Menarik sekali "kisah" di Minangkabau ini yang mendapat tanggapan dari
berbagai pihak. Kebetulan sekali permasalahan ini menyangkut masalah sara
yang kalau tidak arif menyikapinya dapat menjadi permasalahan pada bangsa
kita. Dan saya percaya dengan dialog terbuka yang dilakukan di milis ini
dapat menambah wawasan kita.
Berita Republika
================
Posting mengenai kisah ini telah saya baca baik dari sumber Bung Effron,
Bung Jaya dan Bung Yumartono. Berita yang ditulis oleh Bung Jaya dan Bung
Yumartono berasal dari harian Republika yang telah bertaraf nasional
sehingga sudah tentu menggunakan kode etik jurnalistik dan dapat
dipertanggungjawabkan. Saya percaya dengan sumber berita dari harian ini
mengenai kisah Khairiyah pindah agama dari Kristen menjadi Islam dan
mungkin juga dengan cara yang dilakukan oleh keluarga Salmon dengan cara
menghamili Khairiyah sehingga masuk ke Agama Kristen. Demikian sehingga
juga dijelaskan bahwa ini menjadi "modus operandi" untuk pengKristenan
atau teman-teman sebut sebagai "Kristenisasi" warga Minangkabau.
Disebutkan bahwa yang dilakukan oleh Salmon dkk adalah misi Kristenisasi.
Menurut saya apa yang dilakukan oleh Salmon dkk, ataupun yang lain dengan
cara-cara tersebut tidak bisa saya terima.
Saya sebagai orang Kristen tidak setuju dan dengan cara seperti itu,
walaupun tujuannya untuk mengajak orang lain menjadi Kristen.
Karena pengertian Kristen yang sebenarnya adalah orang yang mengikut
Kristus atau percaya Kristus. Jadi ketika cara-cara yang dilakukan tidak
dengan cara yang dilakukan oleh Yesus Kristus maka cara tersebut sudah
tidak benar dan tentu Tuhan Yesus sendiri tidak akan menyetujui cara
tersebut.
Saya mau katakan dalam mail ini banyak orang yang mengaku atau hanya
berlabel Kristen saja, tetapi tidak mengerti apa yang dimaksud dengan
Kristen secara tepat. Jadi karena itu saya ingin menyampaikan kepada
bung Effron, bung Yumartono, bung Jaya dan teman-teman lainnya bahwa saya
tidak sependapat dengan Kristenisasi ala demikian.
Kristenisasi
============
Sebenarnya saya tidak pernah sependapat dengan adanya istilah
Kristenisasi. Saya ingin meluruskan istilah Krisenisasi yang berkembang
saat ini dengan pemahaman yang saya miliki. Istilah Kristenisasi yang
teman-teman maksudkan adalah mungkin dalam istilah saya pekabaran Injil
(PI) atau pekabaran Kabar Baik dan Keselamatan dari Tuhan. Pekabaran Injil
ini sendiri bukan kehendak orang Kristen (baca: Manusia) tetapi merupakan
kehendak Tuhan Allah.
Karena itu yang mengubah hati orang untuk mengikut Tuhan bukan dari
bagaimana kita mengabarkan atau prosesnya, tetapi adalah kerja Allah
melalui Roh Kudus. Karena Saya percaya kalau dengan kuasa manusia baik
dengan rasio ataupun logika tidak dapat mengubah hati orang untuk mengikut
Tuhan.
Saya beri contoh seperti ini, teman saya ada yang hatinya terbeban untuk
mengadakan Penginjilan. Dia tidak pergi jauh-jauh tetapi pergi ke
Alun-alun Kota, Taman-taman, Lapangan dan tempat Umum lainnya. Cara yang
dia lakukan dalam PI ini adalah dengan misalnya mendekati orang yang
sedang duduk2x di Bangku (belum dikenalnya) kemudian mengajak ngobrol,
apabila orang ybs terima untuk diajak ngobrol maka obrolan akan
dilanjutkan dan kemudian apabila orang tersebut tertarik baru teman saya
ini mengabarkan Injil atau kabar Keselamatan. Saya katakan sebelumnya
bahwa orang yang di PI tsb belum dikenalnya sehingga tentu banyak hal yang
mungkin terjadi, seperti: teman saya itu pernah dipukul, dikejar atau
tidak diterima. Namun hal itu tidak membuat dia surut karena dia tahu yang
bekerja bukan kemampuannya sendiri tetapi Roh Allah (Roh Kudus). Apabila
orang tersebut tidak menerima maka ia meninggalkan traktat (buku kecil
berisi kabar baik / Alkitab)
Contoh lain lagi:
Misionaris yang pergi ke Irian, Sumatera Utara, Afrika ataupun tempat
terpencil lainnya. Mereka yang pergi kesana adalah orang barat yang
terdiri atas latar belakang profesi seperti pengusaha, pegawai negeri,dll.
Apa sih yang membuat mereka mau ke tempat yang belum dikenalnya dengan
banyak konsekuensi yang harus diterima seperti berikut:
1. Ketika misi penginjilan pertama ke Tanah Batak maka rombongan
misionaris yang pertama kali ke sana dimakan oleh orang-orang Batak.
Baru setelah itu ada orang Jerman yang berhasil selamat mengabarkan
Injil di sana sehingga banyak orang Batak yang bertobat.
2. Misi penginjilan di Irian Jaya. Kita kenal bahwa suku Irian banyak yang
Kanibal sehingga tentu para misionaris ini tentu menghadapi resiko yang
besar ditambah lagi oleh hutan di Irian yang banyak binatang buas.
Mengapa resiko ini mau ditanggung oleh para misionaris bahkan dengan
meninggalkan keluarganya. Hal itu hanya bisa dijawab oleh pekerjaan Tuhan
(Roh Kudus).
Nah tugas penginjilan ini menjadi tanggungjawab dari setiap orang yang
percaya kepada Tuhan Yesus. Mungkin saya sendiri belum berani mengambil
langkah tersebut karena banyak kekuatiran-kekuatiran yang masih saya
hadapi sebagai manusia. Apakah Bung Effron atau teman-teman yang Kristen
berani mengambil iman seperti di atas??
Karena itu saya percaya bahwa misi penginjilan atau teman-teman
istilahkan dengan Kristenisasi tidak bisa dijalankan
dengan keinginan kita, misalnya : pemaksaan, penteroran atau dengan
cara-cara sejenis. Saya tambahkan lagi bahwa hal itu adalah pekerjaan
tangan Tuhan sendiri. Sebagai Pengikut Kristus tentu cara yang dilakukan
harus bercermin kepada teladan Yesus. Bahkan Yesus sendiri berpesan agar
kita mau menderita dan memikul salibNya seperti Ia sendiri rela memikul
dosa-dosa orang berdosa.
Salam Hormat,
Saut A H S
[EMAIL PROTECTED]
Urban & Regional Planning
Bandung Institute of Technology