Ada lagi, Lae. Bagian terbesar pengawal pribadi Moammar Khadafy adalah
wanita (cantik lagi). Di sini malah serem-serem pengawalnya. Apalagi
pengawal Ghalib yang makek para atlet Pelatnas (karate).
Efron
-----Original Message-----
From: Irwan Ariston Napitupulu [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, 21 June, 1999 14:34 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Re: [Re: Irwan[Re: minta informasi penting]]]
In a message dated 6/20/99 2:03:51 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Irwan maaf jika aya tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu,
Irwan:
Ya ngga apa koq, mbak Yuni. Setiap orang itu punya keterbatasan,
tidak terkecuali anda dan saya.
Saya awalnya tanya ke anda karena tampaknya anda saya
perhatikan cukup menguasai hal tersebut dari tulisan atau
pernyataan anda yg anda buat. Tapi mau dibilang apa lagi
kalau pernyataan anda tersebut hanyalah sebuah pernyataan
saja yg tampaknya kurang didukung oleh fakta.
Saya bisa mengerti koq.
Paling tidak, jadikanlah hal yg kemarin2 itu jadi pelajaran
agar kita hendaknya lebih berhati2 lagi dalam menulis.
Jangan pernah mengannggap diri yg paling tahu dari yg
lain. Di atas awan ada langit.
Yuni:
> saya mulai
> sibuk sekali, tidak punya banyak waktu untuk didepan komputer lama lama.
Irwan:
Sebenarnya alasan ini kurang baik diajukan. Kita disini
masing2 punya kesibukan sendiri.
Jangan seperti bung Boy itu ah, yg ngajuin usul agar
milis permias ini dibatesin hanya untuk mahasiswa AS
saja (bahkan katanya didukung oleh rekan2nya yg kuliah
di 12 states itu), eh dianya sendiri akhirnya bilang
lagi sibuk jadi ngga bisa ngasih tanggepan lagi.
Khan aneh jadinya. Jangan2 teman2nya yg di 12 states
itu juga sibuk banget jadi ngga sempet nulis cuma
ngga kepengen ada orang lain non mahasiswa AS
yg nulis di milis ini. Kalau mereka2 itu pada rajin
nulis di milis ini sih yg saya bisa maklum, tapi kalau
sebaliknya.....ya, gimana gitu kayaknya.....:)
Yuni:
> Dan
> mungkin ini juga merupakan email saya yang terakhir, saya akan kembali
hanya
> menjadi pembaca saja, kalau ada waktu , dan kalau tidak paling email
email
> kalian akan masuk tong sampah, karena tidak sempat dibuka selama berhari
> hari.
Irwan:
Mbak Yuni pernah denger ini ngga:
"Berikanlah pekerjaan/tugas kepada orang yg sibuk."
Yuni:
> Semoga anda tidak salah terima, saya senang dengan pertanyaan anda dan
> saya menghargai semua pertanyaan anda, nanti kalau saya keperpusatakaan
dan
> menemukan buku buku yang dapat menjawab pertanyaan anda, akan saya inform
> kan
> ke anda.
Irwan:
Tadinya saya pikir anda menguasai betul apa yg anda
ucapkan. Tapi ya sudahlah, mau diapakan lagi kalau ternyata
anda tidak bisa memberikan dukungan untuk pernyataan
anda sendiri. Yah, beginilah resikonya kalau ikut milis
yg beragam anggotanya dan juga kritis.
Yuni:
> Saya harap ada rekan lain yang dapat membantu menjelaskan kepada
> Irwan masalah kewanitaan dalam Islam.
Irwan:
Saya ngga nanya masalah kewanitaan dalam Islam.
Yang saya tanyakan itu masalah wanita yg ngga boleh
jadi presiden atau pemimpin pemerintahan. Itu yg saya
tanyakan ketika anda menyatakan hal itu pertama kali.
Anda tahu Alwi Shihab?
Saya tadinya ngga tahu dia. Eh....pas baca Gatra baru
edisi 19 Juni 1999 (kebetulan ada ortunya teman yg
bawain dari Jakarta), gue ngga nyangka dah dia ternyata
orang hebat. Pendidikannya pun tinggi banget dan
pendidikanya itu ya soal Islam.
Mau tahu soal pendapat dia tentang apakah Islam melarang
wanita jadi presiden atau pemimpin pemerintahan?
Alwi Shihab mengatakan demikian,
"Sekali lagi saya tegas, kepemimpinan perempuan
itu tidak dosa atau haram."
http://www.detik.com/berita/199906/19990611-1500.html
Saya awalnya baca pernyataannya di detik itu dulu
(12 Juni) ya biasa2 saja karena saya anggap ini pandangan
dari satu ulama yg kebetulan tidak masalah dengan
pemimpin wanita. Tapi setelah saya baca di Gatra,
siapa itu Alwi Shihab, dan melihat latar belakang pendidikannya
(Phd) yg memang konsentrasinya di bidang Islam bahkan
banyak diakui dan diminta ngajar di berbagai universitas,
saya jadi terkejut karena ucapan ini keluar dari seseorang
yg saya anggap mengetahui permasalahan dengan lebih
jelas. Itulah sebabnya saya ngga heran negara2 Islam
seperti Bangladesh, Pakistan, Turki, tidak mempermasalahkan
pemimpin pemerintahan dipegang oleh wanita karena memang
ternyata tidak dilarang oleh kitab suci mereka, Al-Quran.
Yuni:
> Tetapi yang terbaik, yaitu silahkan cari jawaban atas pertanyaan kamu
> melalui
> buku buku di perpustakaan. Dan satu kunci yang saya harapkan agar kamu
> tidak
> memaksakan diri, apabila kamu menemui bahwa diri kamu belum juga
mengerti
> atas semua penjelasan yang kamu terima, yakni masalah yang kamu
pertanyakan
> ini adalah masalah agama. Agama adalah melibatkan masalah kepercayaan
hati
> sesaorang terhadap agama itu sendiri. Mereka percaya terhadap agama yang
> dianut dengan menggunakan hati, tidak hanya dengan akal. Kadang suatu hal
> tampaknya tidak dapat diterima oleh akal sehat, tetapi oleh penganut
agama
> tersebut diterima dengan lapang dada, ini namanya suatu kepercayaan atau
> iman.
> Bukan berarti mereka menerima begitu saja tanpa mempertanyakan latar
> belakangnya, tetapi maksud saya, keimanan seseorang terhadapo suatu agama
> membantu mempermudah mempercayai dan mengerti apa yang diajarkan, kecuali
> orang orang tersebut belum benar benar beriman.
Irwan:
Apa yg anda ungkapkan di atas itu benar.
Karena anda adalah penganut agama Islam, maka
keimanan anda tersebut mengacu pada ajaran2 yg
tertulis dalam Al-Quran, bukan?
Nah, sebaiknya soal wanita boleh atau tidak jadi
pemimpin pemerintahan, sebaiknya anda membaca
langsung di Al-Quran, pelajari hal tersebut. Jangan
hanya mendengar dari mulut orang lain saja, sekalipun
itu guru ngaji anda. Anda seharusnya menjadi orang
yg kritis dalam mempelajari ajaran agama anda.
Jangan telan bulat2 apa yg dikatakan orang, tapi baca
langsung sumbernya, baca kitab suci anda, Al-Quran.
Yuni:
> Ini sebenarnya inti jawaban dari semua pertanyaan kamu.
> Selamat mencari buku bukunya semoga memuaskan pertanyaan pertanyaan kamu.
Irwan:
Anda waktu itu mengutip ayat, lalu saya langsung cari
dari sumbernya, ternyata ayat yg anda sebut itu tidak
menyatakan demikian. Lalu saya koreksi dengan ayat
yg benar. Saya kutipkan lengkap dan ternyata apa
yg disampaikan di ayat tersebut tidak menunjukkan
hal yg anda ungkapkan sebelumnya. Bahkan saya
menyarankan anda membaca ayat setelahnya untuk
menangkap apa yg dimaksud dengan ayat itu.
Jelas2 terlihat bahwa ayat tersebut untuk masalah keluarga,
masalah hubungan suami dan istri.
Tapi kemudian anda mengalihkan dasar argumentasi
anda dengan mengatakan bahwa di keluarga saja
ngga boleh apalagi untuk ukuran negara.
Dengan logika ini maka wanita tidak boleh jadi pemimpin
dalam bentuk apapun, termasuk jadi ketua RT/RW, lurah,
camat, bupati, walikota, gubernur, menteri (selain UPW).
Juga termasuk pimpinan2 dengan jabatan2 seperti,
supervisor, manager, direktur, pimpinan cabang, dst,
selama memiliki bawahan laki2. Begitu khan logikanya?
Dan tampaknya anda tidak sanggup lagi melihat kembali
logika anda tersebut yg memang tampaknya tidak didukung
fakta yg kuat. Untuk memudahkan, ya anda tinggal suruh
saja orang tersebut cari diperpustakaan.....:)
Maaf, saya tidak akan cari ke perpustakaan karena
pendapat2 seperti, Gus Dur, Amien Rais, Alwi Shihab, dll
yg pernah sempat saya baca, sudah memberikan gambaran
bahwa dalam ajaran agama Islam tidak dilarang wanita
menjadi pemimpin atau kepala pemerintahan.
Bahkan saya bisa lihat langsung bukti nyata akan hal tersebut
yaitu dengan adanya pemimpin pemerintahan yg dijabat
oleh wanita di negara Islam seperti Bangladesh, Pakistan,
dan Turki.
Terima kasih atas bincang2 ini terutama karena
anda telah mengangkat hal ini ke permukaan sehingga
kita bisa lebih tahu akan hal yg sebenarnya.
Sekarang jamannya informasi, rakyat ngga bisa lagi
dibodoh2in seperti jaman orba dulu.
Saya kutipkan saja kembali ayat dari Al-Quran yg
pernah digunakan oleh mbak Yuni untuk menunjukkan
wanita tidak boleh jadi pemimpin atau kepala pemerintahan
yg sayangnya hanya dikutip sepenggal saja yaitu
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita..."
yg berasal dari Annisaa 34 (bukan Annisaa 38 seperti
yg dikatakan oleh mbak Yuni pada awalnya).
Dan setelah saya baca secara lengkap ternyata pemenggalan
separuh2 itu bisa mengaburkan apa yg sebenarnya ingin
disampaikan oleh ayat tersebut.
Selanjutnya saya serahkan saja kembali ke rekan2 tentang
hal ini.
Saya akan mengutipkan kembali secara lengkap
Annisaa 34 dan juga Annisaa 35 yg sempat saya katakan
ke Yuni bahwa dalam Annisaa 35 itu makin jelas
menunjukkan apa yg sedang dibicarakan.
Annisaa 34:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara
(mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan
pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi
lagi Maha Besar.
Annisaa 35:
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah
seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga
perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan,
niscaya
Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.
keterangan:
nusyuz = meninggalkan kewajiban bersuami-istri
hakam = juru pendamai
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu