Wah Pak Jeffrey hebat juga beranalisa, terima kasih deh atas informsinya.
Saya setuju dengan tulisan anda itu, meskipun ada yang perlu dikomentari
sedikit jika tidak keberata, tanpa bermaksud berdebat kusir.

Kalau soal mengkritik Pemerintahan Soeharto, rasanya sejak awal tahun
1970-an sudah dimulai oleh beberapa pihak, diantaranya oleh suatu Fosko
(Forum studi dan komunikasi), yang sebagian besar anggotanya kemudian
terlibat dalam apa yang disebut Petisi-50. Peristiwa Malari juga ikut
mencerminkan ketidakpuasan tersebut, yang kemudian diteruskan oleh
'adik2-nya' pada tahun 1978. Kemudian ada beberapa anggota masyarakat
yang agak berani seperti HR Dharsono, Sri Bintang, Budiman Soedjatmiko dll.
Saya juga mendengar banyaknya anggota MPR/DPR yang kala itu di-recall
dari keanggotan (Golkar) karena terlalu vocal, sekitar akhir tahun 1969.

Apa akibatnya ? Wah......miris deh kalau mengingat2 masa itu !

Jadi sejak 'dini' sudah ada rasa ketidak-puasan tersebut, namun sejalan
dengan itu justru banyak pihak yang asyik menikmati kehidupan dunia-nya
tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi. Apapun dijalankan, meskipun
sampai harus 'melibas' kawan sendiri. Hampir semua orang justru
memuji Pak Harto, mendukung Golkar dan tidak perduli dengan apa yang
sebenarnya terjadi. Yang anti Orde Baru (atau Golkar) kala itu
dianggap tidak Nasionalis.

Dan kini sudah terjadi, bahwa Negara dalam keadaan porak poranda, dan
banyak pihak yang tersadar. Namun keadaan sudah terlambat, kita harus
berjuang dari nol lagi. Dan kita akan lakukan itu !

Mengenai Pak Amien, saya rasa secara de-facto dan de-jure telah
terpilih sebagai Ketua MPR, dan kita mendoakan agar apa yang kita
(atau saya) duga dan takutkan atas beliau selama ini adalah salah.

Yang saya tidak 'sreg' adalah tulisn yang bisa dibaca diberbagai
mass-media sbb :

       Golkar, yang dulu menjadi lawan kalangan reformis namun
       kini justru bergandeng tangan dengan lokomotif reformasi,
       Amies Rais, akan berjuang menggolkan Akbar Tanjung.
       Peluang Akbar sangat besar. Apalagi, kubu poros tengah,
       besar kemungkinan akan membayar "imbalan" setelah Golkar
       penyokong penuh terpilihnya Amien Rais sebagai Ketua MPR.


Rasanya di-Permias@ ini kita semua berbicara mengenai Golkar
(dan Orde Baru) pada bulan April/May tahun 1998, dan juga
mengenai Reformasi. Kini ada yang namanya Golkar Reformasi....:)

Pak Jeffrey, sekali lagi terima kasih atas informasinya.
Sama seperti anda, marilah kita doakan agar apa yang terjadi
pada Negara kita adalah yang terbaik, bukan yang ter-rekayasa
untuk kepentingan

Salam,
bRidWaN

At 01:39 PM 10/4/99 EDT, Jeffrey Anjasmara wrote:
>Bila kita berkilas baik ke jaman sebelum Suharto lengser, hanya satu,
>sekali lagi hanya satu orang di negara berpenduduk 215 juta orang
>yang berani mengkritik pemerintahan Suharto. Orang itu bernama
>Amien Rais. Bukan Gus Dur, bukan Megawati, bukan pula Nasution dkk.
>
>Saat itu, saat seorang rekan mulai mempromosikan nama AR, saya sangat
>menyangsikan bahwa orang kecil mungil tidak ada gagah-gagahnya ini
>sanggup menghidupkan percik-percik keberanian mahasiswa. Tidak ada
>yang dapat menyangkal kontribusi Amien di sini. Bila Bung BRidwan
>mempertanyakannya, mari kita buka arsip-arsip lama. Sebagai catatan
>penting, hanya Amien yang berani bilang terang-terangan agar Suharto
>mundur. Ini terjadi jauh sebelum orang-orang mengangkat diri sendiri
>sebagai reformis.
>
>Dalam kehidupan berpolitik, tidak akan ada musuh abadi dan kawan abadi.
>Semua kerja sama didasarkan kompromi. Tidak juga hubungan antara PDIP dan
>PKB yang akrab saat ini. Tidak juga hubungan antara Amien dengan Habibie,
>atau dengan Akbar Tanjng, ataupun dengan Gus Dur. Tidak juga permusuhan
>antara Amien dengan Wiranto, misalnya. Tidak juga permusuhan antara
>Baramuli dengan Marzuki Darusman, misalnya.
>
>Semua memiliki agenda masing-masing, dan bila menemui kenyataan bahwa
>agendanya tak mampu dijalankan, satu-satunya jalan adalah kompromi. Rasanya
>hal ini sangat natural. Sama dengan kehidupan manusia pada umumnya. Dengan
>demikian, bisa saja Amien akan mendukung Habibie. Semua tergantung siapa
>lawan alternatifnya. Bila dipandang Megawati tidak lebih menguntungkan,
>mengapa mesti memilih Megawati. Demikian pula sebaliknya. Jadi saya menolak
>anggapan bahwa Amien SEBETULNYA mendukung Habibie (dari dulu). Ngapain
>mendukung Habibie kalau diri sendiri punya kans jadi presiden?
>
>Masalah PAN sendiri, wah sama saja. Semuanya bermuara di kata KOMPROMI. Tak
>kurang dari PDIP akan melakukan hal yang sama. Para elite PDIP sudah
>berancang melakukan lobi-lobi maut, termasuk berusaha menggandeng Golkar dan
>TNI, juga poros tengah. Apakah salah? Wah, nggak ada yang salah mas.
>
>Yang saya heran adalah sikap mass media dengan 'kebijakan power sharing'
>dari Akbar Tanjung. Wah, nggak perlu ada kebijakan, nanti dengan sendirinya
>juga bakalan ada yg kayak gini. Kalaupun ternyata Megawati juga terpilih,
>rasanya kabinetnya juga bakal terisi oleh orang-orang Golkar, PAN, dlsb.
>Kenapa? Wah, kalau nggak diwakili nanti sikap oposisi akan terlalu keras,
>sehingga si pemegang kekuasaan akan selalu duduk di atas kursi panas.
>Alamiah lah mas. Maklum saja, ini Indonesia.....;)
>
>Kalau saya boleh ngatur sih, tidak boleh ada yang model gini. Pihak koalisi
>yg menang yang memegang kekuasaan, dan koalisi yang kalah menjadi oposisi.
>Dengan demikian, kita sebagaimana mahasiswa malah dapat manfaat. Tidak ada
>lagi cikal bakal penggerogotan uang negara/rakyat. Cuman saya agak skeptis.
>Mengapa? Habis ciri orang Indonesia adalah DARIPADA RIBUT-RIBUT KITA
>SAMA-SAMA RUGI, MENDING KITA KERJA SAMA AKAN SAMA-SAMA UNTUNG. Betul tidak?
>Mari kita lihat sama-sama, apakah pola-pola "semangat kebersamaan dan
>kekeluargaan" ini tetap dijalankan oleh presiden mendatang.
>
>+Jeffrey Anjasmara
>
>
>'-----------------------
>>From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: [EMAIL PROTECTED]
>>Subject: Re: Bagaimana sikap mahasiswa?
>>Date: Mon, 4 Oct 1999 23:46:17 +0700
>>
>>Maaf Pak Jeffrey, apa yang membuat AR bisa disebut
>>sebagai motor penggerak Reformasi ?
>>
>>Apakah anda kaget apabila ternyata PAN (atau sebagian
>>Pengurusnya) adalah pendukung Habibie ?
>>
>>Ini menurut pandangan saya loh....:)
>>
>>Selamat untuk Pak Amien Rais dan para wakil-nya !
>>
>>
>>Salam,
>>bRidWaN
>>
>>
>>At 09:36 AM 10/4/99 EDT, Jeffrey Anjasmara wrote:
>> >Kemenangan Amien cuma saya komentari dengan kalimat "Syukur
>> >Alhamdulillah".
>> >Sebagai motor penggerak reformasi satu-satunya, sudah sewajarnya Amien
>> >mendapat tempat yang wajar. Maaf kalau saya tidak pernah mengakui Mega
