In a message dated 10/30/99 3:27:46 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Aduh mas.... emang tugasnya kayak gitu. Masak nggak tahu sih? Makanya jangan
> memandang enteng tugas-tugas mereka. Jangan dikira pekerjaan orang Depsos
> cuman ngurusin SDSB. Sebagai departemen mereka dari dulu sudah dibuat
> nelangsa. Anggaran sedikit, sementara parameter kesuksesan kerjanya susah
> diukur.
Irwan:
Yang namanya tugas itu bisa enteng bisa berat
tergantung dari bagaimana kita menerima dan memandang
tugas tersebut. Kalau orang hidupnya biasa dilayani
trus dapat kerjaan harus melayani ya jadi terasa beratlah,
tapi kalau dedikasi hidupnya memang untuk melayani
ya dapat pekerjaan melayani ngga akan terasa berat lah...:)
Kalau boleh tahu, berapa sih anggaran yg diberikan ke
depsos selama kabinet2 yg lalu?
Coba deh anda bandingkan anggaran yg diterima depsos
dengan departemen2 lainnya. Apa memang benar anggarannya
sedikit? Coba deh kita periksa faktanya. Khan akan
lebih enak kalau kita bicara data.
Jeffrey:
> Gelandangan itu susah ngurusnya. Lebih susah daripada nganalisis pergerakan
> mata uang.
Irwan:
Oh ya? Sudah pernah ngurus gelandangan?
Sudah pernah bikin analisa pergerakan mata uang?
Kalau ternyata anda belum dua2nya, koq bisa tahu
ngurus gelandangan lebih susah ketimbang bikin
analisa pergerakan mata uang?
Kalau bikin analisa sembarangan sih, ya anak SD juga
bisa....hehehhee. Atau tinggal lempar koin aja untuk
nentuin naik atau turunnya....:)
Jeffrey:
> Gelandangan digarukin lalau dididik tetap saja masih terlalu
> sedikit yang kembali ke orang tua (karena memang di-abuse atau ada yg
> diusir).
Irwan:
Kita lagi bicara gelandangan orang dewasa atau anak2,
atau dua2nya sekaligus?
Jeffrey:
> Hayooo....nggak ngerti masalah pembinaan beginian? Kayaknya sering
> deh masalah gelandangan ini dibahas di Kompas. Biasanya sih dulu Kompas
> Minggu.
Irwan:
Anda pernah melakukan pembinaan gelandangan?
Jeffrey:
> Kalau anda mengira gelandangan nggak diurus itu terlalu cepat ambil
> kesimpulan. Masalahnya gelandangan yang diurus sepuluh datang ke jakarta
100
> orang. Diurus 100 yang datang lagi 1000 orang.
Irwan:
Kalau asumsi yg digunakan seperti ini, ya solusinya gampang
saja, jangan diurus satu orang pun. Maka tidak ada yg datang...:)
Saya tetep ngga sreg ngelihat demo pake bawa gelandangan.
Mbok ya dikasih baju yg bersih dan sepatu atau sandal dulu,
baru diajak demo. Trus tinggal bawa poster dengan tulisan,
"Kami gelandang yg dikasih baju dan sepatu oleh depsos"
Nah, kalau begini khan kelihatan tuh fungsinya depsos....:)
Jeffrey:
> Para pegawai depsos ini harus
> punya hati seorang santa. Kalau tidak sudah pada mati muda mas.....
Irwan:
Wah, kalau gitu penghapusan depsos tepat dong yaitu menyelamatkan
para pegawai depsos agar terhindar resiko mati muda....:)
Seharusnya mereka terima kasih, toh tidak semua orang
bisa punya hati seorang santa. Sayang khan kalau orang2
depsos pada mati muda. Tapi koq ngomong2 mereka tampaknya
sehat2 saja tuh. Apa ini artinya mereka semua berhati santa?...:)
Jeffrey:
> Dulu
> sudah sering denger anak-anak three in one yg kena garuk? Mereka ini
> diserahkan kepada orang depsos untuk dididik, tapi mungkin 99% balik lagi
ke
> jalan. Lagi-lagi ini masalah sosial yg komplek, dan depsos dipersenjatai
> dengan anggaran yg demikian kecil mas.
Irwan:
Lah, anak2 dibawah umur mah jangan disuruh cari duit dong.
Mereka disuruh ke sekolah, belajar. Minta bantuan
depdikbud agar dicarikan beasiswa. Bukannya malah dilatih
kerja, ini mah udah salah besar namanya. Gue makin
setuju dah depsos dihapus kalau gini doang kerjaannya...;)
Bagaimana masa depan bangsa kalau anak2 kecil udah
disuruh kerja bukannya belajar, nimba ilmu.
Jeffrey:
> Belum lagi yang pada sakit kusta. Emang siapa yang ngurusin mereka kalau
> bukan orang depsos? Tahu sendiri kan bagaimana pandangan masyarakat
terhadap
> penyakit kusta. Biar keluarga sendiri juga mereka akan tega membuangnya.
Irwan:
Bagaimana dengan tugas dari Menko Kesejahteraan Rakyat?
Bagaimana dengan pemberdayaan yayasan2?
Jeffrey:
> Yang saya sebut di email terdahulu itu nggak ada yg dilebihkan.
Irwan:
Menurut saya sih tetap saja berlebihan. Bahkan di email ini pun
saya masih merasakan hal2 yg terlalu didramatisir.
Lihat deh komentar2 gue di atas.
Jeffrey:
> Makanya
> sering-sering deh melihat situasi ke bawah.
Irwan:
Hehehe...tampaknya anda sudah sering ya?....:)
Hmmm.....gue mau nulis pengalaman2 gue,
ntar dikira sombong lagi. Rekan2 dimilis ini yg
udah lama gabung tahu kalau hak suara gue di
pemilu kemarin gue salurin melalui PDIP walau gue
dukung tiga partai reformasi (PDIP, PAN, PKB).
Dasar milih PDIPnya cuma karena punya garis
perjuangan yg sama yaitu membela rakyat kecil.
Nah, kenapa sampai gue punya tekat untuk konsisten
bela rakyat kecil? Ya karena memang cukup lumayan
pengalaman gue terjun langsung ke lapangan,
mulai dari sunatan anak2 yatim piatu di daerah kumuh
sampai survey ke lokasi WTS di rel daerah Latuharhari,
Jakarta. Tahu ngga anda tarip WTS yg wanita asli (bukan yg
wadam) di daerah itu?...:)
Jeffrey:
> Yang jelas, partisipasi swasta
> biasanya berasal dari kalangan gereja, yayasan keislaman. Kebanyakan
> berbentuk panti asuhan. Pekerjaan berat ini, justru merupakan pekerjaan
> sejenis yg paling gampang dan bersih bagi orang depsos.
Irwan:
Ngga nangkep nih maksud paragraf di atas.
Jeffrey:
> Pendidikan bagi pelacur biasanya diberikan dalam bentuk kursus menjahit,
> dlsb. Itu sudah maksimum. Jadi tidak ada atau belum ada pemberian kursus
> komputer misalnya. Masalahnya ketrampilan ini jadi ketrampilan murahan.
Satu
> dari sepuluh orang WTS yg berhasil dididik dan akhirnya benar-benar mentas
> dari dunia hitam mungkin sudah bagus deh. Nah, anda bisa nggak mengukur
> kesuksesan pekerjaan mereka? Masalahnya ukuran sukses untuk mengentaskan
> kesusilaan wanita yg terjerumus kan tidak dapat diukur berapa yg keluar
dari
> profesi melacurnya. Faktor ekonomi kan main juga. Kalau ekonomi anjlok,
> jelas WTS dan gelandangan nambah. Kalau pemerintah punya hati yang
> benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, efek sosial ini juga harus
> langsung disoroti. Bukan hanya berpening diri memikirkan bagaimana ekonomi
> maju.
Irwan:
Lha, kalau soal latih melatih, apa ini ngga overlapping
dengan tugas Menaker?
Jeffrey:
> Coba lah jalan-jalan. Lalu lihat biasanya gedung tua tak terurus, lalu ada
> tulisan panti kusta, panti wreda, panti asuhan ini itu. Keikutsertaan
swasta
> yg diharapkan nggak pernah muncul tuh. Yang ada malah mengkomersialkan
panti
> asuhan untuk menjual anak-anak ini kepada keluarga yg membutuhkan. Ini
> memang cuman oknum.
Irwan:
Waduh, koq anda gampang banget yg menggeneralisir satu
atau beberapa kasus menjadi suatu kesimpulan ya?
Lha, panti2 asuhan yg saya lihat dan kunjungin ngga seperti
yg anda ceritakan tuh...:)
Jeffrey:
> Nah, welcome to the world mas. Jangan melihat gemerlap rupiah saja, lalu
> memandang rendah tugas orang depsos yg sudah dari dulu direndahkan.
Irwan:
Duit malah banyak yg kusam karena kebanyakan pindah
tangan....:)
Yang gemerlap mah berlian namanya....:)
Jeffrey:
> Bukannya
> anggaran yg dari dulu sudah memelas itu ditambah, eh, malah dibubarkan. Di
> mana hati nurani Gus Dur itu sih? Jangan-jangan Gus Dur berjabat tangan
sama
> WTS saja mesti nyuci 1000 kali.
Irwan:
Tuh khan, anda ngga suka orang nuduh2 soal depsos,
tapi anda sendiri melakukan hal tuduh menuduh kepada
orang/pihak lain. Apa ini fair menurut anda? Mbok ya
konsisten dong kalau punya sikap....:)
Kerjaan Mensos menurut saya bisa ditangani oleh
Menko Kesejahteraan Rakyat.
Jeffrey:
> Bila kita mau bandingkan dengan AS, kita akan repot sendiri. Di sini
> pengangguran dibayar. Ada program social security. Di Indonesia boro-boro
> membayar orang nganggur. Membayar orang yg tidak menganggur saja sering
> disunat. Nah, tahu kan kenapa pemerintah harus turun tangan mengurusi hal
> ini?
Irwan:
Hehehe....apa orang2 di Indonesia merupakan pembayar
pajak yg baik? Program social security itu khan diambil dari
pajak. Nah, kalau pajaknya aja banyak dikerjain, ya dari mana
dong anggaran untuk itu. Tapi saya yakin, pemerintah
yg sekarang akan mengarah ke sana. Satu saat nanti,
kita akan seperti AS soal memikirkan rakyat.
Bertahaplah, satu2 diberesin....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu