Irwan maaf jika aya tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu, saya mulai sibuk sekali, tidak punya banyak waktu untuk didepan komputer lama lama.Dan mungkin ini juga merupakan email saya yang terakhir, saya akan kembali hanya menjadi pembaca saja, kalau ada waktu , dan kalau tidak paling email email kalian akan masuk tong sampah, karena tidak sempat dibuka selama berhari hari.Semoga anda tidak salah terima, saya senang dengan pertanyaan anda dan saya menghargai semua pertanyaan anda, nanti kalau saya keperpusatakaan dan menemukan buku buku yang dapat menjawab pertanyaan anda, akan saya inform kan ke anda. Saya harap ada rekan lain yang dapat membantu menjelaskan kepada Irwan masalah kewanitaan dalam Islam. Tetapi yang terbaik, yaitu silahkan cari jawaban atas pertanyaan kamu melalui buku buku di perpustakaan. Dan satu kunci yang saya harapkan agar kamu tidak memaksakan diri, apabila kamu menemui bahwa diri kamu belum juga mengerti atas semua penjelasan yang kamu terima, yakni masalah yang kamu pertanyakan ini adalah masalah agama. Agama adalah melibatkan masalah kepercayaan hati sesaorang terhadap agama itu sendiri. Mereka percaya terhadap agama yang dianut dengan menggunakan hati, tidak hanya dengan akal. Kadang suatu hal tampaknya tidak dapat diterima oleh akal sehat, tetapi oleh penganut agama tersebut diterima dengan lapang dada, ini namanya suatu kepercayaan atau iman. Bukan berarti mereka menerima begitu saja tanpa mempertanyakan latar belakangnya, tetapi maksud saya, keimanan seseorang terhadapo suatu agama membantu mempermudah mempercayai dan mengerti apa yang diajarkan, kecuali orang orang tersebut belum benar benar beriman. Ini sebenarnya inti jawaban dari semua pertanyaan kamu. Selamat mencari buku bukunya semoga memuaskan pertanyaan pertanyaan kamu. yuni Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: In a message dated 6/16/99 12:59:12 PM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED] writes: > yuni: sorry deh saya salah dalam mengutip, bukannya saya tidak hapal, tepi > salah tulis, karena banyak hal dibenak saya. Lha wong sewaktu saya nulis > kutipan tersebut, saya punya Qur'an di depan saya. Maaf kecerobohan saya. > Irwan , seperti yang saya katakan diatas bahwa tidak hanya ayat tersebut > diatas saja yang secara tegas membedakan laki & perempuan tapi banyak lagi. > Memang orang beragama lain akan menyerang bahwa itu untuk berumah tangga, > sebenarnya tidak hanya terbatas pada rumah tangga. Bayangkan dalam rumah > tangga saja perempuan tidak bisa jadi pemimpin, maka apalagi dalam suatu > negara. Saya baca Gus Dur pun mengutip ayat tersebut, jadi saya kira > pendapat > saya ini cukup. Kalau saya ketemu ayat lain yang mendukung, saya akan > berikan > kepada anda. Irwan: Mbak Yuni, sampai sekarang saya tunggu2 ternyata anda belum juga memberikan ayat2 lain yg anda janjikan tersebut. Apakah memang terlalu sulit buat anda menemukan hal tersebut? Ada rekan2 lain yg bersedia membantu mbak Yuni dalam mengutipkan ayat2 yg dia maksud? Penggunaan argumentasi: "Bayangkan dalam rumah tangga saja perempuan tidak bisa jadi pemimpin, maka apalagi dalam suatu negara." bagi saya sangat sulit diterima mengingat anda membolehkan wanita jadi pemimpin untuk kasus2 tertentu. Padahal, kalau anda konsisten dengan pola pikir di atas, maka seharusnya dalam situasi apapun, dimanapun, wanita tidak boleh memimpin pria. Wanita tidak boleh jadi direktur yg membawahi pria. Wanita tidak boleh jadi pimpinan cabang bank yg membawahi pria. Wanita tidak boleh jadi kepala departemen yg membawahi pria. Wanita tidak boleh jadi kepala sekolah yg membawahi pria. Wanita tidak boleh jadi menteri yg membawahi pria. Wanita tidak boleh jadi ketua organisasi yg membawahi pria. Wanita tidak boleh menjadi manager yg membawahi pria, dst. Wanita harus lebih rendah kedudukannya dari pria, tidak boleh lebih tinggi dari pria. Wanita hanya boleh menjadi ketua atau pimpinan bila bawahannya tidak ada laki2nya, hanya khusus wanita. Ini kalau anda mau konsisten dengan logika berpikir anda di atas kecuali anda mau mendua. Sekedar informasi tambahan buat anda, Amien Rais dan Gus Dur mengatakan dalam ajaran Islam tidak ada larangan wanita tidak boleh jadi presiden atau pimpinan pemerintahan. Dan masih banyak lagi ulama2 yg berpikiran sama. Mbak Yuni, sayang sekali anda belum bisa memberikan jawaban yg menguatkan pernyataan anda sebelumnya. Tadinya saya berharap anda memang mengetahui mengenai larangan hal tersebut seperti yg tersirat dalam posting anda pertama dengan subyek ini. Saya kutipkan kembali di akhir posting ini tulisan anda pertama dan pertanyaan2 yg saya ajukan yg sampai sekarang belum dijawab dengan baik. Bangladesh, Pakistan, Turkey, yg merupakan negara Islam pernah memiliki kepala pemerintahan seorang wanita. Setahu saya, suatu negara Islam memakai Al Quran sebagai dasar hukum negaranya. Dalam benak saya sangatlah tidak masuk akal bila memang di Al Quran wanita dilarang jadi pemimpin, tapi mereka (Bangladesh, Pakistan, Turkey) mengangkat seorang wanita menjadi pimpinan mereka. Catatan tambahan: Saya makin rancu dengan usulan Gus Dur dalam pertemuannya dengan wakil IMF sempat melontarkan pemikiran untuk mengusulkan Amien Rais sebagai kepala pemerintahan (Presiden) dan Megawati sebagai kepala negara (ketua MPR) dengan alasan untuk menghindari deadlock soal pemilihan presiden karena masih adanya pihak2 yg belum bisa menerima jabatan presiden dipegang oleh seorang wanita. http://www.detik.com/berita/199906/19990619-1504.html Padahal kalau diperhatikan wanita yg menjadi pimpinan di Pakistan dan Bangladesh tersebut menjabat sebagai Prime Minister (PM) atau kepala pemerintahan. Ini salah satu alasan yg dipakai oleh PKU dengan mengatakan kalau wanita jadi PM itu boleh tapi jadi presiden itu yg ngga boleh dengan dasar pemikiran bahwa jabatan PM tidak mempunya kedaulatan secara penuh seperti presiden. Lanjutnya lagi, sedangkan presiden menurut konsep Islam adalah seorang kepala negara yg kekuasaannya lebih besar dibanding seorang PM. Artikel lengkapnya dapat dibaca di: http://www.detik.com/berita/199904/990430-1845.html Walau pernyataan di atas masih penuh tanda tanya, mari kita lihat apa yg dia ungkapkan dan apa yg ada di Indonesia. Di Indonesia, posisi presiden masih di bawah MPR (mbak Yuni tentu masih ingat bagaimana anda menjelaskan kepada saya tentang kedudukan DPA, MPR, Presiden, tempo hari kepada saya). Dengan kata lain, MPR masih lebih berkuasa dari seorang presiden karena memang kita menganut sistem kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat yg dilaksanakan oleh MPR. Jelas sekali disini Presiden hanyalah seorang bawahan dari MPR. Dengan demikian maka saya masih jauh lebih bisa menerima keberatan2 para ulama kalau keberatan tersebut mereka tujukan ke posisi ketua MPR, dalam artian keberatan ketua MPR dijabat oleh wanita. Hal ini mengingat ketua MPR mempunyai posisi paling tertinggi. Mungkin orang PKU rancu dengan jabatan presiden yg seperti dipegang oleh Soeharto selama ini dimana tampaknya kekuasaan seperti tidak ada batasnya. Mari kita tengok kembali usulan Gus Dur untuk memisahkan keuasaan antara kepala negara dan kepala pemerintahan. Bagi saya ini tidak jadi masalah. Hanya saja usulan nama yg dia ajukan menurut saya terbalik. Seharusnya dia mengusulkan nama Megawati untuk posisi kepala pemerintahan (presiden) dan Amien Rais (atau pria muslim lainnya) untuk posisi kepala negara (ketua MPR). Dengan demikian kondisi ini bisa menengahi pertentangan yg ada. Demikian saja ulasan saya kali ini. Saya tetap mempertanyakan alasan2 pelarangan wanita tidak boleh menjadi presiden/pemimpin suatu pemerintahan. Saya akan berhenti mempertanyakan kalau memang hal tersebut jelas2 dilarang oleh suatu agama yg seharusnya bisa dibuktikan dengan aturan2 yg berlaku dalam agama tersebut dan bukan hasil subyektifitas seseorang/sekelompok orang saja atau lebih parahnya lagi hasil karang2an saja dalam rangka proses "penjegalan". Saya kutipkan kembali pertanyaan2 saya tersebut yg masih membutuhkan jawaban. catatan tambahan: Tampaknya saya belum mendapat masukan dari rekan2 muslim lainnya mengenai hal ini. Kalau memang ada larangan, silahkan disampaikan agar saya boleh dimengertikan. Kalau tidak ada penjelasan saya asumsikan anda sepakat bahwa memang dalam Islam sebenarnya tidak dilarang wanita untuk menjadi presiden atau kepala pemerintahan. Terima kasih sebelumnya. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu > Sebelumnya Yuni ada menulis: > > In a message dated 6/14/99 2:18:09 PM Eastern Daylight Time, > > [EMAIL PROTECTED] writes: > > > > > Pernahkah tokoh muslim Indonesia menyerukan secara nasional kepada > rakyat > > > Indonesia bahwa memilih pemimpin wanita adalah suatu pelanggaran > kepada > > > syariat agama Islam??????? > > > > > > terima kasih > > > yuni > > > > > Kemudian saya bertanya: > > > > > Irwan: > > Bisakah anda kutipkan ayatnya secara lengkap? > > Pertanyaan saya berikutnya: > > 1.Bisa tolong dijelaskan kenapa Bangladesh dan > > Pakistan yg notabene negara Islam punya pemimpin > > wanita? > > 2.Bisa tolong dijelaskan kenapa kita boleh punya > > menteri wanita yg notabene memimpin suatu > > departemen? > > 3.Bisa tolong dijelaskan apakah wanita juga dilarang > > menjadi direktur yg notabene adalah pemimpin perusahaan? > > Kalau tidak dilarang, mengapa tidak? Kalau dilarang, > > kenapa selama ini tidak ada seruan tersebut? > > 4.Apakah definisi pemimpin itu bagi anda? > > > > jabat erat, > > Irwan Ariston Napitupulu > > > > Kini saya menunggu penjelasan. > Bung Rosadi mungkin bisa membantu menjelaskan > hal ini agar saya bisa lebih mengetahui hal yg > sebenarnya. > > catatan: > Mohon saya diingatkan kalau pertanyaan2 saya tersebut > sudah dianggap melanggar garis batas karena tidak > ada maksud saya melakukan hal tersebut. > Terima kasih. > > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > ____________________________________________________________________ Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at http://webmail.netscape.com.
