Saya nggak pernah ingin pendapat saya diterima atau tidak, saya hanya ingin
sekedar menulis. Dan memang benar saya nggak munafik pura pura punya
kepentingan dengan Indonesia.Hidup saya sudah nggak disana lagi, paling paling
karena ada keluarga aja yang di sana. Tentu saja tidak punya kepentingan apa
apa tidak berarti menginginkan Indonesia hancur, tetapi justru dapat membantu
menilai sesuatu secara lebih obyektif, lha wong saya tidak punya kepentingan
untuk menjadi menteri kok.
Anda ini orangnya terlalu serius dalam menanggai sesuatu apalagi dengan
masalah kalimat kata kata, sejak awal anda mengkoreksi saya dari bentuk
tulisan saja, yang inilah, yang itulah, kesannya justru anda yang emosional.
Anda merasa bahwa anda sudah bisa menilai hitam putihnya seseorang dari cara
ia manulis. Memang kita bisa menilai sesorang dari tulisannya, akan tetapi
tidak bisa 100% benar. Anda tidak tahu saya, anda tidak tahu pribadi setiap
orang yang menulis dalam forum ini atau forum mana saja.Bahkan meskipun kita
bertemu secara langsung dengan seseorang belum tentu kita bisa menilai secara
benar siapa dan bagaimana orang tersebut, kecuali kalau anda paranormal.
Saya sarankan agar anda tenang, dan ambil segala sesuatunya dengan hati
terbuka. Bagimanapun orang lain menulis, siapapun penulisnya, atau apapun
isinya adalah hak mereka, mengenai bagaimana orang menerima atau menyetujui
adalah hak orang lain kalau anda nggak setuju ya bilang aja saya nggak setuju
dengan anda. Wakililah diri anda sendiri, jangan menyuarakan orang lain, belum
tentu orang lain sepaham dengan anda.
Siapa tahu justru orang lain mendukung pendapat saya, benar nggak??????????
(kalau saya tidak salah tebak). He..he.. lagian biasanya kalau sesuatu yang
saya bubuhi tanda kurung biasanya untuk joke, tidak serius.
Ooops tentang akhlak dan kemampuan, apakah yang anda maksudkan 60% akhlak dan
100% kemampuan itu AR atau MS, saya tidak jelas. Saya kira akhlak MS tidak
lebih baik dari akhlak AR.
Anda salah menangkap tulisan saya atau saya yang kurang pas menyajikannya.
Yang saya maksudkan dengan negara maju lainnya, yaitu kalau di AS misalnya
terjadi hal serupa dengan Indonesia gejolak reformasi 1998, sampai Suharto
ditumbangkan, nah pada waktu itu AR yang aktif dan beberapa orang lainnya
seperti Emil Salim tak kenal lelah mengompori rakyat yang waktu itu lebih
banyak diwakili oleh para mahasiswa.
Dari sini tentunya rakyat AS sudah bisa melihat siapa AR, karena kemampuan
rakyat US lebih tinggi dari Indonesia, dan mereka bisa belajar dari sejarah,
maka mereka akan memilih sosok seperti AR, yang sudah jelas jasa
jasanya.American nggak akan milih MS, karena belum jelas sepak terjangnya, ia
tampil karena ia anak mantan presiden. selain itu AR akhlaknya dan ilmunya
seimbang. Saya tidak tahu kalau memang ada akhlak AR ada yang nyeleneh, ya
minta maaf, maklum saya bukan orang yang serba tahu.
Sorry ngalantur, lha wong saya bukan american kok ya berani bicara mewakili
orang Amerika.Tetapi memang itulah kenyataannya, sewaktu di Kanada saya baca
surat kabar mereka isinya (kalau tidak salah baca lagi..he..he..)tersirat
bahwa wartawannya pada waktu itu hampir yakin bahwa AR yang akan terpilih, ini
tentunya berdasarkan logika mereka.
Akan tetapi karena logika orang orang Indonesia berbeda, ya hasilnya
prediksi mereka salah.
Saya kira sejak awal saya tidak pernah mnyinggung masalah asal sekolah kok,
Saya tidak pernah menyinggung MS yang lulusan SMA kek atau AR yang doktor kek.
Bisa saja AR itu lulusan SD atau tidak sekolah tapi punya kemampuan tinggi.
Kemampuan tidak berarti karena pendidikan, dan saya tidak pernah berbicara
tentang akademik seseorang. Tak semua orang lulusan perguruan tinggi punya
pikiran secemerlang MS, benar nggak??????? Mau bukti, lihat tuh bung Pandir
Ontohod sekolah di luar negeri jauh jauh masih pandir pandir
juga(he...he...jangan marah ya bung Pandir).
