...
>> Yw: Saya mikir-mikir, kalo saya menempatkan diri di posisi PAN:
>> Kenapa PAN nggak memantapkan koalisi dg PK dan PPP saja?
>> Saya pikir koalisi PAN+PPP+PK ini paling tidak bisa jadi
>> solid.
>
>Irwan:
>Koalisinya untuk apa?
Yw: Ya, utk jadi oposisi, Pak. Wong namanya kalah...
Itu yg paling pantas (menurut saya utk. PPP, PAN,
dan PK, mungkin dan PBB juga), mau apa lagi.
>Khan topik/agenda mendatang yg lagi hangat itu adalah
>pemilihan presiden.
Yw: Ya, kalo pemimpin partai visinya cuma melihat
setengah tahun ke depan, payah, dah... Kenapa nggak
mikir 20 th. ke depan? Sukarno aja dulu ngendon dulu
di penjara, dlsb, sebelum tampil... Dia udah duluan
mikir Indonesia sebelum yg lain-lainnya (kayak
Jend. Nasution, dll) mikir visi. Jend. Ramos yg
mengamankan reformasi (di Filipin) juga bisa sabar
nungguin lengsernya Bu Aquino (yg nota bene adalah
karbitan).
Jadi, kalo (praktek berpolitik) mau dijalankan fair,
ya, yg kalah sekarang, siap-siap utk tampil lagi
lima tahun lagi. Jangan terus main cing-cai, cing-cai
dg segala jurus akrobat utk mengakali rakyat
merebut kursi presiden dg jurus belut berkelit
jadi dendeng... (Eh, ada nggak sih jurus begituan? ;-).
>Kalau PAN+PPP+PK saja yg berkoalisi, ya kurang dong suaranya.
Yw: Utk jadi presiden: setuju. Emang kurang.
Tapi utk jadi oposan yg handal jepit dan favorit rakyat
(yg aspirasinya tdk terakomodir oleh the ruling party):
cukup solid.
>Tapi kalau PAN+PPP+PK+PKB+PDIP berkoalisi untuk memilih presiden
>mendatang, itu baru kuat....:)
Yw: Kalo ini yg terjadi, emang kuat. Tapi oposannya lalu
adalah golkar (yg dijalanan nggak didukung rakyat),
jadi kurang solid. Perimbangan kurang imbang...
Sementara kalo pola saya, oposannya jadi ada dua:
Golkar in one hand, dan koalisi itu (PAN+PPP+PK) di pihak
lain. Jadi rangkap dua. Karena memang nyatanya:
hasil pemilu (ie. kehendak rakyat) mencerminkan itu.
Lain dari itu, in some sense sama artinya dg me-mleset-kan
kehendak rakyat.
Ini tentunya kalo rakyat 'dianggep'; otherwise, ya
saya no comment, lah. Karena kalo jaman begini rakyat
masih nggak dianggep juga, ya sama artinya dg orde
baru versi kedua, lah. Too bad. ;-)
>Nah, kalau nanti dalam sidang2, ya baiknya jangan diomongin
>dulu dari sekarang akan berkoalisi. Bagusan berkoalisinya
>kasus per kasus. Kalau udah koalisi permanen mah mending
>lebur saja dong. Tul, ngga?....:)
Yw: Setuju. Kalo dalam sidang-sidang, ya, kalo mau bener:
let the best (ideas) win. Jadi bisa ada dynamic coal.
>Saya masih yakin PAN dalam 5 tahun ke depan akan menjadi
>partai besar asalkan mereka tetap konsisten dengan garis perjuangan
>mereka saat ini.
Yw: Itu hanya mungkin kalo Amien Rais ada 'pelapisnya'.
Kalo terpusat (karisma, kebesaran, etc), di satu orang,
ya, sekali ybs. 'pilek', sayonara... Sekarang AR
(saya anggap) karismatik di kalangan orang kota 'terpelajar',
nah, tokoh PAN yg karismatik di kalangan orang desa
mana? di kalangan orang kurang terpelajar mana? Di kalangan
non-Islam, kalangan abdi-negara, etc. mana? Tidak ada yg
benar-benar direcognise karismanya.
>Saya pun akan mempertimbangkan memilih
>PAN pada 5 tahun mendatang asalkan PAN tetap dengan
>rencana membentuk negara federalnya. Kalau sekarang, agenda
>itu bagi saya kurang cocok karena kondisi masyarakatnya
>dan strukturnya belum pas/mendukung untuk membentuk
>negara federal. Biarlah 5 tahun ini disiapkan menuju ke sana.
Yw: 5 tahun lagi, petanya harusnya udah beda.
Mungkin PAN udah nggak ada lagi (merger dg PPP, PK,
atau mungkin malah merger dg Indofood,... he, he, he...
supaya gampang bagi-bagi mie instant buat mahasiswa).
>Saya berharap PAN tetap pada garis reformasi dan
>dahulukan kedaulatan rakyat.
>Jangan biarkan Golkar yg sudah bikin susah rakyat berpuluh
>tahun, sudah mengadu domba dengan menggunakan unsur SARA,
>dibiarkan memimpin negeri ini. Buat apa dong kemarin2 itu
>mahasiswa pada demo, rakyat pada turun bersatu, kalau
>akhirnya ke Golkar lagi ke Golkar lagi.
Yw: Sebetulnya yg bikin susah rakyat itu bukan
Akbar Tanjung, dlsb. Menurut saya, kalo dilihat jernih,
di Golkar (Baru), banyak juga orang yg moderat, ada juga
yg reformis (tapi tidak radikal). Mungkin kalo mereka
melihat nama golkar 'ngganggu', bisa aja, pada kesempatan
berikutnya di-rename, namanya tidak lagi Partai Golongan
Karya, tapi misalnya: Partai Karya Golongan Perjuangan.
(Biasa kan, orang Indonesia suka latah... Begitu PDI
ditambah kata 'perjuangan' sukses... diikutin. Ha, ha.. ;-)
Dan simbolnya bukan pohon beringin lagi,... tapi
misalnya: celana kolor yg diatur sedemikian rupa,
tetap sama dg atau mirip dg pohon beringin yg sekarang.
Ha, ha...
>Jangan sia2kan darah yg sudah tertumpah dalam menumbangkan
>rejim orde baru.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
Yw: Kata pepatah: 'the front liners won't get that much...'
Yg digaris depan, disia-siakan sih enggak, tapi dapetnya
cuma dikit aja... Biasanya gitu. Soal adil atau enggak,
ya, emang udah suratan... nasib. ;-)