Menanggapi obrolan Yuni dan Irwan:

1. Rasanya tidak ada seorangpun yang mengeluarkan pernyataan yang menyinggung
partai politik yang berasaskan keagamaan! Kalau "pernyataan Pak Dubes" dikira
menyudutkan partai2 tsb, sama sekali nggak benar. Sekali lagi, Beliau hanya
mengungkapkan *fakta*, dari hasil penghitungan suara, bahwa walaupun partai
keagaamaan mendapatkan tempat layak di hati rakyat, perolehan suaranya kalah
dengan yang partai non-agama. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat
Indonesia meunjukkan pilihannya ke partai non-agama. Bukan berarti bahwa
partai agama tidak penting, bukan berarti bahwa masyarakat kita buta politik,
bukan berarti masyarakat berpikiran tidak maju. Hasil perolehan suara hanya
menunjukkan preferensi masyarakat, titik. Menurut saya, masyarakat kita sudah
berpikiran maju, dengan kemampuan menjalani pemilu secara lebih baik dan
lebih tertib dibanding yang sebelumnya!

2. Saya ingat permainan waktu SD: bikin barisan, siswa terdepan dibisiki
guru: "Ibu Budi pergi ke pasar bersama Ibu Tuti untuk membeli ikan,
sayur-sayuran, nasi, dan kudapan". Siswa diharuskan meneruskan kalimat tadi
(berbisik juga) kepada teman dibelakangnya, dst. Siswa yang paling belakang
ditugaskan mengucapkan kembali kalimat tersebut. Hasilnya? "Budi makan nasi,
membeli ikan, pisang dan tanaman untuk Tuti dan ibunya". Siswa pertama yakin
bahwa bukan itu yang dia katakan, siswa terakhir yakin bahwa itu yang dia
terima.
Suatu proses komunikasi yang terjadi di mana-mana. Kita lantas
mengkritik:"Budi, kok belinya tanaman sih? Bagaimana sih, Budi ini?" padahal,
si Budi nggak belanja, tanaman juga nggak ada yang beli... kan kasihan atuh,
si Budi itu....;-)
Kira2 itulah penggambaran saya untuk debat tentang "ucapan Pak Dubes",
"ayam-ayaman", "partai agama - non agama"......
Permias wajib-lah memberi masukan kritis kepada Dubes. Bukankah itu salah
satu kewajiban moral kita? Namun satu hal: komentar kritis hendaknya sedapat
mungkin didasarkan pada sumber primer. Kalau yang didapat itu berita dari
sumber sekunder, hendaknya ditelusuri dulu, berita yang *sesungguhnya* itu
yang bagaimana. Kalau kita mendasarkan diri pada sumber sekunder, ya itulah
hasilnya.....ngeblunder sendiri, nggak jelas juntrungannya......;-))

Udah ah, capek, nggak mau komentar lagi ah...
Nina Poerbonegoro

Kirim email ke