>> >sebagai motor penggerak reformasi.
>> >
>> >Yang saya agak kawatir adalah sifat Amien yang sering "pendek akal",
>> >yaitu
>> >dengan menyuarakan pemikiran-pemikiran radikal, yang sering mirip dengan
>> >Gorbachev, yaitu bagus di jangka pendek, tetapi disintegrasi di jangka
>> >panjang. Apalagi bila persahabatannya dengan CW yang sering bersikap
>> >radikal
>> >masih dilanjutkan, maka saya jadi makin kawatir. Semoga saja Amien ingat
>> >bahwa CW sudah berubah pendirian.
>> >
>> >Dengan mundurnya Gus Dur dari pencalonan presiden (bila yg dikatakan
>> >Yusril
>> >adalah benar), maka sudah ada tanda-tanda keretakan di dalam poros
>> >tengah.
>> >AM Fatwa membuka kemungkinan mencalonkan Habibie, dan Yusril bilang tidak
>> >mungkin mencalonkan dia. Dengan kejadian ini PDIP dapat menjalankan
>> >taktik
>> >pecah belah pada poros tengah. Rasanya dengan kedinamisan situasi, bikin
>> >analisis dari luar cuma buang-buang energi. Calon baru dapat muncul di
>> >menit
>> >terakhir.
>> >
>> >Mending kembali ke posisi kita sebagai mahasiswa. Apa yang dapat ditarik
>> >pelajaran dari sini?
>> >1. Politik dari dulu kala sudah ribet dan kotor. Makanya saya dulu
>> >   sering ribut kalau banyak dari kita membuat statement kalau si A
>> >   tidak mendukung si B dari partai C, maka mengkianati semangat
>> >   reformasi, dlsb.
>> >2. Mahasiswa bingung mana yg reformasi dan mana yg bukan. Pernyataan
>> >   Habibie hari ini rasanya merupakan pernyataan paling reformis,
>> >   dibandingkan sikap-sikap dari Mega. Sungguh ironis dengan
>> >   predikat "status quo" yg kita cap-kan di dahinya. Dari awal saya
>> >   juga sudah bilang bahwa dia lebih reformis dibandingkan Megawati.
>> >   Hal ini bukan berarti saya mendukung Habibie (toh nggak pengaruh),
>> >   karena saya merasa Habibie tokoh yg lemah. Mudah ditekan oleh pihak
>> >   orang lain. Sikap kompromi adalah sikap yg baik. Cuma kita tahu
>> >   dalam kompromi pasti ada yg kita korbankan. Kejadian Timtim adalah
>> >   sikap kompromi yg terlalu besar. Saya tidak tahu lagi dengan
>> >   kemungkinan- kemungkinan sejenis terhadap Aceh, Maluku Selatan, dan
>> >   Irja bila Habibie tetap naik.
>> >3. Mahasiswa selalu menjadi minyak pelumas dari jalannya pergantian
>> >   kekuasaan. Setelah itu, bila piramid lama sudah berhasil digeser
>> >   oleh piramid baru (dengan minyak zaitun melumasi batang pohon
>> >   sebagai rodanya), maka minyak zaitun tersebut tidak diperlukan
>> >   lagi. Akhirnya kehidupan berjalan normal lagi, mahasiswa nggak ada
>> >   kerjaan akhirnya tawuran lagi....;) Hehehe...;)
>> >
>> >Bagaimana dengan sikap mahasiswa? Rasanya jalannya sidang MPR sudah
>> >mencerminkan sikap reformasi. Terciptanya kubu-kubu juga tidak perlu
>> >diributkan. Di mana-mana juga begitu kok. Menurut saya sih mending
>> >mahasiswa
>> >sekarang menuntut perbaikan fasilitas sekolah saja. Pemerintah juga sudah
>> >saatnya memberi fasilitas lab. dlsb. lengkap dengan suasana kondusifnya
>> >seperti kerjasama dg swasta. Lumayan biar tidak ada yg sekolah ke Aussie
>> >si negara rasis itu.
>> >
>> >Ngomong-ngomong tentang Aussie dan Timtim, SMH hari ini memberitakan
>> >bahwa
>> >Caritas Priest dan puluhan aid workers yang mereka gemborkan mati
>> >ternyata
>> >hidup dan baru kembali dari gunung-gunung. Memang sungguh bangsat bangsa
>> >Aussie ini. Bila mereka tidak menemukan orang, langsung berkoar sampai ke
>> >mars bahwa mereka dibantai militia dibantu oleh TNI. Sungguh tidak tahu
>> >malu menfitnah negara tetangganya.
>> >
>> >Mungkin langkah mahasiswa yg perlu adalah mendemo agar pemerintahan yang
>> >baru membatasi hubungan dengan negara Aussie dan NZ itu. Satu hal lagi,
>> >dengan bukti bahwa media barat lebih banyak fitnah daripada berita
>> >benernya,
>> >mestinya tuntutan pengadilan internasional yg mereka gemborkan makin
>> >tidak
>> >berdasar. Setiap tindakan seperti itu (misal gerakan para advokat Aussie)
>> >pasti berlatar belakang ingin menghujam RI dari belakang lagi.
>> >
>> >+jeffrey anjasmara

Kirim email ke