mungkin maksudnya mas Budi pengamatnya tidak independen.
malah berat sebelah karena ikut bermain bola juga.
bukan begitu ? :)

faran

>Date:         Wed, 12 Apr 2000 11:36:47 -0700
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject:      Re: Laporan Pandangan Mata dari Lapangan Permias-Net
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sayang, pengamat amatiran permainan bola ini yang semestinya berada di
>luar lapangan dan di ketinggian (supaya melihatnya bisa jelas) malah
>ikutan nendang bola. Sehingga pengamatannya menjadi sangat terbatas yang
>ada di depannya saja. Tidak hanya itu, pengamat ini seringkali membawa
>bola sendiri dan ditendangkannya juga ke tengah lapangan, sehingga ada
>pemain yang terpaksa menoleh kanan-kiri karena ada beberapa bola ikut
>berseliweran. Terlihat bahwa si pengamat juga menjadi sangat sibuk
>dengan 'bola-bola'nya sendiri. Namun, si pengamat tetap saja memaksakan
>diri untuk mengomentari jalannya permainan bola.
>
>
>Salam,
>Budi
>
>Nasrullah Idris wrote:
>>
>> From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>> Date: Wednesday, April 12, 2000 20:37
>> Subject: Re: Laporan Pandangan Mata dari Lapangan Permias-Net
>>
>>      Ngomong2, Pak Nasrullah saya lihat sering lempar bola sembunyi tangan
>> [sering nyikut2 soal agama, tapi disisi lain ketika dimintai penjelasan
>> lebih lanjut, anda ogah menjawabnya karena mengatakan lebih senang bicara
>> matematik. moga2 anda juga mau konsisten untuk kali berikutnya].
>> ==================================
>>      Untuk apa menyembunyikan tangan. Toh orang sudah tahu bahwa yang
>> melemparkan bola itu adalah saya. Bukankah bola yang saya lempar selalu
>> disertai identitas saya. Lihat saja disamping bola yang anda maksud itu. Ada
>> nama saya kan?
>>      Sering nyikut soal agama? Jangan nyikut dong istilahnya. Tetapi sentuh
>> atau belai gitu. Lebih sejuk kan terasanya.
>>      Untuk memainkan bola kan tidak harus aktif mengolah bola. Cukup sekali
>> tendang saja asal tendangan itu menciptakan efek domino. Duk dak duk dak duk
>> dak duk dak duaaaaaaaaak .... gooooooooooooooooool !!!!!
>>      Menciptakan itu tidak mudah. Diperlukan pengamatan terhadap gaya
>> kaki/kemiringan kaki setiap pemain.
>>      Mulanya kita tulis dalam sketsa kasar. Lalu digodok dalam dapur
>> "Matematika" sampai menghasilkan solusi. Akhirnya dikembalikan ke posisi
>> awal serta diambillah langkah tendangan.
>>      Terus terang .... pola saya dalam milis ini juga sedikit diilhami juga
>> oleh pernyataan anda <2 tahun yang lalu>. Tetapi maaf <karena satu dan lain
>> hal> saya nggak bisa mengatakan : pernyataan anda yang mana? Cukup saya
>> mengucapkan terima kasih. Oke ?
>>      Itulah uniknya sebuah inspirasi. Tul, nggak? Kalau mau masuk ya masuk
>> saja ke otak seseorang. Bagaimana pun hebatnya pertentangan pendapat antara
>> "yang menginspirasikan" dan "yang diinspirasikan".
>>      Ngomong2 saudara anda : Erwin P. Napitupulu ajak dong ke milis ini.
>> Supaya rame. Gittuuuuuuuuu!
>>      Siapa tahu dengan kehadirannya... data2 yang anda dapatkan, bisa
>> semakin banyak.
>>
>> Salam,
>>
>> Nasrullah Idris
>> ----------------------
>> Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
>> http://bdg.centrin.net.id/~acu




------------------------------------------------------------
Happy New Millenium from the staff at DCEmail.com
http://www.dcemail.com -  FREE Email for the Community

Kirim email ke