Wah...ada yang reply juga email gue..
tengkiyu tengkiyu.., emailnya dateng jauh jauh dari Jerman lagi.
Maaf nih baru bisa bales sekarang, maklum sibuk =)

anyway, kalau Isman bilang lebih baik menjadi opposant, ya aku ngga begitu
setuju yah.
Soalnya kita akhirnya cuma bisa mengkritik sang badan pemerintahan tanpa
punya banyak kekuasaan untuk memutuskan sesuatu.

Contoh kayak sekarang ini: Masalah Habibie ( email yang barusan aku baca,
judulnya Habibie yang licik kalo ngga salah yee ). Para opposant sekarang ini
tentu banyak yang ngga setuju tentang keputusan Habibie atas Timor timur.
Tapi akhirnya karena saat ini opposant itu "bargaining power"nya lemah, suara
mereka akhirnya ngga digubris.

Nah, itu pointnya aku. Kalau generasi mahasiswa yang kritis saat ini banyak
yang berminat untuk menjadi politikus, pejabat atau negarawan, diharapkan
suatu saat nanti mereka bisa merubah Indonesia untuk menjadi lebih baik.

Contoh nih, misalnya Isman sekarang menjadi seorang Wiranto. Tentu bargaining
power Isman atas segala keputusan Habibie akan menjadi lebih kuat dibanding
kalau Isman hanya menjadi seorang Amien Rais yang emang katanya seorang
opposant.

Ya kira kira itu sih argumentnya aku. Aku sendiri sebetulnya lumayan demen
juga ngobrolin politik, tapi untuk terjun di dalamnya, wahh ngga tau deh yee.
Apalagi kalau di dalam agamaku ini, memimpin rakyat itu sesuatu yang bakalan
diminta pertanggung jawabannya pada hari akhir nanti. Wuahh berat rek...

Akhir kata, aku mau ngucapin terimakasih sama tanggapan Isman dan selamat
kenal. Maaf kalau gaya tulisan aku ini nyantai. Habisnya kalau dilihat yang
dulu dulu, orang orang tuh kalau diskusinya terlalu dihayati dan serius, suka
akhirannya berantem dan di email pula berantemnya.Cape ngeliatnya, jadi
mendingan ngobrol yang santai santai aja. Aku juga malu sih ama bangsa dan
negara, orang di kampung halaman itu berantemnya real kok bukan virtual, kok
kita kita disini cuma berani yang virtual doang..hehehe =)

ya udah, segini dulu ah..

Wassalam.

Arya

Kirim email ke