Pada saat komite pemilihan menteri berebut jabatan, mereka sampai-sampai
bertengkar untuk memperebutkan jabatan menteri mentamben. Mengapa pula
sampai Amien menggebrak meja saking kesalnya melihat saling ngotot itu?
Terdapat cerita bahwa Gus Dur akhirnya memberikan jabatan mentamben kepada
ABRI biar Amien, Mega, dan Akbar dapat terdiam. Jelas mereka tidak berani
berkutik.
Yang jelas terdapat beberapa departemen yang miskin, yang lebih banyak
minusnya daripada untungnya. Salah satu departemen yang sama sekali tidak
menarik adalah Departemen Sosial. Bagaimana dapat menarik kalau tugas
departemen ini hanyalah mengurus orang-orang pinggiran atau yg memang
dipinggirkan?
Sangat banyak dari kita yang tidak paham bagaimana cara kerja Depsos ini.
Bagaimana mereka harus mendidik pelacur untuk bekerja terampil bukanlah
mudah. Banyak pelacur ini yg setelah terjun ke masyarakat dengan
kemampuannya tadi akhirnya harus kembali ke dunia hitam. Orang yang tidak
paham tentu saja akan mudah men-judge bahwa depsos tidak produktif. Ini
adalah pemikiran yg terburu-buru. Mengangkat derajat para pelacur atau
gelandangan bukan pekerjaan mengangkat barang hidup. Mereka ini produk
kegagalan sektor ekonomi, bukan hasil sektor sosial per se.
Kelangkaan minat masyarakat untuk ikut membantu mengangkat nasib kaum
pinggiran ini dari dulu sulit diubah. Para pegawai Depsos ini yang bertindak
sebagai the last crusader. Siapa yang harus mengurusi korban HIV yang
dibuang keluarganya? Siapa yang menampung bayi dan gelandangan yang dibuang
oleh keluarganya? Siapa yang menampung para jompo yang ditelantarkan
keluarganya? Tidak ada orang lain yang mau. Jelas jauh lebih enak mengurusi
minyak, atau bank, daripada mengurusi yang beginian.
Di AS, banyak badan yang menangani masalah sosial ini. Tugas komuniti di
negara maju ini untuk memperhatikan orang pinggiran ini masih jauh dari
cukup. Masyarakat Indonesia yang memang masih harus sibuk mengurusi perut
sendiri tentu tidak dapat diharapkan untuk ikut memikirkan hal ini. Ada
sebagian kecil, yang kebanyakan berafiliasi keagamaan yg mendirikan yayasan
yatim piatu seperti gereja, padepokan Islam, dan lain sebagainya. Lain dari
itu dapat dihitung dengan jari. Berapa yg mau berurusan dengan pelacur?
Gelandangan?
Sejauh ini hanya Romo Mangun yg secara konkrit menjadi orang swasta yg mau
menangani masalah sosial. Dia membangun komunitas di pinggir kali, yang
terdiri dari orang pinggiran itu. Dengan kondisi kemasyarakat seperti itu,
maka pemerintah yg harus memperhatikan mereka-mereka ini. Herannya Depsos
sebagai satu-satunya harapan mereka malah dibubarkan. Sungguh heran bin
ajaib. Tak heran Ibu Theresa jadi mirip malaikat. x
Tentu saja hal ideal adalah masyarakat yg memelihara orang pinggiran. Tapi
apa kenyataan di lapangan menunjukkan hal itu? Get real....:) Depsos baru
tidak diperlukan kalau sistem catu buat para pengangguran ada, semacam di
Aussie dan AS, dan juga negara maju lainnya.
Akhir kata, matinya Depsos juga berarti matinya harapan kaum marginal untuk
mengangkat harkat hidup mereka.
Jeffrey Anjasmara
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com