>Ya .. kalo coba masuk AKABRI, mungkin deh. Orang mereka coba masuk tamtama
>doang. Mengenai tentara di Tim-Tim, anda tau nggak orang-orang pribumi
>Tim-tim jadi apa di tentara? Ada nggak yang jadi pentolan (ie. pangkat
>tinggi) di 754 atau 755? Ya ... emangnya ABRI ORDE BARU nggak mikir apa,
>bikin seluruhnya orang luar TIM-TIM yang jadi tentara di Tim-tim?
Sama saja, masuk tamtama juga tidak gampang mas. Yang ingin masuk berjibun.
Kalau mau modal ingin lalu harus masuk, jumlah tentara kita bisa mencapai 30
juta.

Mas, batalyon dipimpin oleh letkol. Di bawah letkol cuma beberapa kapten,
baru banyak yg lain. Bisa saja direkrut lebih banyak lagi. Masalahnya jumlah
tentara juga dihitung oleh LSM dan Aussie.

>Sewaktu pemilihan
>(screening exam) akhir tamatan SMA untuk dibeasiswain BPPT ke luar negri
>untuk program S1, 4 (first year) mahasiswa FKUI terpilih secara akademik.
>Hanya 2 dikirim. 2 (satu keturunan cina + ambon) tidak terpilih untuk
>dikirim ke luar negri. Bukan mereka bodoh! Waktu graduation FKUI,
>mereka termasuk the best graduates from FKUI. Apakah mereka salah kalo
>bilang ini diskriminasi. Tidak dikasi peluang maju?

Gile bener, FKUI diterima 2 orang out of 4 orang masih kurang? Gile bener
itu 50 persen? Emang mau diterima berapa orang? Semuanya? Di tempat saya
yang mendaftar 20 orang yang diterima 1 orang. Akademiknya jelas bagus, itu
kalau mau dibandingkan dengan sekedar mahasiswa FKUI saja sih. Look around
man....:)

>Lho kita nggak bisa memandang remeh AGAM. Kita tidak tahu pasti apakah
>AGAM dapat support dari seluruh rakyat Aceh? Kalo rakyat Aceh nggak setuju
>dengan AGAM, kok kita nggak mendengar kecaman dari rakyat Aceh terhadap
>AGAM? Saya hanya menebak-nebak aja. Ini pertanyaan yang fair, saya rasa.
>Kita sudah punya contoh kok. Fretilin! Dulu dianggap group membabi-buta,
>ini-itu, dll. Nggak punya support dari rakyat Tim-tim lah. Nah referendum
>membuktikan, ide meereka secara tidak langsung di support hampir seluruh
>rakyat Tim-tim.

Lho, emang terjadi pergeseran pandangan masyarakatnya kok. Tapi lihat dong
di koran Waspada, bagaimana mahasiswa berusaha mengklaim bahwa gerakan
mereka murni di luar AGAM.

>Menunjuk mentri HAM dari aceh? Do you think that is enough? Of course not.

Yang penting kan komitmen. Lalu apa yang nggak enough? Mau presidennya dari
Aceh? Coba apa ukuran enough dan nggak enough-nya? Enough-nya sudah saya
tebak yaitu memberikan referendum kan? Dalam suasana panas begini, tidak
usah referendum juga sudah ketahuan hasilnya.

>Ini mah nggak konkrete. Ini cuman coba cari simpati.
>Kalo kita terus "hard-headed" memaksakan bersatunya Aceh. Justru akan
>jadi bumerang dan we will loose Aceh. Kita musti melihat ke akarnya.
>
>Point utama, walaupun kita force yang besar dibanding Aceh + saya rasa
>kita sebagian besar menginginkan persatuan Indonesia kita, kita musti
>peka terhadap perasaan dan pengalaman pahit saudara-saudara kita yang
>telah sedemikian tahun terinjak-injak. Jangan sepertinya kita memaksakan
>kehendak, asal enaknya kita aja. Gitu.

Justru itu, komitmen sudah dibuat, lalu mengapa pula minta referendum? Ini
yang hardheaded siapa? Siapa pula yg memaksakan kehendak? Siapa yang mau
main enak pada saat Indonesia lagi susah seperti saat ini?

JA

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke