sendiri, secara pribadi saya bersedih bila MS menjadi presiden.
>Ini tentu saja taste pribadi. Dan tentu saja MS dapat tiba-tiba menjadi
pemimpin
>yang baik. Who knows?
>
>Mengenai koalisi, bila suara sudah banyak saya kok tetap lebih memilih tidak
>usah ada koalisi. Dengan adanya koalisi berarti akan ada kompromi dalam
>pembagian orang-per-orang dalam kabinet atau di pemerintahan daerah.
>Kalo saya boleh milih sih biar aja yang kalah menjadi partai oposisi saja.
>Salah satu agenda terpenting menuju ke arah demokratisasi adalah keberadaan
>partai oposisi, biar terdapat kontrol. Bukannya saya paranoia, tapi kursi
>kekuasaan sangat nyaman. Penyelewengan dapat dilakukan oleh siapa saja.
>Dengan demikian, sistem atau iklim oposisinya dulu yg terbentuk. Di masa
>lalu yg namanya oposisi langsung dianggap musuh. Sudah waktunya keberadaan
>oposisi dikembangkan sebagai partner sekaligus sebagai alat kontrol, bukan
>sebagai musuh lagi. Nah, untuk belajar beroposisi, mungkin komunikasi kita
>di Permias@ dapat dikembangkan.
>
>Terus terang saya melihat rekan-rekan pendukung PDIP demikian gigih membela
>MS dan PDIP, dan mulai menyerang yang tidak sependapat. Ini bukan good sign
>untuk pembentukan iklim oposisi atau demokratisasi. Moga-moga saja kita sama-
>sama belajar. Eh, udah ah, entar dibilang sok arif lagi...hehe....
>
>
>'------------------------------------------------------
>bRidWaN wrote:
>
>> Bung Jaya,
>> Jangan salah paham, bukan teman diPermias@ yang
>> saya maksudkan, melainkan suara diluaran.
>>
>> Apakah menurut anda e-mail saya banyak terkesan
>> sindar-sindir ? Wah, saya terkesan....
>> Tapi terima kasih atas perhatiannya terhadap e-mail
>> saya, paling tidak bung Jaya memperhatikannya.....:)
>>
>> Salam,
>> bRidWaN
>
>--
>Salam,
>Jaya

Kirim email ke