Anda ini bagaimana sih tentu saj senator, presiden mempunyai staf ahli. Mereka
itu kan manusia biasa. Negara itu banyak macam yang diurus, tentu saja mereka
butuh bantuan orang lain untuk memikirkan bidang bidang tertentu. Emangnya
saya gila apa nganggap AR itu serba bisa sehingga dia tidak butuh staf ahli.
Jangan jangan bung Efron sudah dapat klesak klesik jatah jadi staf ahli.Bagus
deh bung selamat memprjuangkan nasib rakyat.
Saya menghormati dan menerima kritikan anda
yuni
"Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak Yuni ini selalu menambal pernyataannya dengan "kalau tidak salah" atau
"kalau tidak salah baca". Jika Anda tidak yakin akan pernyataan Anda sendiri
dan tidak berkepentingan dengan jungkirbaliknya RI, sebaiknya Anda tak
memaksakan diri agar pernyataan Anda diterima. Orang akan menerima semua
pendapat Anda kalau sumber Anda jelas dan Anda menulis berdasarkan atas
pikiran Anda bukan emosi Anda.
Sebelum PAN terbentuk saya sudah pernah membahas AR di milis ini juga
berdasarkan atas pengalaman saya sendiri tentang AR waktu di UGM. Ada nilai
lebih dan kurang pada AR seperti halnya juga pada MS. Sekarang RI butuh
figur presiden. Pilihannya sekarang ada dua dua: (1) kemampuan 100%, tapi
akhlak 60%, dan (2) kemampuan 60%, tapi akhlak 100%. Mana yang akan dipilih?
Di AS jangankan presiden, senator saja mempunyai staf ahli untuk membantu
pekerjaannya. Bahkan publik AS lebih sensitif terhadap akhlak calon
ketimbang asal sekolahnya.
Wassalam,
Efron
-----Original Message-----
From: Yuni Wilcox [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, 25 June, 1999 5:06 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Re: [Re: Apa sebenarnya cita-cita Reformasi ?]]
Bung Blucer, secara obyektif sebagai orang yang tidak berkepentingan dengan
jungkir baliknya Indonesia, saya menilai justru AR adalah seorang pemimpin
yang ideal. Ia lahir dari bawah, dengan kata lain ia berhasil menduduki
jabatan salah satu organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia. Dan ia
adalah
salah seorang yang sudah dapat dibuktikan kerjanya dalam membantu
menggulingkan Suharto. Paling tidak suaranya yang lantang dan konsisten pada
waktu itu membakar semangat para mahasiswa "minimal".
Apakah itu tidak cukup membuktikan keterkecimpungannya dalam politik.
Saya ingin tahu apakah MS sudah cukup membuktikan dirinya lebih matang
daripada AR? Saya tidak melihat tanda tanda itu, kecuali "kesahajaannya"
sebagai seorang "perempuan" dan anak "Sukarno".
Mengapa kalangan internasional sempat cepat ketika bergolaknya reformasi
tahun
1998, itu karena kalau kejadian serupa Indonesia terjadi di Amerika, Kanada
atau negara maju lainnya, maka sosok seperti AR itulah yang akan terpilih
menjadi kepala negara. Karena terlepas dari unsur keagamaan AR adalah
seorang
yang mumpuni sebagai pemimpin, dimana ia mampu menggerakkan mahasiswa,
dengan
landasan perjuangan bangsa, bukan partai. Sedangkan Mega jika pergolakan
terjadi tahun sebelumnya dari yang saya baca itu hanya dikarenakan pembelaan
terhadap PDIP, bukan bangsa dan negara (kalau saya tidak salah baca).
Itulah yang saya tangkap dari koran koran Kanada pada waktu itu. Tetapi
sayangnya Indonesia sendiri unik, meskipun kondisi sudah membuktikan
sedemikian rupa, eh hasil yang dicapai berbeda.
Yuni
Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira Amien Rais perlu berkecimpung lebih dalam dulu dan tidak langsung
menjadi Presiden. Bung Dodi boleh percaya dengan Amien Rais begitu juga
dengan 4 juta lebih penduduk lainnya yang ikut memilih PAN. Masalahnya ada
22 juta lebih rakyat yang lebih percaya PDIP yang diketuai oleh Megawati.
Dody Ruliawan wrote:
> Saya rakyat jelata ikut-ikut nimbrung nih.
==dibusek wae===
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.