Ketika membaca pertanyaan apa sebenarnya cita cita reformasi, saya menjadi terpikir sejenak, timbul pertanyaan dalam benak saya siapa atau partai mana yang sebenarnya berhak diberi kepercayaan memimpin Indonesia????? Saya mencoba mengingat kejadian kejadian selama bulan bulan genting proses mulai brgejolaknya tuntutan reformasi. Pada waktu itu saya sedang berada di Indonesia, untuk urusan pekerjaan dan keluarga dari akhir Februari s/d Akhir Mei 1998. Sebagai seorang yang "sok ingin tahu" dan kebetulan mendapat kesempatan melihat langsung beberapa proses reformasi(sebagai wartawan), pada waktu itu saya ikut merasakan bagaimana sepak semangat para mahasiswa yang menginginkan perbaikan untuk negaranya. Saya mengikuti perkembangan berita Amien Rais, bagaimana ia berpindah dari satu univerits keuniversitas lain, dari satu demo ke demo yang lain, ia tampak tak kenal lelah untuk mengobarkan semangat para mahasiwa untuk terus mendorong tumbangnya tirani Suharto.Bahkan secara tegas ia memberanikan diri untuk menentang Suharto ketika Suharto masih bertahta. Ia bahkan sempat ke Amerika untuk memawakili Indonesia untuk menjawab pertanyaan pertanyaan Internasional tentang Indonesia. Saya juga dapat melihat kegelisahan Internasional dengan tampilnya AR. AR tampaknya menjadi suatu ancaman bagi internasional jika ia menjadi pemimpin, karena paling tidak gambaran mereka bahwa AR akan membawa Indonesia ke negara yang berlandaskan Islam, tak ubahnya seperti malysia atau negara negara Islam lainnya. Dimana MS, pada waktu itu saya juga bertanya tanya, kemana ia??. Saya mendapat jawaban dari rekan rekan wartawan lainnya bahwa MS tidak pernah mau diwawancarai. Dan memang benar selama gencarnya masa gejolak reformasi, saya tak mendengar satu suara pun dari mulut MS. Ketika menoba menghubungi MS yang saya dpat pada waktu itu, maaf bu MS sedang sibung ngurusin persiapan perkawinan anaknya, tidak bisa diganggu selama beberapa minggu ini. Saya jadi tersenyum, dengan kondisi Indonesia yang mulai memanas pada waktu itu ia masih sempat sempatnya menomor sekian kan Indonesia. Seharusnya sebagai orang yang pro demokrasi, Megawati aktif turun ke arena melupakan sejenak pesta perkawinan anaknya. menggelorakan semangat mahasiswa dan rakyat untuk menegakkan demokrasi. Seperti apa yang digembar gemborkannya bahwa partainya adalah partai demokrasi, seharusnya pada waktu itu justru PDIP lah yang berjuang di depan. Tetapi apa kenyataannya, ketika bangsa Indonesia, khususnya Mahasiswa dan para intelektual berjuang untuk bangsa dan negara, PDIP menghilang. Tetapi sebelumnya kalau tidak salah mereka banyak yang gugur karena hanya sekedar untuk membela nama partai PDIP. (Sayang sekali perjuangan partai PDIP hanya sekedar memperjuangkan nasib partai, ini menurut pandangan saya). Dilain pihak tokoh tokoh pemimpin serta intelektual lainnya malang melintang langsung di arena, seperti halnya tokoh yang lebih tua dan disegani seperti Emil Salim dan kelompok lainnya. Sedangkan Gus Dur pada waktu itu memang tidak banyak berkomentar, karena ia sedang sakit, akan tetapi ketidak mampuannya berkomentar justru bagus karena mungkin komentar kiai aneh ini akan justru merugikan atau menggembosi gerakan reformasi. Sebelum saya kembali ke Kanada, pagi harinya saya masih sempat mampir ke gedung DPR, disana saya ketemu Sukmawati, dan beberapa tokoh tua lainnya seperti Supeni dkk ikut meramaikan ramainya petisi petisi yang meminta mundurnya Suharto, mana petisi PDIP??????? yang jelas saya tidak dapat mencium bau bayangan MS sang pemimpin rakyat di gedung DPR. Sekembalinya saya ke Kanada, ada satu harapan dibenak saya bahwa mungkin kali ini rakyat Indonesia akan melihat dengan jelas siapa sebenarnya pejuang sejati. Saya memperkirakan Emil Salim dan AR akan mendapat dukungan penuh dari rakyat lainnya selain dari mahasiswa, mengingat kerja dan perjuangan mereka. Sekali lagi saya salah. Saya melihat rakyat Indonesia begitu mudah melupakan sejarah (maaf ini hanya sekedar pendapat saya) orang yang gigih memperjungkan nasib mereka seperti Amien Rais, ditinggalkan begitu saja. Seorang yang telah jelas jelas dapat diukur nilainya sebagai "emas" 24 karat, dicampakkan digantikan dengan emas sepuhan seperti MS dan Gus Dur. Ini semuanya hanya karena AR bukan anak Sukarno dan AR bukan orang NU. DAn partai AR tidak memiliki data ratusan juta sehingga dapat mendanai kampanye secara meriah. Ia benar benar bermodal "dengkul" Untungnya AR orangnya cukup berbesar hati, ia berjuang tanpa pamrih. Kalaupun ia melihat kemampuan dirinya sebagai pemimpin, namun karena tidak dikehendaki sebagian besar rakyat ya ia menerima. Saya menulis ini dengan menempatkan diri sebagai orang luar, saya berusaha tidak melibatkan emosi saya sebagai orang Indonesia. Saat ini saya dapat merasakan dunia luar juga tersenyum dengan kemenangan MS, karena Indonesia akan kembali dipegang oleh seorang pemimpin sekuler. Semoga AR tetap teguh berpegang pada prinsipnya. Saya yakin suatu saat Indonesia akan membutuhkan orang orang seperti AR dan Emil Salim untuk menyuarakan kebenaran, keadilan serta demokrasi yang sebenarnya. > --------------------------------------------- > Attachment:� > MIME Type:�multipart/alternative > --------------------------------------------- Saya mencoba utk memberikan pandangan sbb: 1. 'Reformasi' memang terutama disuarakan oleh kalangan mahasiswa (selain kelompok dan tokoh lainnya). 2. Pokok2 aspirasi reformasi adalah sbb * Berantas KKN (khususnya usut/adili Suharto, keluarga, dan kroninya) * Hapuskan dwifungsi ABRI (terutama di bidang politik) * Rubah UUD 1945 utk menghindari berulangnya pemerintahan otoriter * Dlsb (seperti pemberian kewenangan pd daerah/otonomi/federal, dll) Yg saya sebut di atas adalah yg pokok saja, mengingat beragamnya kelompok mahasiswa/lainnya yg 'reformis'. 3. Hasil Pemilu 1999 adalah sbb (ranking 5 terbesar, KPU last update): PDIP (program reformasinya relatif kurang 'strong', menonjolkan figur Megawati sbg capres, mempunyai image sbg partai 'tertindas') Perolehan suara sekitar 30% Golkar (program reformasi 'ada' tapi diragukan keseriusan/keberhasilannya, menonjolkan figur Habibie sbg capres/'partai baru', imagenya partai orba/'status quo') Perolehan 20% PKB (program reformasi relatif kurang 'strong', menonjolkan figur Gus Dur, imagenya partai 'orang NU') Perolehan 11% PPP (program reformasinya kurang jelas, menonjolkan asas 'ajaran Islam', imagenya partai 'lama/terkait dgn status quo') Perolehan 10% PAN (program reformasinya relatif 'strong', menonjolkan figur Amien Rais, imagenya partai baru yg 'modern/terbuka') Perolehan 6% Kelima parpol di atas secara total mencakup sekitar 77% suara pemilih, sisanya terbagi utk 43 parpol lainnya. 4. Dgn asumsi hasil Pemilu 1999 adalah 'benar', maka beberapa kesimpulan pokok dari hal-hal di atas adalah sbb: * Ternyata aspirasi rakyat (pemilih) beragam. * Ternyata sebagian besar rakyat (pemilih) tidak sepenuhnya mendukung 'aspirasi reformasi (mahasiswa)'. "People get what they deserve" RI > ---------- > From: bRidWaN[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Tuesday, June 22, 1999 11:47 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: Apa sebenarnya cita-cita Reformasi ? > > Rekan Rekan Yth., > > Apa sih sebenarnya cita-cita dari reformasi > yang telah digaungkan oleh para Mahasiswa sejak > tahun lalu, yang telah memakan korban jiwa ? > > Bukannya rasa keinginan mempunyai Pemerintahan > yang baru, yang menggantikan Pemerintahan lama ? > > Sebelum Pemilu dimulai, terlihat tanda-tanda akan > adanya Koalisi PDI-P, PKB dan PAN. > > Tetapi setelah Pemilu usai, dan dimulainya polemik > mengenai boleh tidaknya seorang wanita menjadi > Pemimpin, maka objective dari Reformasi diatas > telah menjadi rancu, bahkan terkesan seolah olah > banyak orang yang tidak perduli apakah Presiden > mendatang datang dari kelompok status-quo. > > Langkah langkah ini telah dimulai sejak 2-3 hari > sebelum Pemilu, dimulai dengan adanya fatwa MUI, > yang selama ini jelas mendukung Orde Baru. > > Meskipun saya adalah pendukung PDI-P, saya tidak > begitu concern dengan siapa yang akan menjadi > Presiden, tetapi lebih kepada 'tokohnya' yang > harus berasal dari kelompok Reformasi. > > Saya khawatir, dengan ditimbulkannya polemik > mengenai kepemimpinan seorang Wanita, maka > perhatian kita akan beralih dari tujuan diadakan- > nya Pemilu, yaitu mengganti Pemerintahan yang > lama. > > Semoga tujuan dari perjuangan adik-adik > Mahasiswa kita akan membuahkan hasil sesuai > dengan apa yang mereka perjuangkan. Amin. > > > Salam, > bRidWaN > Salam Yuni Wilcox ____________________________________________________________________ Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at http://webmail.netscape.com.
