Sayang, pengamat amatiran permainan bola ini yang semestinya berada di
luar lapangan dan di ketinggian (supaya melihatnya bisa jelas) malah
ikutan nendang bola. Sehingga pengamatannya menjadi sangat terbatas yang
ada di depannya saja. Tidak hanya itu, pengamat ini seringkali membawa
bola sendiri dan ditendangkannya juga ke tengah lapangan, sehingga ada
pemain yang terpaksa menoleh kanan-kiri karena ada beberapa bola ikut
berseliweran. Terlihat bahwa si pengamat juga menjadi sangat sibuk
dengan 'bola-bola'nya sendiri. Namun, si pengamat tetap saja memaksakan
diri untuk mengomentari jalannya permainan bola.
Salam,
Budi
Nasrullah Idris wrote:
>
> From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Wednesday, April 12, 2000 20:37
> Subject: Re: Laporan Pandangan Mata dari Lapangan Permias-Net
>
> Ngomong2, Pak Nasrullah saya lihat sering lempar bola sembunyi tangan
> [sering nyikut2 soal agama, tapi disisi lain ketika dimintai penjelasan
> lebih lanjut, anda ogah menjawabnya karena mengatakan lebih senang bicara
> matematik. moga2 anda juga mau konsisten untuk kali berikutnya].
> ==================================
> Untuk apa menyembunyikan tangan. Toh orang sudah tahu bahwa yang
> melemparkan bola itu adalah saya. Bukankah bola yang saya lempar selalu
> disertai identitas saya. Lihat saja disamping bola yang anda maksud itu. Ada
> nama saya kan?
> Sering nyikut soal agama? Jangan nyikut dong istilahnya. Tetapi sentuh
> atau belai gitu. Lebih sejuk kan terasanya.
> Untuk memainkan bola kan tidak harus aktif mengolah bola. Cukup sekali
> tendang saja asal tendangan itu menciptakan efek domino. Duk dak duk dak duk
> dak duk dak duaaaaaaaaak .... gooooooooooooooooool !!!!!
> Menciptakan itu tidak mudah. Diperlukan pengamatan terhadap gaya
> kaki/kemiringan kaki setiap pemain.
> Mulanya kita tulis dalam sketsa kasar. Lalu digodok dalam dapur
> "Matematika" sampai menghasilkan solusi. Akhirnya dikembalikan ke posisi
> awal serta diambillah langkah tendangan.
> Terus terang .... pola saya dalam milis ini juga sedikit diilhami juga
> oleh pernyataan anda <2 tahun yang lalu>. Tetapi maaf <karena satu dan lain
> hal> saya nggak bisa mengatakan : pernyataan anda yang mana? Cukup saya
> mengucapkan terima kasih. Oke ?
> Itulah uniknya sebuah inspirasi. Tul, nggak? Kalau mau masuk ya masuk
> saja ke otak seseorang. Bagaimana pun hebatnya pertentangan pendapat antara
> "yang menginspirasikan" dan "yang diinspirasikan".
> Ngomong2 saudara anda : Erwin P. Napitupulu ajak dong ke milis ini.
> Supaya rame. Gittuuuuuuuuu!
> Siapa tahu dengan kehadirannya... data2 yang anda dapatkan, bisa
> semakin banyak.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
> ----------------------
> Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
> http://bdg.centrin.net.id/~acu