Salam,
Nimbrung boleh kan. Secara keseluruhan saya sangat sepakat dangan pelbagai
uraian dan argumentasi Anda. Utamanya menyangkut isu Australia. Tapi khusus
harapan Anda di bawah, supaya TNI tarik pasukan segera dari Timtim, saya ada
koreksi.
Indonesia atau TNI baru bisa tarik diri setelah Timtim diserahkan dan
tanggung jawab keamanan berada di tangan Pasukan Perdamaian PBB (UN
Peacekeeping Forces). Itu artinya masuk dalam fase ke-3, yakni pasca
pengesahan MPR atas status baru Timtim. Ini dikenal dengan Kesepakatan 5
Mei, di markas PBB New York.
Nah jika sudah dalam Fase Tiga, Indonesia dan TNI benar-benar tidak mempunyai
tanggung jawab apa-apa lagi menyangkut Timtim. Melainkan sudah diserahkan
kepada PBB. Tanpa Anda harap pun, TNI pasti mundur dengan sendirinya (habis
sudah Agreement sih;-))
Sedangkan sekarang ini masih Fase Kedua, di mana tanggung jawab keamanan
masih ada pada Indonesia dan plus , lewat Resolusi DK-PBB jelang Subuh
kemarin, disahkanlah pengiriman pasukan multinasional. Jadi pasukan
multinasional dan TNI bersama-sama memulihkan keamanan di Timtim. Soal berapa
anggota TNI di sana pada Fase Dua ini, itu soal teknis dan masih digodok
hingga saat ini di New York.
Oya, nambahin soal Australia. Seluruh komponen bangsa penelantar Aborigin ini
dari dulu emang pongah, arogan dan puncaknya yaa.... sekarang ini. Saya pikir
Indonesia harus, sekali lagi, harus bersikap tegas terhadap Pemerintah
Australia. Dinginkan hubungan-- bila perlu hubungan diplomatik diturunkan ke
level KUAI (charge d'affaires) saja.
Jika tingkat kerugian dan penghinaan martabat kebangsaan kita sudah
sedemikian parah diperbuat Australia, saya sarankan "bekukan hubungan
diplomatik" kita dengan Negeri Kanguru itu.
Inginnya saya melepas uneg-uneg ini lebih jauh dan lebih melebar lagi. Tapi
karena keterbatasan macam-macam, cukuplah saya sudahi sampai di sini.
Akhir kate, kalo ade kate-kate ane yang salah, maapin aye ye bang!
Salam,
ramadhan pohan
(penyimak pinggiran)
#####
In a message dated 9/16/99 3:19:10 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
writes:
<< Di bawah ini saya sampaikan artikel dari HKStandard (Hongkong). Ini
sekaligus untuk memperkuat klaim saya bahwa Australia memang mencari jalan
untuk menjadi kekuatan utama di Asteng. Biasa lah...kalau yg ngomong orang
melayu singkong biasanya nggak digubris atau dianggap baseless dan penuh
asumsi. Kalau yg ngomong dari pihak LN baru rada didengerin. Ini kebiasaan
yg terjadi di kita lho. Jadi tidak bermaksud menunjuk ke siapa-siapa, dengan
demikian jangan ada yg GR lho.
Denger-denger Australia ngeper untuk masuk ke Timtim ya? Malahan mereka mau
konsolidasi dulu barang beberapa hari, setelah berkoar 'alert 24 hours'.
Kalau harian nasional memberitakan bahwa Aussie membujuk Thailand untuk
menjadi pemimpin bersama Multinational Force ini. Untung saja Thai nggak
mau.
Selain itu Howard (boleh dibaca coward) bilang untuk siap-siap bertahan di
Timtim selama 4 tahun untuk merestore law and order. Kok lama amat.
Memangnya mau menjadikan Timtim bagian dari Australia atau gimana ya?
Restoring atau occupying?
Yah, Indonesia selama 23 tahun tidak mampu menerapkan law and order karena
aksi gerilya. Kaum WASP ini terlalu arogan bahwa 7000 prajurit (dan
berintikan 4500 Crocodile dundee) sudah cukup untuk mengganti 24,000
prajurit & polisi RI (pasukan unyil kali?). Ceilee... arogan bener deh...
Saya sih berharap agar pemerintah segera menginstruksikan TNI agar menarik
pasukan dengan segera. Ingat lho, Aussie ini pinter banget, mereka bilang
Indonesia mesti bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Jadi kalau ada rusuh
dan jatuh korban Indonesia mesti tanggung jawab. Lho lalu mereka datang
fungsinya apa? Mau mengamankan atau ingin menjadi beban TNI dg menjagai
mereka (bayi kali). Makanya mending tarik saja TNI, sehingga kita nggak kena
getah lagi. Cukup tinggalin 100-200 orang sebagai observer saja. Kan sudah
urusan international.
Sayang Habibie nggak ikutin milis ini, sehingga nggak bisa nurutin saran
orang melayu ini. Pull 'em back right now lah. Kena getah lagi baru nyaho
lho..hehehe....;)
+anjas
-----------------
Peace role to test Australia's place in Asia
Australia, which is expected to lead a UN force into
East Timor later this week following the UN Security
Council's approval of the mission yesterday, has long
wanted to increase its influence in the region and the
peacekeeping operation could help improve its standing
in Asia in the long run.
But Australia's aggressive push for Indonesia to
accept peacekeepers, which has been backed by UN
Secretary General Kofi Annan and US President Bill
Clinton, has not been welcomed by all.
It has faced fierce opposition in Indonesia from both
officials and members of the public, with angry
demonstrations against any Australian military
presence in East Timor.
And Malaysian Prime Minister Mahathir Mohamad has
accused Australia of bullying Indonesia into accepting
its leadership of the peacekeeping mission, saying
Southeast Asian nations should be at the fore.
``But it is clear that other countries such as
Australia are keen to send their soldiers to East
Timor,'' Dr Mahathir was quoted as saying in
Malaysia's The Star newspaper yesterday.
``That is their habit. They really love it when they
have the chance to pressure their neighbours, to
condemn their neighbours. That is their way.''
>>