In a message dated 1/3/00 10:37:08 PM Eastern Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Itu sih bukannya menyeimbangkan mas.  Seimbang itu kalau memang sumber
>  beritanya juga setara, sejajar, dan selevel (misalnya media massa yang
sudah
>  mempunyai SIUPP).  Itu bukannya contoh berita yang mem"provokasi" ?

Irwan:
Oh ya? Apakah menurut anda berita2 yg sempat diforwardkan
di milis ini walau dikirim dari media yg punya SIUPP sekalipun
bukan contoh berita yg mem-"provokasi"? Apakah menurut anda
berita2 dari republika online cukup seimbang dalam menyampaikan
laporan situasi?
Dalam forwardkan yg saya lakukan, saya tetap mengingatkan
bahwa sumber berita saya yakini dari kalangan Kristen yg karenanya
perlu dilakukan check and recheck mengenai kebenaran isinya.
Saya pun juga katakan bahwa forward yg saya kirimkan bisa jadi
belum pernah diketahui oleh rekan2 dari media yg anda ketahui.

Bung Yumartono, kita sebagai kaum yg punya kemampuan berpikir
lebih hendaknya jangan membatasi diri akan informasi2.

Bung Yumartono, anda tentu masih ingat bagaimana Kompas
di demo habis2an bahkan dituntut ganti rugi hanya karena
memuat berita tentang peristiwa di Aljazair yg terkait dengan Islam.
Apa anda pikir media cetak nasional cukup punya keberanian lagi
untuk memuat berita2 yg bisa jadi terlihat memojokkan umat muslim,
apalagi ditambah kondisi dan situasi yg seperti akhir2 ini,
pengadilan rakyat ada dimana2.

Mudah2an anda bisa sadari situasi yg ada saat ini.

YMT:
>  Saya juga punya banyak bukti dan berkas laporan pandangan mata di sana.
>  Tapi kalau saya sampaikan disini, pasti akan langsung dibantah oleh
kalangan
>  non Muslim.

Irwan:
Silahkan anda forwardkan kalau hal itu anda anggap perlu
kita ketahui bersama. Kenapa harus ditutup2i?
Kenapa pula anda jadi takut tulisan anda itu nanti akan dibantah?
Saya pribadi ketika memforwardkan berita2 tersebut tidak pernah
takut berita tersebut akan dibantah.
Saya memforwardkan bukan dalam rangka mencari pembenaran,
tapi lebih kepada memberikan informasi tentang apa yg sebenarnya
terjadi di Maluku.

>  Kalau mau berbicara masalah dendam-mendendam, harusnya kembali lagi ke
>  permasalahan awalnya terjadi kasus Ambon.  Yaitu bahwa kesucian Iedul Fitri
>  1419 H telah dinodai oleh kaum yang tidak bisa menjalankan kehidupan
>  toleransi keagamaan dengan baik.  Mana mungkin umat Islam menodai hari
besar
>  keagamaannya sendiri ?  OK, mungkin anda akan bilang itu adalah ulah
>  provokator.  Tapi apakah ini adalah kerjaannya provokator, bahwa kasus
Ambon
>  sudah berlangsung hampir 1 tahun ?

Irwan:
Seperti yg saya minta ke anda, bisa anda kirimkan kronologis
peristiwanya saat itu?
Saya belum tahu peristiwa awalnya, nanti saya coba cari tahu
apa yg kira2 jadi penyebabnya saat itu.
Mudah2an anda sudah mencari informasi dari berbagai sumber.
Kalau kita hanya menggunakan referensi dari kalangan kita sendiri,
ya sudah jelaslah yg salah selalu orang lain.....:)

Yg saya sayangkan, kenapa koq cara berpikir anda mencari
asal muasal dendam dan bukan bagaimana caranya agar dendam
tersebut bisa diakhiri.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke