In a message dated 6/20/99 2:03:51 PM Eastern Daylight Time, [EMAIL PROTECTED] writes: > Irwan maaf jika aya tidak bisa menjawab semua pertanyaan kamu, Irwan: Ya ngga apa koq, mbak Yuni. Setiap orang itu punya keterbatasan, tidak terkecuali anda dan saya. Saya awalnya tanya ke anda karena tampaknya anda saya perhatikan cukup menguasai hal tersebut dari tulisan atau pernyataan anda yg anda buat. Tapi mau dibilang apa lagi kalau pernyataan anda tersebut hanyalah sebuah pernyataan saja yg tampaknya kurang didukung oleh fakta. Saya bisa mengerti koq. Paling tidak, jadikanlah hal yg kemarin2 itu jadi pelajaran agar kita hendaknya lebih berhati2 lagi dalam menulis. Jangan pernah mengannggap diri yg paling tahu dari yg lain. Di atas awan ada langit. Yuni: > saya mulai > sibuk sekali, tidak punya banyak waktu untuk didepan komputer lama lama. Irwan: Sebenarnya alasan ini kurang baik diajukan. Kita disini masing2 punya kesibukan sendiri. Jangan seperti bung Boy itu ah, yg ngajuin usul agar milis permias ini dibatesin hanya untuk mahasiswa AS saja (bahkan katanya didukung oleh rekan2nya yg kuliah di 12 states itu), eh dianya sendiri akhirnya bilang lagi sibuk jadi ngga bisa ngasih tanggepan lagi. Khan aneh jadinya. Jangan2 teman2nya yg di 12 states itu juga sibuk banget jadi ngga sempet nulis cuma ngga kepengen ada orang lain non mahasiswa AS yg nulis di milis ini. Kalau mereka2 itu pada rajin nulis di milis ini sih yg saya bisa maklum, tapi kalau sebaliknya.....ya, gimana gitu kayaknya.....:) Yuni: > Dan > mungkin ini juga merupakan email saya yang terakhir, saya akan kembali hanya > menjadi pembaca saja, kalau ada waktu , dan kalau tidak paling email email > kalian akan masuk tong sampah, karena tidak sempat dibuka selama berhari > hari. Irwan: Mbak Yuni pernah denger ini ngga: "Berikanlah pekerjaan/tugas kepada orang yg sibuk." Yuni: > Semoga anda tidak salah terima, saya senang dengan pertanyaan anda dan > saya menghargai semua pertanyaan anda, nanti kalau saya keperpusatakaan dan > menemukan buku buku yang dapat menjawab pertanyaan anda, akan saya inform > kan > ke anda. Irwan: Tadinya saya pikir anda menguasai betul apa yg anda ucapkan. Tapi ya sudahlah, mau diapakan lagi kalau ternyata anda tidak bisa memberikan dukungan untuk pernyataan anda sendiri. Yah, beginilah resikonya kalau ikut milis yg beragam anggotanya dan juga kritis. Yuni: > Saya harap ada rekan lain yang dapat membantu menjelaskan kepada > Irwan masalah kewanitaan dalam Islam. Irwan: Saya ngga nanya masalah kewanitaan dalam Islam. Yang saya tanyakan itu masalah wanita yg ngga boleh jadi presiden atau pemimpin pemerintahan. Itu yg saya tanyakan ketika anda menyatakan hal itu pertama kali. Anda tahu Alwi Shihab? Saya tadinya ngga tahu dia. Eh....pas baca Gatra baru edisi 19 Juni 1999 (kebetulan ada ortunya teman yg bawain dari Jakarta), gue ngga nyangka dah dia ternyata orang hebat. Pendidikannya pun tinggi banget dan pendidikanya itu ya soal Islam. Mau tahu soal pendapat dia tentang apakah Islam melarang wanita jadi presiden atau pemimpin pemerintahan? Alwi Shihab mengatakan demikian, "Sekali lagi saya tegas, kepemimpinan perempuan itu tidak dosa atau haram." http://www.detik.com/berita/199906/19990611-1500.html Saya awalnya baca pernyataannya di detik itu dulu (12 Juni) ya biasa2 saja karena saya anggap ini pandangan dari satu ulama yg kebetulan tidak masalah dengan pemimpin wanita. Tapi setelah saya baca di Gatra, siapa itu Alwi Shihab, dan melihat latar belakang pendidikannya (Phd) yg memang konsentrasinya di bidang Islam bahkan banyak diakui dan diminta ngajar di berbagai universitas, saya jadi terkejut karena ucapan ini keluar dari seseorang yg saya anggap mengetahui permasalahan dengan lebih jelas. Itulah sebabnya saya ngga heran negara2 Islam seperti Bangladesh, Pakistan, Turki, tidak mempermasalahkan pemimpin pemerintahan dipegang oleh wanita karena memang ternyata tidak dilarang oleh kitab suci mereka, Al-Quran. Yuni: > Tetapi yang terbaik, yaitu silahkan cari jawaban atas pertanyaan kamu > melalui > buku buku di perpustakaan. Dan satu kunci yang saya harapkan agar kamu > tidak > memaksakan diri, apabila kamu menemui bahwa diri kamu belum juga mengerti > atas semua penjelasan yang kamu terima, yakni masalah yang kamu pertanyakan > ini adalah masalah agama. Agama adalah melibatkan masalah kepercayaan hati > sesaorang terhadap agama itu sendiri. Mereka percaya terhadap agama yang > dianut dengan menggunakan hati, tidak hanya dengan akal. Kadang suatu hal > tampaknya tidak dapat diterima oleh akal sehat, tetapi oleh penganut agama > tersebut diterima dengan lapang dada, ini namanya suatu kepercayaan atau > iman. > Bukan berarti mereka menerima begitu saja tanpa mempertanyakan latar > belakangnya, tetapi maksud saya, keimanan seseorang terhadapo suatu agama > membantu mempermudah mempercayai dan mengerti apa yang diajarkan, kecuali > orang orang tersebut belum benar benar beriman. Irwan: Apa yg anda ungkapkan di atas itu benar. Karena anda adalah penganut agama Islam, maka keimanan anda tersebut mengacu pada ajaran2 yg tertulis dalam Al-Quran, bukan? Nah, sebaiknya soal wanita boleh atau tidak jadi pemimpin pemerintahan, sebaiknya anda membaca langsung di Al-Quran, pelajari hal tersebut. Jangan hanya mendengar dari mulut orang lain saja, sekalipun itu guru ngaji anda. Anda seharusnya menjadi orang yg kritis dalam mempelajari ajaran agama anda. Jangan telan bulat2 apa yg dikatakan orang, tapi baca langsung sumbernya, baca kitab suci anda, Al-Quran. Yuni: > Ini sebenarnya inti jawaban dari semua pertanyaan kamu. > Selamat mencari buku bukunya semoga memuaskan pertanyaan pertanyaan kamu. Irwan: Anda waktu itu mengutip ayat, lalu saya langsung cari dari sumbernya, ternyata ayat yg anda sebut itu tidak menyatakan demikian. Lalu saya koreksi dengan ayat yg benar. Saya kutipkan lengkap dan ternyata apa yg disampaikan di ayat tersebut tidak menunjukkan hal yg anda ungkapkan sebelumnya. Bahkan saya menyarankan anda membaca ayat setelahnya untuk menangkap apa yg dimaksud dengan ayat itu. Jelas2 terlihat bahwa ayat tersebut untuk masalah keluarga, masalah hubungan suami dan istri. Tapi kemudian anda mengalihkan dasar argumentasi anda dengan mengatakan bahwa di keluarga saja ngga boleh apalagi untuk ukuran negara. Dengan logika ini maka wanita tidak boleh jadi pemimpin dalam bentuk apapun, termasuk jadi ketua RT/RW, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, menteri (selain UPW). Juga termasuk pimpinan2 dengan jabatan2 seperti, supervisor, manager, direktur, pimpinan cabang, dst, selama memiliki bawahan laki2. Begitu khan logikanya? Dan tampaknya anda tidak sanggup lagi melihat kembali logika anda tersebut yg memang tampaknya tidak didukung fakta yg kuat. Untuk memudahkan, ya anda tinggal suruh saja orang tersebut cari diperpustakaan.....:) Maaf, saya tidak akan cari ke perpustakaan karena pendapat2 seperti, Gus Dur, Amien Rais, Alwi Shihab, dll yg pernah sempat saya baca, sudah memberikan gambaran bahwa dalam ajaran agama Islam tidak dilarang wanita menjadi pemimpin atau kepala pemerintahan. Bahkan saya bisa lihat langsung bukti nyata akan hal tersebut yaitu dengan adanya pemimpin pemerintahan yg dijabat oleh wanita di negara Islam seperti Bangladesh, Pakistan, dan Turki. Terima kasih atas bincang2 ini terutama karena anda telah mengangkat hal ini ke permukaan sehingga kita bisa lebih tahu akan hal yg sebenarnya. Sekarang jamannya informasi, rakyat ngga bisa lagi dibodoh2in seperti jaman orba dulu. Saya kutipkan saja kembali ayat dari Al-Quran yg pernah digunakan oleh mbak Yuni untuk menunjukkan wanita tidak boleh jadi pemimpin atau kepala pemerintahan yg sayangnya hanya dikutip sepenggal saja yaitu "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita..." yg berasal dari Annisaa 34 (bukan Annisaa 38 seperti yg dikatakan oleh mbak Yuni pada awalnya). Dan setelah saya baca secara lengkap ternyata pemenggalan separuh2 itu bisa mengaburkan apa yg sebenarnya ingin disampaikan oleh ayat tersebut. Selanjutnya saya serahkan saja kembali ke rekan2 tentang hal ini. Saya akan mengutipkan kembali secara lengkap Annisaa 34 dan juga Annisaa 35 yg sempat saya katakan ke Yuni bahwa dalam Annisaa 35 itu makin jelas menunjukkan apa yg sedang dibicarakan. Annisaa 34: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Annisaa 35: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. keterangan: nusyuz = meninggalkan kewajiban bersuami-istri hakam = juru pendamai jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
