Aduh mas.... emang tugasnya kayak gitu. Masak nggak tahu sih? Makanya jangan
memandang enteng tugas-tugas mereka. Jangan dikira pekerjaan orang Depsos
cuman ngurusin SDSB. Sebagai departemen mereka dari dulu sudah dibuat
nelangsa. Anggaran sedikit, sementara parameter kesuksesan kerjanya susah
diukur.

Gelandangan itu susah ngurusnya. Lebih susah daripada nganalisis pergerakan
mata uang. Gelandangan digarukin lalau dididik tetap saja masih terlalu
sedikit yang kembali ke orang tua (karena memang di-abuse atau ada yg
diusir). Hayooo....nggak ngerti masalah pembinaan beginian? Kayaknya sering
deh masalah gelandangan ini dibahas di Kompas. Biasanya sih dulu Kompas
Minggu.

Kalau anda mengira gelandangan nggak diurus itu terlalu cepat ambil
kesimpulan. Masalahnya gelandangan yang diurus sepuluh datang ke jakarta 100
orang. Diurus 100 yang datang lagi 1000 orang. Para pegawai depsos ini harus
punya hati seorang santa. Kalau tidak sudah pada mati muda mas..... Dulu
sudah sering denger anak-anak three in one yg kena garuk? Mereka ini
diserahkan kepada orang depsos untuk dididik, tapi mungkin 99% balik lagi ke
jalan. Lagi-lagi ini masalah sosial yg komplek, dan depsos dipersenjatai
dengan anggaran yg demikian kecil mas.

Belum lagi yang pada sakit kusta. Emang siapa yang ngurusin mereka kalau
bukan orang depsos? Tahu sendiri kan bagaimana pandangan masyarakat terhadap
penyakit kusta. Biar keluarga sendiri juga mereka akan tega membuangnya.

Yang saya sebut di email terdahulu itu nggak ada yg dilebihkan. Makanya
sering-sering deh melihat situasi ke bawah. Yang jelas, partisipasi swasta
biasanya berasal dari kalangan gereja, yayasan keislaman. Kebanyakan
berbentuk panti asuhan. Pekerjaan berat ini, justru merupakan pekerjaan
sejenis yg paling gampang dan bersih bagi orang depsos.

Pendidikan bagi pelacur biasanya diberikan dalam bentuk kursus menjahit,
dlsb. Itu sudah maksimum. Jadi tidak ada atau belum ada pemberian kursus
komputer misalnya. Masalahnya ketrampilan ini jadi ketrampilan murahan. Satu
dari sepuluh orang WTS yg berhasil dididik dan akhirnya benar-benar mentas
dari dunia hitam mungkin sudah bagus deh. Nah, anda bisa nggak mengukur
kesuksesan pekerjaan mereka? Masalahnya ukuran sukses untuk mengentaskan
kesusilaan wanita yg terjerumus kan tidak dapat diukur berapa yg keluar dari
profesi melacurnya. Faktor ekonomi kan main juga. Kalau ekonomi anjlok,
jelas WTS dan gelandangan nambah. Kalau pemerintah punya hati yang
benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, efek sosial ini juga harus
langsung disoroti. Bukan hanya berpening diri memikirkan bagaimana ekonomi
maju.

Coba lah jalan-jalan. Lalu lihat biasanya gedung tua tak terurus, lalu ada
tulisan panti kusta, panti wreda, panti asuhan ini itu. Keikutsertaan swasta
yg diharapkan nggak pernah muncul tuh. Yang ada malah mengkomersialkan panti
asuhan untuk menjual anak-anak ini kepada keluarga yg membutuhkan. Ini
memang cuman oknum.

Nah, welcome to the world mas. Jangan melihat gemerlap rupiah saja, lalu
memandang rendah tugas orang depsos yg sudah dari dulu direndahkan. Bukannya
anggaran yg dari dulu sudah memelas itu ditambah, eh, malah dibubarkan. Di
mana hati nurani Gus Dur itu sih? Jangan-jangan Gus Dur berjabat tangan sama
WTS saja mesti nyuci 1000 kali.

Bila kita mau bandingkan dengan AS, kita akan repot sendiri. Di sini
pengangguran dibayar. Ada program social security. Di Indonesia boro-boro
membayar orang nganggur. Membayar orang yg tidak menganggur saja sering
disunat. Nah, tahu kan kenapa pemerintah harus turun tangan mengurusi hal
ini?


Jeffrey Anjasmara

-----------------------------
>From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: DEPSOS = gelandangan, pelacur, orang cacat
>Date: Fri, 29 Oct 1999 18:55:22 EDT
>
>Ah, anda terlalu melebih2an situasi....:)
>Apa memang depsos kerjaan seperti itu?
>Coba deh lihat tuh di detik.com
>Lha, wong gelandangan yg didepan mata mereka
>aja ngga diurus koq malah dipake buat demo......:)
>
>Ngomong2 tugasnya Menko Kesejahteraan Rakyat
>itu apa ya? Mungkin disini ada yg menguasai?
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke