Ini kalo berita dibawah yang saya baca di Kompas bener,
Habibie itu berengsek + licik banget.
Dosanya bener-bener sejajar deh sama $oeharto.
1. Dia yang ngusulin 2 opsi (terutama yang kedua) ke rakyat Timtim yang
tujuan utamanya
untuk mengalihkan perhatian rakyat+mahasiwa terhadap pengadilan
akan kekayaan $oeharto + kekayaan dia sendiri.
Ini dilakukan tanpa dengerin komentar/keberatan DPR+MPR saat itu.
2. Eh .. menang deh rakyat Timtim. Walaupun kita udah malu banget di
dunia luar, kita masih ada tawar-menawar untuk dikte negara mana
aja yang boleh masuk Timtim. Rakyat+DPR+sebagian besar Parpol nggak
mau negara tertentu (seperti Australia, Portugal, dll) masuk ke
Timtim.
Eh .... dia malah kirim si Ali ke NewYork, bilang siapa aja boleh
masuk ke Timtim.
3. Nah ... sekarang ke merdekaan Timtim mesti di declare secara
formal dari Jakarta. Dia nggak mau ... malah ngasih permasalahannya
ke MPR (seperti yang terbaca di Kompas). Dia mungkin pikir biar
MPR deh yang gontok-gontokan sama orang Timtim + dunia.
Habibie cuman mau ngakuin bahwa opsi pertama di tolak. Titik.
Dia nggak ngakuin kalo opsi kedua adalah pilihan rakyat Timtim.
Si Habibie miripnya sama Napoleon, cuman pendeknya aja.
Bedanya? Napolean jayain France.
Si Habibie ngerjain + ngerusakin Indonesia, kayak kutu dikepala.
i can't beleive he is our president and he still wants to be the next
president. *sigh* :(
igg
Artikel dari kompas:
====================================================================
Selasa, 21 September 1999, 12:12 WIB
Habibie Tentang Masalah Timtim:
Meski Ditetapkan MPR, Timtim Tidak Diakui
Dunia Internasional
Jakarta, Antara
Presiden BJ Habibie dalam Sidang Paripurna DPR di
Jakarta, Selasa
(21/9) mengatakan pemerintah sama sekali tidak
mempunyai
kewenangan untuk melepaskan Provinsi Timor Timur.
Kepada sedikitnya 310 anggota DPR yang menghadiri
Sidang
Paripurna itu, Presiden Habibie mengatakan yang
bisa dilakukan
pemerintah adalah melaporkan hasil Jajak Pendapat
di Timtim
tersebut kepada para anggota MPR, yang merupakan
pemegang
kedaulatan rakyat, bahwa mayoritas masyarakat
Timtim menolak
tawaran otonomi luas dengan status khusus.
"Maka diharapkan Majelis Permusyawaratan Rakyat
yang akan
melakukan Sidang Umum nanti dapat menampung
aspirasi rakyat
Timor Timur tersebut sesuai dengan nilai-nilai
yang terkandung di
dalam konstitusi kita," demikian harapan Kepala
Negara kepada para
anggota MPR.
Presiden mengatakan pula bahwa karena mayoritas
penduduk
Timtim menolak tawaran status otonomi dengan
status khusus
tersebut, maka hal itu harus dipandang sebagai
kenyataan yang ada
secara jernih.
Kepala Negara mengemukakan pula bahwa karena
tawaran otonomi
itu ditolak maka bangsa Indonesia akan bisa
memusatkan perhatian
dan usahanya untuk memasuki Abad 21 tanpa
gangguan
internasional, karena selama lebih dari dua
dasawarsa ini, Indonesia
telah dipojokkan di dunia internasional.
Ketika mengomentari pertanyaan anggota Dewan
bahwa opsi kedua
tidak sesuai dengan Tap MPR No VI/1978, Kepala
Negara
menjelaskan bahwa sekalipun penggabungan Timtim
telah
dikukuhkan oleh Tap MPR, ternyata hal itu tidak
diakui dunia
internasional.
"Bahkan konstitusi Portugal masih tetap
mencantumkan Timor Timur
sebagai wilayahnya," kata Presiden.
Dikemukakan pula bahwa sulit bagi Indonesia untuk
terus bertahan
terhadap tekanan internasional dengan alasan
konvensional bahwa
masuknya Timtim itu sudah dikukuhkan oleh MPR.
" Sangat sulit bagi kita untuk tetap bertahan
dengan alasan
konvensional bahwa karena status Timor Timur
sudah dikukuhkan
oleh MPR maka kita bisa menolak semua tekanan
internasional
tanpa mengambil risiko dikucilkan dari pergaulan
internasional," kata
Presiden ketika menjelaskan latar belakang
pemberian opsi tersebut.
Pada kesempatan ini, ternyata Presiden kemudian
juga berbicara di
luar teks resminya terutama dengan akan
berakhirnya masa bakti
kabinet dan DPR.
"Tinggal 37 hari lagi, Insya Allah Kabinet
(Reformasi Pembangunan,
red) akan demisioner. Sebagai pejuang saya tidak
mau berpisah
dengan Anda. Sampai berjumpa dimana saja," kata
Presiden.
Ketika meninggalkan ruang sidang, nampak Presiden
bersalaman
dengan sejumlah anggota DPR.