Kemenangan Amien cuma saya komentari dengan kalimat "Syukur Alhamdulillah".
Sebagai motor penggerak reformasi satu-satunya, sudah sewajarnya Amien
mendapat tempat yang wajar. Maaf kalau saya tidak pernah mengakui Mega
sebagai motor penggerak reformasi.

Yang saya agak kawatir adalah sifat Amien yang sering "pendek akal", yaitu
dengan menyuarakan pemikiran-pemikiran radikal, yang sering mirip dengan
Gorbachev, yaitu bagus di jangka pendek, tetapi disintegrasi di jangka
panjang. Apalagi bila persahabatannya dengan CW yang sering bersikap radikal
masih dilanjutkan, maka saya jadi makin kawatir. Semoga saja Amien ingat
bahwa CW sudah berubah pendirian.

Dengan mundurnya Gus Dur dari pencalonan presiden (bila yg dikatakan Yusril
adalah benar), maka sudah ada tanda-tanda keretakan di dalam poros tengah.
AM Fatwa membuka kemungkinan mencalonkan Habibie, dan Yusril bilang tidak
mungkin mencalonkan dia. Dengan kejadian ini PDIP dapat menjalankan taktik
pecah belah pada poros tengah. Rasanya dengan kedinamisan situasi, bikin
analisis dari luar cuma buang-buang energi. Calon baru dapat muncul di menit
terakhir.

Mending kembali ke posisi kita sebagai mahasiswa. Apa yang dapat ditarik
pelajaran dari sini?
1. Politik dari dulu kala sudah ribet dan kotor. Makanya saya dulu
   sering ribut kalau banyak dari kita membuat statement kalau si A
   tidak mendukung si B dari partai C, maka mengkianati semangat
   reformasi, dlsb.
2. Mahasiswa bingung mana yg reformasi dan mana yg bukan. Pernyataan
   Habibie hari ini rasanya merupakan pernyataan paling reformis,
   dibandingkan sikap-sikap dari Mega. Sungguh ironis dengan
   predikat "status quo" yg kita cap-kan di dahinya. Dari awal saya
   juga sudah bilang bahwa dia lebih reformis dibandingkan Megawati.
   Hal ini bukan berarti saya mendukung Habibie (toh nggak pengaruh),
   karena saya merasa Habibie tokoh yg lemah. Mudah ditekan oleh pihak
   orang lain. Sikap kompromi adalah sikap yg baik. Cuma kita tahu
   dalam kompromi pasti ada yg kita korbankan. Kejadian Timtim adalah
   sikap kompromi yg terlalu besar. Saya tidak tahu lagi dengan
   kemungkinan- kemungkinan sejenis terhadap Aceh, Maluku Selatan, dan
   Irja bila Habibie tetap naik.
3. Mahasiswa selalu menjadi minyak pelumas dari jalannya pergantian
   kekuasaan. Setelah itu, bila piramid lama sudah berhasil digeser
   oleh piramid baru (dengan minyak zaitun melumasi batang pohon
   sebagai rodanya), maka minyak zaitun tersebut tidak diperlukan
   lagi. Akhirnya kehidupan berjalan normal lagi, mahasiswa nggak ada
   kerjaan akhirnya tawuran lagi....;) Hehehe...;)

Bagaimana dengan sikap mahasiswa? Rasanya jalannya sidang MPR sudah
mencerminkan sikap reformasi. Terciptanya kubu-kubu juga tidak perlu
diributkan. Di mana-mana juga begitu kok. Menurut saya sih mending mahasiswa
sekarang menuntut perbaikan fasilitas sekolah saja. Pemerintah juga sudah
saatnya memberi fasilitas lab. dlsb. lengkap dengan suasana kondusifnya
seperti kerjasama dg swasta. Lumayan biar tidak ada yg sekolah ke Aussie si
negara rasis itu.

Ngomong-ngomong tentang Aussie dan Timtim, SMH hari ini memberitakan bahwa
Caritas Priest dan puluhan aid workers yang mereka gemborkan mati ternyata
hidup dan baru kembali dari gunung-gunung. Memang sungguh bangsat bangsa
Aussie ini. Bila mereka tidak menemukan orang, langsung berkoar sampai ke
mars bahwa mereka dibantai militia dibantu oleh TNI. Sungguh tidak tahu malu
menfitnah negara tetangganya.

Mungkin langkah mahasiswa yg perlu adalah mendemo agar pemerintahan yang
baru membatasi hubungan dengan negara Aussie dan NZ itu. Satu hal lagi,
dengan bukti bahwa media barat lebih banyak fitnah daripada berita benernya,
mestinya tuntutan pengadilan internasional yg mereka gemborkan makin tidak
berdasar. Setiap tindakan seperti itu (misal gerakan para advokat Aussie)
pasti berlatar belakang ingin menghujam RI dari belakang lagi.

+jeffrey anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke