In a message dated 10/28/99 12:15:47 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Dear Netters,
>
>  Memasuki minggu pertama sebagai Presiden dan Wakil Presiden baru Indonesia,
>  Gus Dur dan Megawati berhadapan dengan tiga masalah mendasar:
>
>  1. KKN
>  Kemungkinan Mega dan Gus Dur dapat memberantas korupsi, sampai ke level
>  mana, belum dapat dipastikan. Indikasinya, (1) Gus Dur tidak lantang
>  terhadap pemeriksaan Suharto dan croniesnya, (2) tidak ada signal yang
tegas
>  tentang penalti bagi para koruptor.   Obviously, Mega dan Gus Dur tidak
>  dapat menghindar dari konsep Nepotisme karena kedua-duanya adalah produk
>  Symbols of Nepotism.  Gus Dur dan Mega adalah putra dan putri mahkota.

Irwan:
Jelas aja belum bisa dipastikan, lha pemerintahannya
aja baru terbentuk. Sabar, mbak Ida....kita tunggu aja.
Sambil nunggu, jangan lupa kita kontrol, karena memang
yg bisa ngritik itu ya rakyat. Rakyat ngritik pemerintah itu
bisa, sebaliknya pemerintah ngritik rakyat ya ngga bisa...hehehe.
Tapi kalau belum melakukan apa2 sudah dikritik, ya kurang
tepat juga dong.
Oh ya, ngomong2 capres kuat dari partai Republik di AS,
George Bush Jr (anaknya mantan presiden AS, George Bush),
ngomong2 anda kategorikan Nepotisme ngga?....:)


>  2. Freedom of Expression
>  Kasus Miing di Gebyar BCA dan artikel di TEMPO sudah menunjukkan
>  ketidaksiapan Gus Dur menerima 'keterbukaan.'  Adalah sikap tercela jika
>  kita menghinakan kondisi fisik seseorang, namun memberi ancaman terhadap
>  pelakunya adalah sikap autocracy. So, what is the difference between the
new
>  government with the new order?

Irwan:
Bedanya, Gus Dur ngga ngancem2. Malahan foto bareng setelahnya...:)
Gus Dur di demo pegawai deppen atau depsos, bukannya nyuruh
nembakin orang2 tersebut, tapi malah disamperin.
Yang kelabakan malah paswalpresnya...hehehehee
Apa ada presiden kita sebelumnya yg seperti itu?


>  3. Alocation of Human resources
>  Kabinet disusun dengan pertimbangan 'kompromi politik.' Akibatnya, 1.
>  terjadi kerancuan antara penerjemahan fungsi politik dan fungsi
>  administrasi.  2. terlibatnya lima orang militer sebagai menteri berarti
>  menduduki 14 percent dari kabinet. Jumlah ini lebih banyak daripada jumlah
>  menteri militer pada masa Suharto.  Misalnya, jika jumlah anggota militer 5
>  juta orang  maka  setiap 1 juta anggota militer terdapat satu orang
menteri.
>  Bandingkan dengan menteri sipil. Penduduk sipil  180 juta orang, maka
setiap
>  5.806.000 orang terdapat satu menteri. Terakhir, kesalahan fatal adalah
>  penempatan menteri-menteri yang tidak sesuai ilmu dengan bidangnya.

Irwan:
Inilah dampak negatif atau konsekuensi dari diterapkannya
demokrasi arisan beberapa hari yg lalu.


>  Ketiga point di atas  ini adalah grass root problems sejak pemerintahan
>  Sukarno lalu Suharto. Dan sekarang Gus Dur- Mega mengulangi lagi. Has any
>  different been brought to Indonesia?
>  God knows!

Irwan:
Ngga usah jauh2 deh, saya pribadi ngelihat jelas beda koq
antara yg dulu2 dengan sekarang. Masalah yg dihadapi
oleh Gus Dur kemarin2 ini adalah gimana caranya supaya
bahaya disintegrasi bisa diminimumkan. Itu yg saya tangkap.
Ini pula tampaknya alasan yg saya lihat kenapa akhirnya
Gus Dur yg jadi presiden.

Saya pribadi sekarang mah lebih condong pada memberi
mereka kesempatan sambil terus melakukan kontrol.

Suka atau tidak suka, inilah pemerintahan yg kita miliki
sekarang ini ditengah krisis yg sedang terjadi.
Dari apa yg kita miliki ini, kita harus mampu bekerja sama
untuk mencapai Indonesia yg lebih baik lagi.

Mari kita sama2 bangun Indonesia kita dengan cara
dan kemampuan kita masing2.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke