Saya kira Amien Rais perlu berkecimpung lebih dalam dulu dan tidak langsung menjadi Presiden. Bung Dodi boleh percaya dengan Amien Rais begitu juga dengan 4 juta lebih penduduk lainnya yang ikut memilih PAN. Masalahnya ada 22 juta lebih rakyat yang lebih percaya PDIP yang diketuai oleh Megawati. Dody Ruliawan wrote: > Saya rakyat jelata ikut-ikut nimbrung nih. > Proses reformasi yang terjadi di Indonesia itu memang > rame sekali. Ada ini ada itu, si ini lawan si itu, kekerasan, darah, > saling sikut, koalisi...pokoknya ada macam-macam lah. > Saya mencoba untuk menyederhanakan permasalahan, dan membahasnya, > begini : > 1. Apa yang diharapkan dari reformasi ? > Ujung-ujungnya reformasi sebenarnya sama saja dengan cita-cita yang > dimiliki oleh pendiri RI, dan itu bisa dibaca di pelajaran sejarah, > mulai dari proklamasi, Pancasila, UUD45, pokoknya orang yang "makan > sekolahan" pasti tahu deh wong dari SD sudah diajari yang itu. > Terus, yang mengenai peran internasional kita singkirkan dulu, hasilnya > adalah bahwa sebenarnya siapapun yang memerintah RI wajib untuk > berusaha "menjadikan rakyat adil dan makmur". > > 2. Siapa yang layak jadi pemimpin kita ? > Seperti kita ketahui bahwa untuk mewujudkan cita-cita > itu perlu "sistem" yang mendukung. Nah, kalau saya katakan harus ada > "software" dalam hal ini perundangan, dan "brainware" dalam hal ini > kualitas pemimpin / penyelengara negara yang baik maka kita akan > sama-sama tahu bahwa "brainware" yang kita miliki itu nggak bener. > Boro-boro menciptakan "software" yang baik, ini yang diciptakan malah > software (dan lingkungannya) yang mendukung KKN. > Mahasiswa dan rakyat pun melihat hal ini dan ujung-ujungnya adalah > tuntutan "ganti semua pemimpin yang KKN" atau sering juga dibilang > "ganti Soeharto" karena diharapkan dengan mengganti presiden dengan > presiden yang "baik" maka otomatis dia akan menunjuk orang-orang yang > "baik" pula di pemerintahan. > Jadi siapapun yang dipercaya oleh rakyat (bahasa sekarang "memiliki > legitimasi") dan diperkirakan memiliki "brainware" yang baik maka dia > bisa menjadi presiden dan diperkirakan akan sukses membawa RI menjadi > negara yang mempunyai rakyat yang "adil dan makmur". > > 3. Mengapa Megawati (MS) banyak ditentang ? > Kalau diperhatikan, yang banyak menentang ini dibagi menjadi 3 kelompok > : > a. Alasan agama; memang mau tidak mau beginilah kehidupan nyata di > Indonesia, sebagian besar penduduknya beragama Islam (walaupun sebagian > besar bukan santri karena istilahnya "Islam KTP") namun pendapat > sebagian besar (tidak saya katakan sebagai mayoritas, tapi cukup besar) > ini perlu diperhatikan walaupun pemeluk agama lain agak heran (dan > menggerutu)terhadap pemikiran umat Islam di Indonesia. > b. Alasan kompetensi / kepiawaian; mbak Yuni sudah menyebutkan banyak > sekali contoh tentang MS yang sayang sekali menjadikan MS "tidak bisa > meyakinkan para politisi lain" dalam hal kompetensi ini. > Kita sama-sama maklum bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini > benar-benar memerlukan orang yang "bener" dan "pinter" dan "tidak mudah > keblinger". Dalam hal ini "rapot" MS banyak merahnya. > Rakyat juga mengerti kok, pak Habibie yang doktor dan lama menjadi > menteri saja tiba-tiba bisa menjadi "bodoh" dalam politik karena > "diumpani" masukan-masukan yang salah. Sebut saja berapa keputusan yang > dikoreksi dan "salah ngomong" misalnya mengenai "KOMAS" dan pembicaraan > dengan Andi Ghalib ? > Indonesia jaman ini tidak memerlukan pemimpin yang seperti itu, nanti > kalau sudah adil makmur bolehlah agak salah-salah tapi pemimpin yang > sekarang harus "hebat" dan harus bisa mengobati Indonesia yang > sakit-sakitan ini. > c. Alasan "adal bukan musuh Soeharto"; penganutnya adalah pendukung > Soeharto yang takut akan "merana" kalau MS akan melakukan "balas > dendam", ingat juga bahwa perseteruan pak Harto dan bung Karno itu > bukan perseteruan yang "biasa". > > Kesimpulannya, masalah MS ini cukup rumit karena pihak yang "kontra" > cukup banyak dan nampaknya tidak mudah untuk diajak "kompromi". > > Kalau MS dan PDIP agak mau "bergeser banyak" dari alur pemikiran yang > sekarang berlaku (partai yang banyak dipilih pasti calon presidennya > disahkan oleh MPR) maka hasil pemilu bisa diartikan sebagai berikut : > "PDIP, mohon supaya partai anda itu bekerjasama dengan yang lain untuk > mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur" > Dengan begitu PDIP bisa "legowo" menerima presiden lain selain MS > karena PDIP pada dasarnya menerima posisi sebagai partai "yang sangat > berpengaruh" karena banyaknya wakil di DPR/MPR. Jadi perjuangan itu > tidak selalu berarti menjadikan ketua partainya / MS sebagai presiden > karena bisa jadi kalau MS jadi presiden kemudian Indonesia malah lebih > terpuruk lagi ? > > Kalau ditanya siapa yang layak untuk jadi presiden, dengan > memperhatikan banyak hal maka saya sendiri memilih Amien Rais. Tolong > dibaca bahwa Amien Rais yang ini harus dilepaskan dari partai PAN > karena partai PAN yang muda belia ini tentu tidak bisa diharapkan untuk > diketahui oleh rakyat banyak dan dipilih oleh rakyat banyak yang selama > ini hanya mengenal "kuning" berarti "aman", atau "hijau" yang berarti > "ekstrim kanan" atau "merah" yang diartikan "pewaris orla". > > Salam, > Dody > > --- Yuni Wilcox <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ketika membaca pertanyaan apa sebenarnya cita cita > > reformasi, saya menjadi > > terpikir sejenak, timbul pertanyaan dalam benak saya > > siapa atau partai mana > > yang sebenarnya berhak diberi kepercayaan memimpin > > Indonesia????? > > > > Saya mencoba mengingat kejadian kejadian selama > > bulan bulan genting proses > > mulai brgejolaknya tuntutan reformasi. Pada waktu > > itu saya sedang berada di > > Indonesia, untuk urusan pekerjaan dan keluarga dari > > akhir Februari s/d Akhir > > Mei 1998. > > > > Sebagai seorang yang "sok ingin tahu" dan kebetulan > > mendapat kesempatan > > melihat langsung beberapa proses reformasi(sebagai > > wartawan), pada waktu itu > > saya ikut merasakan bagaimana sepak semangat para > > mahasiswa yang menginginkan > > perbaikan untuk negaranya. Saya mengikuti > > perkembangan berita Amien Rais, > > bagaimana ia berpindah dari satu univerits > > keuniversitas lain, dari satu demo > > ke demo yang lain, ia tampak tak kenal lelah untuk > > mengobarkan semangat para > > mahasiwa untuk terus mendorong tumbangnya tirani > > Suharto.Bahkan secara tegas > > ia memberanikan diri untuk menentang Suharto ketika > > Suharto masih bertahta. Ia > > bahkan sempat ke Amerika untuk memawakili Indonesia > > untuk menjawab pertanyaan > > pertanyaan Internasional tentang Indonesia. > > > > Saya juga dapat melihat kegelisahan Internasional > > dengan tampilnya AR. AR > > tampaknya menjadi suatu ancaman bagi internasional > > jika ia menjadi pemimpin, > > karena paling tidak gambaran mereka bahwa AR akan > > membawa Indonesia ke negara > > yang berlandaskan Islam, tak ubahnya seperti malysia > > atau negara negara Islam > > lainnya. > > > > Dimana MS, pada waktu itu saya juga bertanya tanya, > > kemana ia??. Saya mendapat > > jawaban dari rekan rekan wartawan lainnya bahwa MS > > tidak pernah mau > > diwawancarai. Dan memang benar selama gencarnya masa > > gejolak reformasi, saya > > tak mendengar satu suara pun dari mulut MS. Ketika > > menoba menghubungi MS yang > > saya dpat pada waktu itu, maaf bu MS sedang sibung > > ngurusin persiapan > > perkawinan anaknya, tidak bisa diganggu selama > > beberapa minggu ini. Saya jadi > > tersenyum, dengan kondisi Indonesia yang mulai > > memanas pada waktu itu ia masih > > sempat sempatnya menomor sekian kan Indonesia. > > > > Seharusnya sebagai orang yang pro demokrasi, > > Megawati aktif turun ke arena > > melupakan sejenak pesta perkawinan anaknya. > > menggelorakan semangat mahasiswa > > dan rakyat untuk menegakkan demokrasi. Seperti apa > > yang digembar gemborkannya > > bahwa partainya adalah partai demokrasi, seharusnya > > pada waktu itu justru PDIP > > lah yang berjuang di depan. Tetapi apa kenyataannya, > > ketika bangsa Indonesia, > > khususnya Mahasiswa dan para intelektual berjuang > > untuk bangsa dan negara, > > PDIP menghilang. Tetapi sebelumnya kalau tidak salah > > mereka banyak yang gugur > > karena hanya sekedar untuk membela nama partai PDIP. > > (Sayang sekali perjuangan > > partai PDIP hanya sekedar memperjuangkan nasib > > partai, ini menurut pandangan > > saya). > > > > Dilain pihak tokoh tokoh pemimpin serta intelektual > > lainnya malang melintang > > langsung di arena, seperti halnya tokoh yang lebih > > tua dan disegani seperti > > Emil Salim dan kelompok lainnya. Sedangkan Gus Dur > > pada waktu itu memang tidak > > banyak berkomentar, karena ia sedang sakit, akan > > tetapi ketidak mampuannya > > berkomentar justru bagus karena mungkin komentar > > kiai aneh ini akan justru > > merugikan atau menggembosi gerakan reformasi. > > > > Sebelum saya kembali ke Kanada, pagi harinya saya > > masih sempat mampir ke > > gedung DPR, disana saya ketemu Sukmawati, dan > > beberapa tokoh tua lainnya > > seperti Supeni dkk ikut meramaikan ramainya petisi > > petisi yang meminta > > mundurnya Suharto, mana petisi PDIP??????? yang > > jelas saya tidak dapat mencium > > bau bayangan MS sang pemimpin rakyat di gedung DPR. > > > > Sekembalinya saya ke Kanada, ada satu harapan > > dibenak saya bahwa mungkin kali > > ini rakyat Indonesia akan melihat dengan jelas siapa > > sebenarnya pejuang > > sejati. Saya memperkirakan Emil Salim dan AR akan > > mendapat dukungan penuh dari > > rakyat lainnya selain dari mahasiswa, mengingat > > kerja dan perjuangan mereka. > > > > Sekali lagi saya salah. Saya melihat rakyat > > Indonesia begitu mudah melupakan > > sejarah (maaf ini hanya sekedar pendapat saya) orang > > yang gigih memperjungkan > > nasib mereka seperti Amien Rais, ditinggalkan begitu > > saja. Seorang yang telah > > jelas jelas dapat diukur nilainya sebagai "emas" 24 > > karat, dicampakkan > > digantikan dengan emas sepuhan seperti MS dan Gus > > Dur. Ini semuanya hanya > > karena AR bukan anak Sukarno dan AR bukan orang NU. > > DAn partai AR tidak > > memiliki data ratusan juta sehingga dapat mendanai > > kampanye secara meriah. Ia > > benar benar bermodal "dengkul" > > > > Untungnya AR orangnya cukup berbesar hati, ia > > berjuang tanpa pamrih. Kalaupun > > ia melihat kemampuan dirinya sebagai pemimpin, namun > > karena tidak dikehendaki > > sebagian besar rakyat ya ia menerima. > > > > Saya menulis ini dengan menempatkan diri sebagai > > orang luar, saya berusaha > > tidak melibatkan emosi saya sebagai orang Indonesia. > > Saat ini saya dapat > > merasakan dunia luar juga tersenyum dengan > > kemenangan MS, karena Indonesia > > akan kembali dipegang oleh seorang pemimpin sekuler. > > > > Semoga AR tetap teguh berpegang pada prinsipnya. > > Saya yakin suatu saat > > Indonesia akan membutuhkan orang orang seperti AR > > dan Emil Salim untuk > > menyuarakan kebenaran, keadilan serta demokrasi yang > > sebenarnya. > > > > > > > > > > > --------------------------------------------- > > > Attachment: > > > MIME Type: multipart/alternative > > > --------------------------------------------- > > Saya mencoba utk memberikan pandangan sbb: > > > > 1. 'Reformasi' memang terutama disuarakan oleh > > kalangan mahasiswa (selain > > kelompok dan tokoh lainnya). > > > > 2. Pokok2 aspirasi reformasi adalah sbb > > * Berantas KKN (khususnya usut/adili Suharto, > > keluarga, dan kroninya) > > * Hapuskan dwifungsi ABRI (terutama di bidang > > politik) > > * Rubah UUD 1945 utk menghindari berulangnya > > pemerintahan otoriter > > * Dlsb (seperti pemberian kewenangan pd > > daerah/otonomi/federal, dll) > > Yg saya sebut di atas adalah yg pokok saja, > > mengingat beragamnya kelompok > > mahasiswa/lainnya yg 'reformis'. > > > > 3. Hasil Pemilu 1999 adalah sbb (ranking 5 terbesar, > > KPU last update): > > > > PDIP (program reformasinya relatif kurang 'strong', > > menonjolkan figur > > Megawati sbg capres, mempunyai image sbg partai > > 'tertindas') > > Perolehan suara sekitar 30% > > > > Golkar (program reformasi 'ada' tapi diragukan > > keseriusan/keberhasilannya, > > menonjolkan figur Habibie sbg capres/'partai baru', > > imagenya partai > > orba/'status quo') > > Perolehan 20% > > > > PKB (program reformasi relatif kurang 'strong', > > menonjolkan figur Gus Dur, > > imagenya partai 'orang NU') > > Perolehan 11% > > > > PPP (program reformasinya kurang jelas, menonjolkan > > asas 'ajaran Islam', > > imagenya partai 'lama/terkait dgn status quo') > > Perolehan 10% > > > > > === message truncated === > > _________________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
