Lab Setup wrote:

> Blucer Rajagukguk wrote:
> >
> > Jadi Pandir sebagai Islam apakah bisa merasakan kaum non-Islam. Apa yang bung
> > harus lakukan jika ada Dai teriak-teriak bahwa agama diluar Islam kafir, apa yang
> > bung harus lakukan jika sehabis sholat jumat, kawan-kawan bung ada yang melihat
> > sinis habis khotbah yang mendiskreditkan temannya. Apa bung pikir hanya isi
> > ceramah Islam saja yang disortir?? Kalau sampai terus-terusan seorang pengkhotbah
> > hanya menceritakan kejelekan-kejelekan umat lain, sudah sepantasnya dia tidak
> > diperkenankan meracuni umat.
>
> Ini alasan pejabat ORBA. Persis plek keceplek cetak kaoya....
>

BW: ha ha ha, bilang fakta kok ORBA. Apa kamu yang nentuin mana ORBA mana fakta.

> > Apa bung tidak pernah pikir bahwa non-Islam santai saja jika pemerintah
> > mengkoordinasikan jatah dan pembayaran naik haji, sedangkan buat non-islam yang
> > bepergian urus diri sendiri-sendiri.
> > Nama bung Pandir, tetapi jangan terlalu lugulah mengambil kesimpulan. Apalagi bung
> > seakan-akan berlaku sebagai pengacara kaum Islam, karena bung muslim. Urusan orang
> > lainlah yang membela non-muslim. Kalau sudah begini, saya ragukan kemampuan bung
> > dalam mencerna kedamaian dan keadilan sesuai ajaran Islam sendiri.
>
> Blucer...blucer.... pemerintah mengkoordinasikan jatah dan pembayaran
> naik haji
> kok bingung. Justru dengan dikoordinasikan oleh pemerintah maka orang
> susah naik
> haji. Orang Indonesia bayar ongkos naik haji paling tinggi sedunia. Kalo
> nggak tahu
> mbok mingkem dikit gitu lho.

 BW:  Suatu penghargaan sendiri pemerintah mau mengurus soal Haji dan membuat asramanya
sekalian. Jika harga dimainkan itu khan oknum bukan untuk menindas Islam. Khan MUI ada
disitu, pemerintah ada disitu, jika bung tahu itu paling mahal jelas itu oknum mau
memeras kaum sendiri dan jelas pejabat MUI disitu tidak mengerti memeras itu salah. Apa
mungkin ada anggota MUI mau menindas Islam??
Nach sekarang mendingan kamu yang mingkem (Jaya...jaya....) :).

Kirim email ke