Mbak Yuni ini selalu menambal pernyataannya dengan "kalau tidak salah" atau
"kalau tidak salah baca". Jika Anda tidak yakin akan pernyataan Anda sendiri
dan tidak berkepentingan dengan jungkirbaliknya RI, sebaiknya Anda tak
memaksakan diri agar pernyataan Anda diterima. Orang akan menerima semua
pendapat Anda kalau sumber Anda jelas dan Anda menulis berdasarkan atas
pikiran Anda bukan emosi Anda.
Sebelum PAN terbentuk saya sudah pernah membahas AR di milis ini juga
berdasarkan atas pengalaman saya sendiri tentang AR waktu di UGM. Ada nilai
lebih dan kurang pada AR seperti halnya juga pada MS. Sekarang RI butuh
figur presiden. Pilihannya sekarang ada dua dua: (1) kemampuan 100%, tapi
akhlak 60%, dan (2) kemampuan 60%, tapi akhlak 100%. Mana yang akan dipilih?
Di AS jangankan presiden, senator saja mempunyai staf ahli untuk membantu
pekerjaannya. Bahkan publik AS lebih sensitif terhadap akhlak calon
ketimbang asal sekolahnya.
Wassalam,
Efron
-----Original Message-----
From: Yuni Wilcox [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, 25 June, 1999 5:06 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Re: [Re: Apa sebenarnya cita-cita Reformasi ?]]
Bung Blucer, secara obyektif sebagai orang yang tidak berkepentingan dengan
jungkir baliknya Indonesia, saya menilai justru AR adalah seorang pemimpin
yang ideal. Ia lahir dari bawah, dengan kata lain ia berhasil menduduki
jabatan salah satu organisasi Islam kedua terbesar di Indonesia. Dan ia
adalah
salah seorang yang sudah dapat dibuktikan kerjanya dalam membantu
menggulingkan Suharto. Paling tidak suaranya yang lantang dan konsisten pada
waktu itu membakar semangat para mahasiswa "minimal".
Apakah itu tidak cukup membuktikan keterkecimpungannya dalam politik.
Saya ingin tahu apakah MS sudah cukup membuktikan dirinya lebih matang
daripada AR? Saya tidak melihat tanda tanda itu, kecuali "kesahajaannya"
sebagai seorang "perempuan" dan anak "Sukarno".
Mengapa kalangan internasional sempat cepat ketika bergolaknya reformasi
tahun
1998, itu karena kalau kejadian serupa Indonesia terjadi di Amerika, Kanada
atau negara maju lainnya, maka sosok seperti AR itulah yang akan terpilih
menjadi kepala negara. Karena terlepas dari unsur keagamaan AR adalah
seorang
yang mumpuni sebagai pemimpin, dimana ia mampu menggerakkan mahasiswa,
dengan
landasan perjuangan bangsa, bukan partai. Sedangkan Mega jika pergolakan
terjadi tahun sebelumnya dari yang saya baca itu hanya dikarenakan pembelaan
terhadap PDIP, bukan bangsa dan negara (kalau saya tidak salah baca).
Itulah yang saya tangkap dari koran koran Kanada pada waktu itu. Tetapi
sayangnya Indonesia sendiri unik, meskipun kondisi sudah membuktikan
sedemikian rupa, eh hasil yang dicapai berbeda.
Yuni
Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira Amien Rais perlu berkecimpung lebih dalam dulu dan tidak langsung
menjadi Presiden. Bung Dodi boleh percaya dengan Amien Rais begitu juga
dengan 4 juta lebih penduduk lainnya yang ikut memilih PAN. Masalahnya ada
22 juta lebih rakyat yang lebih percaya PDIP yang diketuai oleh Megawati.
Dody Ruliawan wrote:
> Saya rakyat jelata ikut-ikut nimbrung nih.
==dibusek wae===