Jadi Pandir sebagai Islam apakah bisa merasakan kaum non-Islam. Apa yang bung
harus lakukan jika ada Dai teriak-teriak bahwa agama diluar Islam kafir, apa yang
bung harus lakukan jika sehabis sholat jumat, kawan-kawan bung ada yang melihat
sinis habis khotbah yang mendiskreditkan temannya. Apa bung pikir hanya isi
ceramah Islam saja yang disortir?? Kalau sampai terus-terusan seorang pengkhotbah
hanya menceritakan kejelekan-kejelekan umat lain, sudah sepantasnya dia tidak
diperkenankan meracuni umat.
Apa bung tidak pernah pikir bahwa non-Islam santai saja jika pemerintah
mengkoordinasikan jatah dan pembayaran naik haji, sedangkan buat non-islam yang
bepergian urus diri sendiri-sendiri.
Nama bung Pandir, tetapi jangan terlalu lugulah mengambil kesimpulan. Apalagi bung
seakan-akan berlaku sebagai pengacara kaum Islam, karena bung muslim. Urusan orang
lainlah yang membela non-muslim. Kalau sudah begini, saya ragukan kemampuan bung
dalam mencerna kedamaian dan keadilan sesuai ajaran Islam sendiri.

Pandir Ontohod wrote:

> Mungkin karena abang bukan pemeluk islam jadi kurang bisa merasakan.
> -Untuk melakukan perjalanan silaturahmi, ijin harus ke sana ke mari dan
> bahkan akhirnya tidak diberi.
> -Isi ceramah kadang disortir dan diperiksa terutama ketika hari raya, tak
> jarang tema ditentukan
> -Pelaksanaan perayaan hari agama harus mendapat ijin dari berbagai macam pihak
> Umat islam yang saya maksud ya pemeluk islam.....
> Saya tulis dijegal karena bukan secara menyeluruh dihapuskan, atau juga
> disingkirkan.  Ingat peristiwa Tanjung Priok, ingat pembuangan (tepatnya
> pengasingan) Imaddudin Abdurachim (yang akhirnya memiliki ide ICMI) ke USA dan
> dilarang pulang ke INdonesia selama bertahun-tahun. Kegiatan agama di kampus
> saya dahulu lebih disorot ketimbang kegiatan kemahasiswaan. Jika ada acara
> peringatan keagamaan, tentara yang hadir(tak diundang tentunya) kurang lebih
> dua truk, kalo kegiatan kemahsiswaan cukup satu kijang saja dibantu satpam.
> Presiden atau pejabat beragama islam bukan jaminan bahwa kebebasan beragama
> islam di buka selebar-lebarnya(tentunya yang bertanggung jawab). Mungkin saja
> presiden non islam malah memberikan kebebasan beragama. Seperti di amerika,
> kebebasan beragama saya rasa lebih terbuka. tak ada penjegalan apalagi
> penyingkiran.
> SAya TIDAK menuduh, saya hanya bicara fakta.  SAya tak tahu apa pemberian ijin
> juga ada pada agama lain, saya bicara islam karena saya muslim.
> Sekali lagi saya tidak tulis ISLAM DISINGKIRKAN, kok anda menanggapinya
> negatif.
> Tenang bung, saya yang pandir cuman bicara berdasarkan pengalaman saya.
> Bagaimana pengalaman saudara?
> Saya pun  tak peduli berapa banyak ummat islam berapa banyak pejabat islam,
> saya cuman tulis kebebasan islam dijegal, dan telah saya tulis diatas
> kebebasan yang man yang dijegal.
> Saya berkomentar soal turki karena kemal adalah muslim dan badiuzzaman pun
> muslim.
> Sementara suharto pun muslim dan saya pun muslim.
>
> Pandir
> Udah pandir, pusing pula menulis e-mail di milis ini :-D
> Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kebebasan beragama Islam yang bagaimana yang dijegal pada jaman Soeharto?
> Kapan
> sih umat Islam disingkirkan? dan siapa yang dimaksud umat Islam itu? Bukankah
> banyak menteri, Presiden dan pejabat yang beragama Islam? Bukankah takbir dan
> beduk bebas di-irama-kan dimana-mana?
> Apa anda tidak sadar bahwa kita ini bangsa majemuk? Orang Hindu punya kuil
> utama
> hanya di Bali dan tidak di Jakarta tenang-tenang saja. Gereja besar hanya
> katholik yang punya katedral besar, yang lain tenang-tenang saja. Mesjid ada
> dimana-mana dan banyak yang megah, kita sebagai non-Islam turut berbangga
> memilikinya. Kelompok non-Islam ada disetiap propinsi, dan tidak pernah
> mengeluh
> asalkan toleransi dan saling menghormati tetap ada. Tidak peduli berapa banyak
> tokoh ABRI, menteri ataupun pejabat lainnya agamanya apa? Tidak peduli apakah
> hitungan sensus soal agama penduduk masuk akal.  Yang terpenting apakah kita
> saling menghormati, apakah kita betul-betul berpegang bahwa agamamu agamamu
> dan
> agamaku agamaku. Apakah kita seorang munafik yang sebenarnya tidak pernah
> menghormati agama orang lain.
> Apa sich yang anda tuduhkan? sampai batas mana anda anggap Islam tidak
> disingkirkan?
>
> Pandir Ontohod wrote:
>
> > Kemal Attaturk bisa membangun Turki karena pertolongan Badiuzzaman Said
> Nursi
> > (buku karangannya amat bagus isinya, mirip-mirip bukunya Imaddudin
> > Abdurachim), pejuang Islam Turki yang akhirnya di penjarakan oleh Kemal
> > Attaturk.  Kemal meminta bantuan Badiuzzaman untuk bisa menggalang kekuatan.
> > Kekuatan Islam kemudian mulai bangkit tapi selalu dijegal, mirip Al-jazair.
> > Demo besar-besar sekitar taun 1990 awal juga berakhir dengan mengalirnya
> > darah, hanya saja ini tak hadir di media massa, persis ketika Anwar Saddat
> > yang terbunuh oleh pejuang Ikhwanul Muslimin.
> > Kebebasan beragama islam malah terpasung di Turki. seperti juga INdonesia
> > ketika jaman Suharto berkuasa di tahun 70-80-an.
> >
> > Pandir
> >
> > Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >      Lihat saja : Kemal  Attaturk tidak  mampu mengakomodasi  berbagai
> > kekuatan  rakyat  untuk membentuk negara kuat serta disegani di mata
> > internasional.  Makna  "nasionalisme"  dilakukan dalam artian  sempit. Huruf
> > Arab diganti dengan huruf latin. Para tokoh ummat dipinggirkan.
> >      Akibatnya menjadi  bumerang  bagi  identitas  negaranya  dari  generasi
> > ke generasi. Padahal kalau dari SDM-nya ... Turki sangat tangguh. Apalagi
> > warisan IPTEK-nya sangat besar. Ia pun selama ratusan pernah berjaya. Maka
> > itu seharusnya ia lebih maju ketimbang Jepang.
> >      Tetapi kenyataannya mengapa tidak? Di kalangan Organisasi Konfrensi
> > Islam maupun Uni Eropa, ia tidaklah termasuk negara yang disegani.  Malah
> > adakalanya cenderung diasingi.
> >      Hendaknya  ini  menjadi  pelajaran  bagi  negara  mana  pun.
> > Mengabaikan,  melecehkan, atau mengenyampingkan  ummat  mayoritas  hanya
> > akan  menjadikannya  "kontra  produktif"  yang  gilirannya  membuat  negara
> > lain, khususnya perusahaan transnasional,  tergoda menjadikannya sebagai
> > segmen  pasar  ekonomi demi devisa dalam negerinya.
> >
> > Salam,
> >
> > Nasrullah Idris
> >
> > ____________________________________________________________________
> > Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
>
> ____________________________________________________________________
> Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke