Mmm... bolehkan kalau dari Hannover ikut nimbrung juga...
> Omong kosong aja nih ceritanya....
Ehh... ini nggak hanya omong kosong kok... Idenya bagus!
> Selama ini khan para bapak bapak dan ibu ibu mahasiswa di Amerika ini
selalu
> berdiskusi, atau malah sudah banyak yang berperan aktif dalam
perpolitikan.
Ooo yaa...? Wah salah informasi untuk kita2 yang ada di Jerman.
> Contoh peran aktif tadi ya kalau tidak jadi simpatisan atau cabang suatu
> partai politik, ada yang berdemonstrasi, mengirim surat keprihatinan dan
> sebagainya.
Bagus2... kalau kita kritis! Sehingga teman2 Mahasiswa yang aktif di
Indonesia nggak merasa sendiri.
Saya yakin kalau tujuan itu semua untuk perbaikan bangsa dan
> negara kita sendiri, ya ngga?
Betul!
>
> Oleh karena itu, saya jadi mikir; bapak bapak dan ibu ibu ini ada ngga
yah
> yang tertarik menjadi wakil rakyat di DPR/MPR ? untuk menjadi wakil
rakyat
> khan berarti juga menjadi seorang politisi.
Untuk menjadi wakil rakyat, mungkin itu beresiko tinggi... karena "rakyat"
itu banyak dan majemuk. Seseorang untuk menjadi wakil rakyat kalau menurut
saya, bukan dari ide pribadi, melainkan kemauan dari rakyat untuk diwakili.
Jadi bingung juga kalau kita mendengar adanya "perebutan kursi" dsb. Dan
paling enak jadi "rakyat", jadi Oposant yang baik!
Sedangkan banyak diantara kita
> yang bertujuan untuk bekerja di American corporate atau paling tidak
bekerja
> pada perusahaan perusahaan di Indonesia.
Nggak salah kok. Seseorang hanya bisa berkecimpung di dalam dunia Politik
kalau seseorang tersebut perutnya kenyang. Jadi dengan kata lain nggak bakal
bisa disogok, untuk meloloskan satu kepentingan yang akan merugikan
kepentingan-kepentingan yang lebih besar.
Mungkin banyak juga yang
> berwiraswasta nantinya.
>
> Nah, karena memang kita didorong untuk menjadi "money seeking" ( ngga
salah,
> lagian siapa lagi yang menghidupi kita kalo bukan kita sendiri? ), jadi
siapa
> yang mau mewakili rakyat?
Silahkan...!
Banyak pemikiran bagus dari kita tentang Indonesia,
> tapi tidak pernah ter-realitas kan oleh karena kita saat ini bukan
"decision
> maker".
>
> Saya cuma pengen cetusin ide ini aja, karena kadang kadang cape juga
melihat
> segudang pemikiran dan ide ide yang brilyan, tapi pada akhirnya hilang
begitu
> saja. Sedangkan pemikiran dan sumbangsih kita sangat diperlukan diwaktu
> republik sedang tercabik cabik seperti begini.
Wah itu kan tinggal masalah Dokumentasi aja...
>Kalau saya pribadi sih emang
> ngga berminat berpolitik.
Hehe... dorongan yang anda tulis ini, menunjukan kok, bagaimana
politish-nya anda. :)
>Politik itu katanya lebih kejam dari ibu
> tiri..hehehe =P
Makanya jangan termakan pemikiran Politik yang konvensional. Nggak kejam
kok... yang kejam orang2 pelaku politik itu. Jadi politik sangat tergantung
sekali dengan pelaku2nya... dan bukan sebaliknya.
>
> Tulisan ringan ini cuma sebagai pengingat saja bagi seluruh mahasiswa
yang
> perduli dengan Indonesia, dimanapun mereka berada.
Ya... terima kasih!
>Pengingat kalau untuk
> menjadikan Indonesia menjadi lebih baik, sang mahasiswa pemikir harus
menjadi
> decision maker..which is should be.. penggede, alias politisi atawa
pejabat
> nantinya.
decision maker...? wah... itu ala perusahaan ya... menurut saya "decision
makers"! Jadi, mengambil keputusan bersama, utawa musyawarah.
> Ada yang minat?
>
Jadi wakil rakyat? No! Oposant yes!
>
> Arya,
> Minggu pagi di Denver, CO
>
Isman
Senin siang di Hannover, Germany.
--
Sent through Global Message Exchange - http://www.gmx.net