Itu sih bukannya menyeimbangkan mas. Seimbang itu kalau memang sumber
beritanya juga setara, sejajar, dan selevel (misalnya media massa yang sudah
mempunyai SIUPP). Itu bukannya contoh berita yang mem"provokasi" ?
Saya juga punya banyak bukti dan berkas laporan pandangan mata di sana.
Tapi kalau saya sampaikan disini, pasti akan langsung dibantah oleh kalangan
non Muslim.
Kalau mau berbicara masalah dendam-mendendam, harusnya kembali lagi ke
permasalahan awalnya terjadi kasus Ambon. Yaitu bahwa kesucian Iedul Fitri
1419 H telah dinodai oleh kaum yang tidak bisa menjalankan kehidupan
toleransi keagamaan dengan baik. Mana mungkin umat Islam menodai hari besar
keagamaannya sendiri ? OK, mungkin anda akan bilang itu adalah ulah
provokator. Tapi apakah ini adalah kerjaannya provokator, bahwa kasus Ambon
sudah berlangsung hampir 1 tahun ?
YMT
>Irwan:
>Mbak Yuni, kalau anda perhatikan fwd-an yg saya kirimkan,
>tidak ada usaha saya untuk menyangkal berita2 yg diforwardkan
>dari media online seperti republika misalnya. Apa yg coba saya
>lakukan adalah menyeimbangkan berita yg sekilas saya lihat
>kurang seimbang khususnya dalam kasus Ambon.
>Selain itu, tujuan saya adalah untuk menambah informasi rekan2
>disini yg mungkin tidak termuat secara cukup detil oleh media nasional.
>Ya, kita sama2 maklum deh adanya bahaya tekanan oleh kelompok
>tertentu bila media cetak atau online memuat suatu berita yg
>memojokkan atau kurang mengenakkan umat Islam. Dan ini sudah
>sering terbukti bagaimana media cetak tersebut di demo habis2an
>walaupun yg diberitakan oleh media tersebut adalah sebuah fakta.
>
>Karenanya saya bantukan bagi2 informasi ini khusus untuk
>rekan2 yg memang punya pikiran terbuka dan tidak menutup diri
>dari kemungkinan fakta yg terjadi di lapangan.
>
>Tujuan akhir dari fwd informasi tersebut adalah agar kita sama2
>mengetahui bahwa yg terjadi di Maluku tersebut adalah peristiwa
>balas dendam yg tidak kunjung habisnya dari kedua pihak.
>Solusinya kelihatannya gampang, tapi sulit untuk dipraktekkan
>di lapangan karena terkait dengan emosi khususnya keluarga korban.
>
>Karenanya saya hanya bisa tersenyum saja bila melihat
>ada rekan2 disini yg menyudutkan salah satu pengikut agama
>tanpa mau melihat apa yg dilakukan oleh pengikut agamanya.....:)
>
>Seperti yg saya tuliskan sebelumnya, kita tidak perlu mencari
>siapa yg benar bila hal itu hanya membuat darah tertumpah lagi.
>Yang kita lebih perlukan adalah bagaimana caranya agar darah
>tidak lagi tertumpah di Maluku.
>Nyawa itu pemberian dari Tuhan, karenanya hanya Tuhanlah
>yg berhak untuk mencabut kembali dari raga kita. Jadi,
>bukan manusia dengan dalih apa pun.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu