Mungkin karena abang bukan pemeluk islam jadi kurang bisa merasakan.
-Untuk melakukan perjalanan silaturahmi, ijin harus ke sana ke mari dan  
bahkan akhirnya tidak diberi.
-Isi ceramah kadang disortir dan diperiksa terutama ketika hari raya, tak
jarang tema ditentukan
-Pelaksanaan perayaan hari agama harus mendapat ijin dari berbagai macam pihak
Umat islam yang saya maksud ya pemeluk islam.....
Saya tulis dijegal karena bukan secara menyeluruh dihapuskan, atau juga
disingkirkan.  Ingat peristiwa Tanjung Priok, ingat pembuangan (tepatnya
pengasingan) Imaddudin Abdurachim (yang akhirnya memiliki ide ICMI) ke USA dan
dilarang pulang ke INdonesia selama bertahun-tahun. Kegiatan agama di kampus
saya dahulu lebih disorot ketimbang kegiatan kemahasiswaan. Jika ada acara
peringatan keagamaan, tentara yang hadir(tak diundang tentunya) kurang lebih
dua truk, kalo kegiatan kemahsiswaan cukup satu kijang saja dibantu satpam.
Presiden atau pejabat beragama islam bukan jaminan bahwa kebebasan beragama
islam di buka selebar-lebarnya(tentunya yang bertanggung jawab). Mungkin saja
presiden non islam malah memberikan kebebasan beragama. Seperti di amerika,
kebebasan beragama saya rasa lebih terbuka. tak ada penjegalan apalagi
penyingkiran.
SAya TIDAK menuduh, saya hanya bicara fakta.  SAya tak tahu apa pemberian ijin
juga ada pada agama lain, saya bicara islam karena saya muslim.
Sekali lagi saya tidak tulis ISLAM DISINGKIRKAN, kok anda menanggapinya
negatif.
Tenang bung, saya yang pandir cuman bicara berdasarkan pengalaman saya.
Bagaimana pengalaman saudara?
Saya pun  tak peduli berapa banyak ummat islam berapa banyak pejabat islam,
saya cuman tulis kebebasan islam dijegal, dan telah saya tulis diatas
kebebasan yang man yang dijegal.
Saya berkomentar soal turki karena kemal adalah muslim dan badiuzzaman pun
muslim.  
Sementara suharto pun muslim dan saya pun muslim.  


Pandir
Udah pandir, pusing pula menulis e-mail di milis ini :-D
Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kebebasan beragama Islam yang bagaimana yang dijegal pada jaman Soeharto?
Kapan
sih umat Islam disingkirkan? dan siapa yang dimaksud umat Islam itu? Bukankah
banyak menteri, Presiden dan pejabat yang beragama Islam? Bukankah takbir dan
beduk bebas di-irama-kan dimana-mana?
Apa anda tidak sadar bahwa kita ini bangsa majemuk? Orang Hindu punya kuil
utama
hanya di Bali dan tidak di Jakarta tenang-tenang saja. Gereja besar hanya
katholik yang punya katedral besar, yang lain tenang-tenang saja. Mesjid ada
dimana-mana dan banyak yang megah, kita sebagai non-Islam turut berbangga
memilikinya. Kelompok non-Islam ada disetiap propinsi, dan tidak pernah
mengeluh
asalkan toleransi dan saling menghormati tetap ada. Tidak peduli berapa banyak
tokoh ABRI, menteri ataupun pejabat lainnya agamanya apa? Tidak peduli apakah
hitungan sensus soal agama penduduk masuk akal.  Yang terpenting apakah kita
saling menghormati, apakah kita betul-betul berpegang bahwa agamamu agamamu
dan
agamaku agamaku. Apakah kita seorang munafik yang sebenarnya tidak pernah
menghormati agama orang lain.
Apa sich yang anda tuduhkan? sampai batas mana anda anggap Islam tidak
disingkirkan?


Pandir Ontohod wrote:

> Kemal Attaturk bisa membangun Turki karena pertolongan Badiuzzaman Said
Nursi
> (buku karangannya amat bagus isinya, mirip-mirip bukunya Imaddudin
> Abdurachim), pejuang Islam Turki yang akhirnya di penjarakan oleh Kemal
> Attaturk.  Kemal meminta bantuan Badiuzzaman untuk bisa menggalang kekuatan.
> Kekuatan Islam kemudian mulai bangkit tapi selalu dijegal, mirip Al-jazair.
> Demo besar-besar sekitar taun 1990 awal juga berakhir dengan mengalirnya
> darah, hanya saja ini tak hadir di media massa, persis ketika Anwar Saddat
> yang terbunuh oleh pejuang Ikhwanul Muslimin.
> Kebebasan beragama islam malah terpasung di Turki. seperti juga INdonesia
> ketika jaman Suharto berkuasa di tahun 70-80-an.
>
> Pandir
>
> Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>      Lihat saja : Kemal  Attaturk tidak  mampu mengakomodasi  berbagai
> kekuatan  rakyat  untuk membentuk negara kuat serta disegani di mata
> internasional.  Makna  "nasionalisme"  dilakukan dalam artian  sempit. Huruf
> Arab diganti dengan huruf latin. Para tokoh ummat dipinggirkan.
>      Akibatnya menjadi  bumerang  bagi  identitas  negaranya  dari  generasi
> ke generasi. Padahal kalau dari SDM-nya ... Turki sangat tangguh. Apalagi
> warisan IPTEK-nya sangat besar. Ia pun selama ratusan pernah berjaya. Maka
> itu seharusnya ia lebih maju ketimbang Jepang.
>      Tetapi kenyataannya mengapa tidak? Di kalangan Organisasi Konfrensi
> Islam maupun Uni Eropa, ia tidaklah termasuk negara yang disegani.  Malah
> adakalanya cenderung diasingi.
>      Hendaknya  ini  menjadi  pelajaran  bagi  negara  mana  pun.
> Mengabaikan,  melecehkan, atau mengenyampingkan  ummat  mayoritas  hanya
> akan  menjadikannya  "kontra  produktif"  yang  gilirannya  membuat  negara
> lain, khususnya perusahaan transnasional,  tergoda menjadikannya sebagai
> segmen  pasar  ekonomi demi devisa dalam negerinya.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
>
> ____________________________________________________________________
> Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1


____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke