Saya rakyat jelata ikut-ikut nimbrung nih. Proses reformasi yang terjadi di Indonesia itu memang rame sekali. Ada ini ada itu, si ini lawan si itu, kekerasan, darah, saling sikut, koalisi...pokoknya ada macam-macam lah. Saya mencoba untuk menyederhanakan permasalahan, dan membahasnya, begini : 1. Apa yang diharapkan dari reformasi ? Ujung-ujungnya reformasi sebenarnya sama saja dengan cita-cita yang dimiliki oleh pendiri RI, dan itu bisa dibaca di pelajaran sejarah, mulai dari proklamasi, Pancasila, UUD45, pokoknya orang yang "makan sekolahan" pasti tahu deh wong dari SD sudah diajari yang itu. Terus, yang mengenai peran internasional kita singkirkan dulu, hasilnya adalah bahwa sebenarnya siapapun yang memerintah RI wajib untuk berusaha "menjadikan rakyat adil dan makmur". 2. Siapa yang layak jadi pemimpin kita ? Seperti kita ketahui bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu perlu "sistem" yang mendukung. Nah, kalau saya katakan harus ada "software" dalam hal ini perundangan, dan "brainware" dalam hal ini kualitas pemimpin / penyelengara negara yang baik maka kita akan sama-sama tahu bahwa "brainware" yang kita miliki itu nggak bener. Boro-boro menciptakan "software" yang baik, ini yang diciptakan malah software (dan lingkungannya) yang mendukung KKN. Mahasiswa dan rakyat pun melihat hal ini dan ujung-ujungnya adalah tuntutan "ganti semua pemimpin yang KKN" atau sering juga dibilang "ganti Soeharto" karena diharapkan dengan mengganti presiden dengan presiden yang "baik" maka otomatis dia akan menunjuk orang-orang yang "baik" pula di pemerintahan. Jadi siapapun yang dipercaya oleh rakyat (bahasa sekarang "memiliki legitimasi") dan diperkirakan memiliki "brainware" yang baik maka dia bisa menjadi presiden dan diperkirakan akan sukses membawa RI menjadi negara yang mempunyai rakyat yang "adil dan makmur". 3. Mengapa Megawati (MS) banyak ditentang ? Kalau diperhatikan, yang banyak menentang ini dibagi menjadi 3 kelompok : a. Alasan agama; memang mau tidak mau beginilah kehidupan nyata di Indonesia, sebagian besar penduduknya beragama Islam (walaupun sebagian besar bukan santri karena istilahnya "Islam KTP") namun pendapat sebagian besar (tidak saya katakan sebagai mayoritas, tapi cukup besar) ini perlu diperhatikan walaupun pemeluk agama lain agak heran (dan menggerutu)terhadap pemikiran umat Islam di Indonesia. b. Alasan kompetensi / kepiawaian; mbak Yuni sudah menyebutkan banyak sekali contoh tentang MS yang sayang sekali menjadikan MS "tidak bisa meyakinkan para politisi lain" dalam hal kompetensi ini. Kita sama-sama maklum bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini benar-benar memerlukan orang yang "bener" dan "pinter" dan "tidak mudah keblinger". Dalam hal ini "rapot" MS banyak merahnya. Rakyat juga mengerti kok, pak Habibie yang doktor dan lama menjadi menteri saja tiba-tiba bisa menjadi "bodoh" dalam politik karena "diumpani" masukan-masukan yang salah. Sebut saja berapa keputusan yang dikoreksi dan "salah ngomong" misalnya mengenai "KOMAS" dan pembicaraan dengan Andi Ghalib ? Indonesia jaman ini tidak memerlukan pemimpin yang seperti itu, nanti kalau sudah adil makmur bolehlah agak salah-salah tapi pemimpin yang sekarang harus "hebat" dan harus bisa mengobati Indonesia yang sakit-sakitan ini. c. Alasan "adal bukan musuh Soeharto"; penganutnya adalah pendukung Soeharto yang takut akan "merana" kalau MS akan melakukan "balas dendam", ingat juga bahwa perseteruan pak Harto dan bung Karno itu bukan perseteruan yang "biasa". Kesimpulannya, masalah MS ini cukup rumit karena pihak yang "kontra" cukup banyak dan nampaknya tidak mudah untuk diajak "kompromi". Kalau MS dan PDIP agak mau "bergeser banyak" dari alur pemikiran yang sekarang berlaku (partai yang banyak dipilih pasti calon presidennya disahkan oleh MPR) maka hasil pemilu bisa diartikan sebagai berikut : "PDIP, mohon supaya partai anda itu bekerjasama dengan yang lain untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur" Dengan begitu PDIP bisa "legowo" menerima presiden lain selain MS karena PDIP pada dasarnya menerima posisi sebagai partai "yang sangat berpengaruh" karena banyaknya wakil di DPR/MPR. Jadi perjuangan itu tidak selalu berarti menjadikan ketua partainya / MS sebagai presiden karena bisa jadi kalau MS jadi presiden kemudian Indonesia malah lebih terpuruk lagi ? Kalau ditanya siapa yang layak untuk jadi presiden, dengan memperhatikan banyak hal maka saya sendiri memilih Amien Rais. Tolong dibaca bahwa Amien Rais yang ini harus dilepaskan dari partai PAN karena partai PAN yang muda belia ini tentu tidak bisa diharapkan untuk diketahui oleh rakyat banyak dan dipilih oleh rakyat banyak yang selama ini hanya mengenal "kuning" berarti "aman", atau "hijau" yang berarti "ekstrim kanan" atau "merah" yang diartikan "pewaris orla". Salam, Dody --- Yuni Wilcox <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ketika membaca pertanyaan apa sebenarnya cita cita > reformasi, saya menjadi > terpikir sejenak, timbul pertanyaan dalam benak saya > siapa atau partai mana > yang sebenarnya berhak diberi kepercayaan memimpin > Indonesia????? > > Saya mencoba mengingat kejadian kejadian selama > bulan bulan genting proses > mulai brgejolaknya tuntutan reformasi. Pada waktu > itu saya sedang berada di > Indonesia, untuk urusan pekerjaan dan keluarga dari > akhir Februari s/d Akhir > Mei 1998. > > Sebagai seorang yang "sok ingin tahu" dan kebetulan > mendapat kesempatan > melihat langsung beberapa proses reformasi(sebagai > wartawan), pada waktu itu > saya ikut merasakan bagaimana sepak semangat para > mahasiswa yang menginginkan > perbaikan untuk negaranya. Saya mengikuti > perkembangan berita Amien Rais, > bagaimana ia berpindah dari satu univerits > keuniversitas lain, dari satu demo > ke demo yang lain, ia tampak tak kenal lelah untuk > mengobarkan semangat para > mahasiwa untuk terus mendorong tumbangnya tirani > Suharto.Bahkan secara tegas > ia memberanikan diri untuk menentang Suharto ketika > Suharto masih bertahta. Ia > bahkan sempat ke Amerika untuk memawakili Indonesia > untuk menjawab pertanyaan > pertanyaan Internasional tentang Indonesia. > > Saya juga dapat melihat kegelisahan Internasional > dengan tampilnya AR. AR > tampaknya menjadi suatu ancaman bagi internasional > jika ia menjadi pemimpin, > karena paling tidak gambaran mereka bahwa AR akan > membawa Indonesia ke negara > yang berlandaskan Islam, tak ubahnya seperti malysia > atau negara negara Islam > lainnya. > > Dimana MS, pada waktu itu saya juga bertanya tanya, > kemana ia??. Saya mendapat > jawaban dari rekan rekan wartawan lainnya bahwa MS > tidak pernah mau > diwawancarai. Dan memang benar selama gencarnya masa > gejolak reformasi, saya > tak mendengar satu suara pun dari mulut MS. Ketika > menoba menghubungi MS yang > saya dpat pada waktu itu, maaf bu MS sedang sibung > ngurusin persiapan > perkawinan anaknya, tidak bisa diganggu selama > beberapa minggu ini. Saya jadi > tersenyum, dengan kondisi Indonesia yang mulai > memanas pada waktu itu ia masih > sempat sempatnya menomor sekian kan Indonesia. > > Seharusnya sebagai orang yang pro demokrasi, > Megawati aktif turun ke arena > melupakan sejenak pesta perkawinan anaknya. > menggelorakan semangat mahasiswa > dan rakyat untuk menegakkan demokrasi. Seperti apa > yang digembar gemborkannya > bahwa partainya adalah partai demokrasi, seharusnya > pada waktu itu justru PDIP > lah yang berjuang di depan. Tetapi apa kenyataannya, > ketika bangsa Indonesia, > khususnya Mahasiswa dan para intelektual berjuang > untuk bangsa dan negara, > PDIP menghilang. Tetapi sebelumnya kalau tidak salah > mereka banyak yang gugur > karena hanya sekedar untuk membela nama partai PDIP. > (Sayang sekali perjuangan > partai PDIP hanya sekedar memperjuangkan nasib > partai, ini menurut pandangan > saya). > > Dilain pihak tokoh tokoh pemimpin serta intelektual > lainnya malang melintang > langsung di arena, seperti halnya tokoh yang lebih > tua dan disegani seperti > Emil Salim dan kelompok lainnya. Sedangkan Gus Dur > pada waktu itu memang tidak > banyak berkomentar, karena ia sedang sakit, akan > tetapi ketidak mampuannya > berkomentar justru bagus karena mungkin komentar > kiai aneh ini akan justru > merugikan atau menggembosi gerakan reformasi. > > Sebelum saya kembali ke Kanada, pagi harinya saya > masih sempat mampir ke > gedung DPR, disana saya ketemu Sukmawati, dan > beberapa tokoh tua lainnya > seperti Supeni dkk ikut meramaikan ramainya petisi > petisi yang meminta > mundurnya Suharto, mana petisi PDIP??????? yang > jelas saya tidak dapat mencium > bau bayangan MS sang pemimpin rakyat di gedung DPR. > > Sekembalinya saya ke Kanada, ada satu harapan > dibenak saya bahwa mungkin kali > ini rakyat Indonesia akan melihat dengan jelas siapa > sebenarnya pejuang > sejati. Saya memperkirakan Emil Salim dan AR akan > mendapat dukungan penuh dari > rakyat lainnya selain dari mahasiswa, mengingat > kerja dan perjuangan mereka. > > Sekali lagi saya salah. Saya melihat rakyat > Indonesia begitu mudah melupakan > sejarah (maaf ini hanya sekedar pendapat saya) orang > yang gigih memperjungkan > nasib mereka seperti Amien Rais, ditinggalkan begitu > saja. Seorang yang telah > jelas jelas dapat diukur nilainya sebagai "emas" 24 > karat, dicampakkan > digantikan dengan emas sepuhan seperti MS dan Gus > Dur. Ini semuanya hanya > karena AR bukan anak Sukarno dan AR bukan orang NU. > DAn partai AR tidak > memiliki data ratusan juta sehingga dapat mendanai > kampanye secara meriah. Ia > benar benar bermodal "dengkul" > > Untungnya AR orangnya cukup berbesar hati, ia > berjuang tanpa pamrih. Kalaupun > ia melihat kemampuan dirinya sebagai pemimpin, namun > karena tidak dikehendaki > sebagian besar rakyat ya ia menerima. > > Saya menulis ini dengan menempatkan diri sebagai > orang luar, saya berusaha > tidak melibatkan emosi saya sebagai orang Indonesia. > Saat ini saya dapat > merasakan dunia luar juga tersenyum dengan > kemenangan MS, karena Indonesia > akan kembali dipegang oleh seorang pemimpin sekuler. > > Semoga AR tetap teguh berpegang pada prinsipnya. > Saya yakin suatu saat > Indonesia akan membutuhkan orang orang seperti AR > dan Emil Salim untuk > menyuarakan kebenaran, keadilan serta demokrasi yang > sebenarnya. > > > > > > --------------------------------------------- > > Attachment: > > MIME Type: multipart/alternative > > --------------------------------------------- > Saya mencoba utk memberikan pandangan sbb: > > 1. 'Reformasi' memang terutama disuarakan oleh > kalangan mahasiswa (selain > kelompok dan tokoh lainnya). > > 2. Pokok2 aspirasi reformasi adalah sbb > * Berantas KKN (khususnya usut/adili Suharto, > keluarga, dan kroninya) > * Hapuskan dwifungsi ABRI (terutama di bidang > politik) > * Rubah UUD 1945 utk menghindari berulangnya > pemerintahan otoriter > * Dlsb (seperti pemberian kewenangan pd > daerah/otonomi/federal, dll) > Yg saya sebut di atas adalah yg pokok saja, > mengingat beragamnya kelompok > mahasiswa/lainnya yg 'reformis'. > > 3. Hasil Pemilu 1999 adalah sbb (ranking 5 terbesar, > KPU last update): > > PDIP (program reformasinya relatif kurang 'strong', > menonjolkan figur > Megawati sbg capres, mempunyai image sbg partai > 'tertindas') > Perolehan suara sekitar 30% > > Golkar (program reformasi 'ada' tapi diragukan > keseriusan/keberhasilannya, > menonjolkan figur Habibie sbg capres/'partai baru', > imagenya partai > orba/'status quo') > Perolehan 20% > > PKB (program reformasi relatif kurang 'strong', > menonjolkan figur Gus Dur, > imagenya partai 'orang NU') > Perolehan 11% > > PPP (program reformasinya kurang jelas, menonjolkan > asas 'ajaran Islam', > imagenya partai 'lama/terkait dgn status quo') > Perolehan 10% > > === message truncated === _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
